Masker batik tulis buatan warga RW 03 Kelurahan Sukun (Hendra Saputra)
Masker batik tulis buatan warga RW 03 Kelurahan Sukun (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Untuk menumbuhkan perekonomian Kota Malang, Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Malang mengusulkan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melakukan akselerasi belanja melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sejak pandemi covid-19 merambah ke Kota Malang, sejumlah industri terpaksa harus menurunkan produksinya karena mengikuti anjuran pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid-19, sehingga dalam hal ini juga berimbas pada penurunan perekonomian.

Baca Juga : Manfaatkan Marketplace untuk UMKM, BI Jatim: Harus Didukung Oleh Pelaku Kreatif

Sejumlah terobosan untuk meningkatkan perekonomian juga telah dilakukan Pemkot Malang agar masyarakat bisa tetap hidup dengan pendapatan yang diperoleh. Salah satunya juga usulan dari Kpw BI Malang yang menyebut akselerasi belanja daerah bisa dimanfaatkan untuk mendorong perekonomian agar kembali pulih.

Kepala Kpw BI Malang, Azka Subhan mencontohkan bahwa pembangunan infrastruktur juga dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat terutama yang berada di sekitarnya. "Anggaran belanja pemerintah daerah bisa lebih diakselerasi untuk pembangunan proyek yang ada. Sehingga, bisa meningkatkan geliat perekonomian. Seperti pembangunan Jembatan Kedungkandang, Kayutangan Heritage dan lainnya," ujar Azka.

Saat ini menurut Azka, sepanjang tahun 2020 angka inflasi di Kota Malang akan mencapai 1,1 persen. Hal itu menyebutkan bahwa Kota Malang bakal mengalami inflasi terendah selama satu tahun terakhir, terlebih di masa pandemi covid-19.

Jika dilihat dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 lalu, Kota Malang mengalami inflasi sebesar 2,98 persen, lalu pada 2019 Kota Malang mengalami inflasi sebesar 1,93 persen. Dengan kata lain, inflasi setiap tahunnya menurun cukup signifikan. "Inflasi terendah sepanjang 10 tahun. Diprediksi, angka inflasi sekitar 1,1 persen pada tahun 2020 ini," ucap Azka.

Baca Juga : Pulihkan Ekonomi Malang, BI Jatim: Kolaborasi Hasilkan Win-win Solution

Sebelumnya, hal yang mempengaruhi penurunan perekonomian tak lain memang karena pandemi covid-19 yang tak kunjung usai sehingga memaksa kondisi data beli masyarakat berkurang dan menyebabkan harga komoditas di pasaran cenderung menurun. "Daya beli masyarakat turun kalau yang beli tidak banyak keuntungan berkurang. Maka harga barang akan lebih murah, karena Demand kurang, Supply juga kurang," ungkapnya.

Selain itu, minimnya transaksi jual beli yang dipengaruhi daya beli masyarakat dinilai akan mempengaruhi pertumbuhan perekonomian yang mengakibatkan ekonomi berjalan lamban. "Ini yang menunjukkan ekonomi kurang jalan, dinamika orang berdagang transaksi juga kurang banyak," pungkasnya.