Beragam miniatur alat transportasi yang terbuat dari bahan limbah triplek karya Thomas Boyke, Pelaku IKM di Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Beragam miniatur alat transportasi yang terbuat dari bahan limbah triplek karya Thomas Boyke, Pelaku IKM di Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Kreasi dari limbah bisa menghasilkan karya-karya seni yang menarik. Seperti, yang dilakukan oleh salah satu pelaku usaha Industri Kreatif Menengah (IKM) di Kota Malang, Thomas Boyke. 

Berawal dari iseng membuat miniatur berbagai moda transportasi, Thomas Boyke kini mampu menghasilkan karya seni yang memukau.

Baca Juga : Maksimalkan Digitalisasi, Disporapar Genjot Ekonomi Kreatif Kota Malang di Tengah Pandemi

Cara pembuatannya cukup unik. Sebab ia memanfaatkan limbah tripleks untuk disusun sedemikian rupa menjadi beragam alat transportasi di Boyke Art. 

Mobil jeep, kereta, bus atau mobil kuno lainnya dipoles dengan detail yang sama persis dengan aslinya namun versi mini.

"Ini berawal dari iseng sekitar tahun 2005, ternyata banyak yang suka. Jadi bikin-bikin lalu dipasarkan, laku ya syukur nggak laku ya dipasang di rumah," ungkapnya.

Ia menjelaskan, semua proses pengerjaan untuk menghasilkan produk karya alat transportasi ini dikerjakan tanpa bantuan orang lain. 

Paling lama pengerjaan menurutnya bergantung dari detail transportasi yang dipesan. Biasanya, semakin kecil akan menjadikan lebih lama karena pembuatan pola dan detail pelengkap lebih rumit.

"Tergantung bentuknya, mobil kuno bisa sebulanan. Kalau paling cepat ya 2 mingguan. 
Paling lama satu bulan, tergantung jenis mobil, besarnya. Yang kecil malah lebih lama, lebih ribet, karena untuk jok-jok kecil-kecil. Jadi saya buat ini bagaimana agar persis aslinya. Miniatur transportasi, dan ini manual semuanya," jelasnya.

Tahap pertama saat akan membuat satu alat transportasi, ia harus menggambar pola di triplek bekas. Kemudian dipotong kecil-kecil berbentuk kotak-kotak lalu bertahap disambung satu persatu membentuk pola mobil.

"Pertama harus dibuat pola dan gambarnya, kemudian bertahap disambung satu per satu, detail. Lalu, digosok dulu, didempul, terus buat atap mobil itu sambungan juga. Potongan triplek kecil-kecil disambung membuat pola. Kemudian didempul pakai dempul kayu, belum detail lampunya dan lain-lain," terangnya.

Baca Juga : Kisah Juru Parkir di Jombang, Olah Sabut Kelapa Jadi Media Tanam Beromzet Jutaan Rupiah

Meski menggeluti bidang ini sekitar 15 tahunan, namun pangsa pasar yang ia targetkan selama ini masih di wilayah tanah air. Pasalnya, ia hanya memanfaatkan sosial media untuk pemasaran produknya.

Sebab, sejauh ini pula pembuatannya juga berdasarkan pemesanan antar teman satu dan yang lainnya. "Pemasaran, masih dari teman-teman, mulut ke mulut. Kalau mengambil dalam jumlah banyak belum berani, karena kan sendiri. Tapi ini sudah dibuatkan medsosnya di instagram, belum lama kok," paparnya.

Nah, di masa pandemi Covid-19 ini menurutnya ia lebih banyak menelurkan karya-karya untuk dipromosikan. Karena, dirinya merasa lebih banyak waktu luang saat harus menjalani aktivitas lebih banyak di rumah saja.

"Nggak bisa diam memang saya, jadi pandemi sering diam di rumah kreasinya lebih banyak lagi. Selain alat transportasi juga saya melayani pesanan tulisan-tulisan hias," imbuhnya.

Sedangkan untuk penjualannya, paling jauh customernya dari wilayah Jakarta dan Bali. Sementara untuk patokan harganya bervariatif bergantung dari kerumitan transportasi yang diinginkan costumer. Karya paling murah dibanderol Rp 300 ribuan, paling mahal bisa sampai Rp 6 jutaan. 

"Harga tergantung kerumitan pembuatan, paling murah yang kecil-kecil itu sekitar Rp 300 ribuan. Pernah paling mahal itu Rp 6 juta, itu ukuran 80 cm. Dan full spek, pintunya bisa dibuka, ada mesinnya, pewarnaannya, lengkap sesuai permintaan pemesan," tandasnya.