Pemulung dengan tujuh anak (Foto: YouTube JatimTIMES)
Pemulung dengan tujuh anak (Foto: YouTube JatimTIMES)

MALANGTIMES - Kisah memprihatinkan "Ngedum Ojir" kali ini datang dari pasangan suami istri bernama bernama Abdul Hasan dan Sunarmi. Keduanya bekerja sebagai pemulung dengan cara bergantian.

Abdul Hasan dan Sunarmi merupakan warga Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Malang. Hasan mengatakan paling banyak ia menghasilkan Rp 50 ribu per hari dari hasil memulung.  

Baca Juga : Mobil Berpenumpang Bayi 9 Bulan Ditabrak Kereta, Terlempar ke Semak-Semak

 

Namun dengan kondisi Covid-19 saat ini ia biasanya hanya mendapat Rp 30- Rp 35 ribu. "Ya kalau dibilang nggak cukup ya nggak cukup tapi ya dicukup-cukupkan," ujarnya.  

Hasan dan Sunarmi memiliki sembilan anak, namun dua anak meninggal dunia. Anak pertama Hasan dan Sunarmi sudah menikah dan ikut tinggal bersama di rumah itu. Sehingga di rumah sederhana itu ditinggali oleh 10 orang.

Saat tiba di rumah Hasan dan Sunarmi kondisi rumahpun terlihat begitu sangat sederhana dan berantakan. Bahkan di bagian kamar mandi pun tidak ada pintu dan di ruangan terbuka.  

Sehingga jika ada anggota keluarga yang ingin ke area dapur harus menunggu agar tidak terlihat. Tentunya kondisi ekonomi Hasan dan keluarga pun sangat memprihatinkan.  

Hasan lantas mengatakan jika rumah yang ia tinggali memang dibangun olehnya sendiri. Namun, tanah yang ia pakai hanya dipinjami oleh salah seorang warga bernama Ponari.

Saat ditanya oleh Direktur JatimTIMES Network Lazuardi Firdaus, Hasan mengatakan jika ia bisa membangun rumah itu dengan cara menabung.

Hingga pada momen Firdaus memberikan bantuan dari pembaca JatimTIMES, Hasan mengucapkan banyak terima kasih.  

Firdaus menyampaikan, program Ngedum Ojir merupakan wujud syukur sekaligus kepedulian dari JatimTIMES dan juga para pembaca setia JatimTIMES terhadap masyarakat yang kurang beruntung.

"Jumlahnya tidak seberapa, tapi semoga bisa bermanfaat," terang Firdaus.

Baca Juga : Ganjar Pranowo Temui Pendemo Anak SMK, Ngaku Ikut-ikutan dan Tidak Ngerti Maksudnya

 

"Kalau ada salah kata saya minta maaf, dengan dapat bantuan ini semoga bermanfaat bagi kami untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Hasan penuh syukur karena tak jarang ia terpaksa berhutang. 

Program Ngedum Ojir tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari pembaca JatimTIMES Network untuk kemudian bisa disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Para pembaca JatimTIMES Network pun bisa menyampaikan kepeduliannya dan turut berbagi dengan mendatangi atau menghubungi kantor JatimTIMES.

Dengan program ini, diharapkan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat merasakan sedikit kebahagiaan. Serta memberikan inspirasi mengenai nilai-nilai kehidupan kepada pembaca setia JatimTIMES Network di mana pun berada.

Episode JatimTIMES Ngedum Ojir akan terus berlanjut untuk Berbagi Kebahagiaan dan Mengukir Senyuman.