Kapolres Malang AKBP Hendri Umar saat menunjukkan beberapa barang bukti yang digunakan pelaku untuk membunuh korban, Rabu (21/10/2020) (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES) 
Kapolres Malang AKBP Hendri Umar saat menunjukkan beberapa barang bukti yang digunakan pelaku untuk membunuh korban, Rabu (21/10/2020) (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Peristiwa pembunuhan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Malang. Kali ini menimpa seorang kakek bernama Juarto (70) warga Desa Kepatihan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. 

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar mengatakan bahwa awalnya dikira merupakan sebuah penemuan mayat biasa. Korban Juarto (70) ditemukan dalam keadaan telanjang tanpa busana.

"Mayat ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Karena setelah diperkirakan sekitar 5 hari dari korban ini meninggal dunia, baru ditemukan mayatnya. Diperkirakan waktu kematian dari korban adalah tanggal (11/10/2020)," ungkapnya ketika rilis kasus pembunuhan di Mapolres Malang, Rabu (21/10/2020). 

Setelah ditemukan mayat yang dalam kondisi telanjang, jajaran Satuan Reskrim Polres Malang membawa mayat tersebut ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang untuk tahapan otopsi. 

"Hasil dari otopsi ditemukan beberapa luka. Luka di bagian kepala, juga di bagian siku tangan yang bersangkutan. Itu luka-luka dari barang tumpul dan dari benda tajam. Tidak beraturan lukanya dan lumayan cukup dalam lukanya," jelasnya. 

Hendri mengatakan bahwa setelah menemukan mayat tersebut, jajaran Sat Reskrim Polres Malang melakukan upaya-upaya penyelidikan selama dua hari. 

"Setelah melaksanakan proses penyelidikan selama dua hari, kemudian menemukan titik terang. Dan ditemukan pelaku dari pembunuhan ini," ujarnya. 

Pelaku pembunuhan seorang kakek tersebut yakni MSL (60) dan SMR (36). Di mana kedua pelaku dan satu korban tersebut beradal dari wilayah yang sama yakni Desa Kepatihan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. 

Berdasarkan pengumpulan barang bukti dan keterangan dari para pelaku dan saksi, Hendri menjelaskan kronologi pembunuhan kakek atas nama Juarto (70) tersebut. 
"Tanggal 11 (Oktober, red) berawal dari jam 18.00, korban dengan salah seorang pelaku dengan inisial SMR, ini meninggalkan rumahnya menuju ke daerah kebun kopi," jelasnya. 

Ternyata di area kebun kopi tersebut sudah menunggu pelaku lain berinisial MSL. Dikatakan Hendri bahwa setelah berkumpul, mereka bertiga melakukan aksinya dengan menebang pohon kopi secara ilegal lahan kebun kopi milik warga. 

"Penebangan ini mereka lakukan dengan tujuan membuat suatu keadaan masyarakat di Desa Kepatihan tidak tenang. Ini merupakan wujud rasa tidak suka terhadap pemerintahan yang berjalan di Desa Kepatihan, Kecamatan Tirtoyudo," bebernya. 

Berdasarkan hasil penyelidikan jajaran Sat Reskrim Polres Malang bahwa diketahui hubungan dua pelaku dengan satu korban tersebut dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. 

"Karena korban ini orangnya lumayan cukup banyak bicara dan lumayan vokal. Akhirnya timbul niat untuk melakukan upaya menghilangkan nyawa dari si korban ini," terangnya. 

Disampaikan oleh Hendri bahwa salah satu dari pelaku memukulkan balok kayu pada kepala bagian belakang korban yang membuat korban jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri. 

"Dua orang pelaku ini mengangkat korban dan langsung membuangnya ke sebuah sungai yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat awal kayu ini dipukulkan kepada korban," papar pria kelahiran Solok, Sumatera Barat ini. 

Dari upaya penyelidikan di beberapa tempat, Sat Reskrim Polres Malang berhasil mengamankan dua buah gergaji, dua buah handphone, balok kayu pohon kopi, satu unit sepeda motor matic hitam, serta pakaian yang dikenakan oleh kedua pelaku. 

Atas tindakan yang dilakukan, kedua pelaku diancam dengan Pasal 338 juncto Pasal 340 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). "Hukuman paling lama 20 tahun kurungan penjara dan nanti semisal dikenakan 340 nya penjara seumur hidup," pungkasnya.