Ilustrasi larva Black Soldier Fly (BSF). (Foto: thenational.ae)
Ilustrasi larva Black Soldier Fly (BSF). (Foto: thenational.ae)

MALANGTIMES - Meski ukurannya yang kecil dan seakan terlihat ringkih, ternyata hewan bernama larva memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Bahkan dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Larva memiliki dua fase major, yaitu fase lalat dan fase maggot. Fase maggot berperan sebagai pendaur ulang sampah.

Sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang yang beranggotakan Annis Safira Nur Aulia, Femi Tasani, Muhammad Zainurrahman, I Wayan Wira Yuda, Mila Afidah Rahmah, dan Abdul Mudjib Sulaiman Wahid berinovasi mengurangi jumlah sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai pendaur ulang alami sampah organik.

Baca Juga : Geranium Radula, Tanaman Cantik Pembasmi Nyamuk

 

Bahkan, mereka juga memberikan sosialisasi mengenai larva BSF sebagai pendaur ulang alami sampah organik kepada para siswa di SMPN 22 Kota Malang beberapa waktu yang lalu.

Bersama anggota ekstrakurikuler Tanaman Organik SMPN 22 Malang, kelompok ini mengembangkan maggot Black Soldier Fly sebagai pengurai sampah organik sekaligus media pembelajaran siswa. Akan tetapi, permasalahan yang dijumpai yaitu banyak maggot lalat yang mati dan pupa yang tidak berkembang.

“Kami membuat sistem yang dapat memperkecil kemungkinan mortalitas maggot. Pengaturan suhu, kelembapan, dan cahaya menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan. Selain pengecekkan jenis dan jumlah pakan maggot,” terang Annis Safira mewakili tim.

Annis menambahkan, mereka melakukan sosialisasi tentang bagaimana cara budidaya maggot yang baik agar menghasilkan pupuk kompos yang maksimal. Para siswa pun sangat antusias, mereka aktif bertanya tentang seluk beluk maggot.

Demi menyukseskan budidaya maggot, tim juga membuat buku pedoman budidaya maggot dan aplikasi BLAЄK PINTER.

“Melalui aplikasi ini, jumlah kematian maggot dapat ditekan. Aplikasi ini memuat update suhu dan kelembapan sekitar kandang maggot. Ada juga, perhitungan jumlah pakan dan maggot, kalender fase, video tutorial dan buku pedoman,” papar mahasiswa angkatan 2017 tersebut.

Baca Juga : Kompak, 10 Kampus UIN Wadul ke DPD RI: Susah Buka Prodi Umum

 

Annis juga menambahkan, jika program ini akan terus berlanjut dan berkembang untuk mencapai target maggot yang melimpah dan menghasilkan kompos yang berkualitas.

"Tidak hanya sebagai dekomposer, namun maggot bisa dijadikan sebagai alternatif pakan ternak burung dan ikan. Hal ini dikarenakan maggot mengandung 35 %  protein dan 30% lemak kasar yang baik untuk pertumbuhan ternak," pungkasnya.