Keindahan Pantai Banyu Anjlok, Kabupaten Malang yang lokasinya tersembunyi. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Keindahan Pantai Banyu Anjlok, Kabupaten Malang yang lokasinya tersembunyi. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Wilayah Kabupaten Malang memiliki luas sekitar 3.535 kilometer persegi yang sebagian besar berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tentunya, selain mendapat bentang keindahan pantai, juga memiliki potensi bencana alam seperti tsunami.

Riset dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai potensi tsunami di sepanjang pantai selatan di Jawa Timur menyebut Kabupaten Malang masuk dalam zona potensial tsunami.

Baca Juga : September Kok Sudah Hujan Lebat hingga Akibatkan Banjir? Ini Penjelasan BMKG

 

Hal itu juga dikuatkan dengan pendapat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur yang menyebut dari 38 kabupaten/kota yang memiliki potensi tsunami terdapat 9 kabupaten/kota yang berpotensi tsunami tinggi.

Sembilan kabupaten/kota tersebut yakni Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.

Menurut Tenaga Ahli BPBD Jawa Timur Suban Wahyudiono , bahwa dari sembilan kabupaten/kota tersebut, sebanyak 156 desa yang memiliki potensi tinggi tsunami.

"Ada 156 desa potensinya tinggi tsunami. Paling banyak di Banyuwangi 48 desa, Pacitan 24 desa dan Trenggalek 13 desa. Desa itu sudah dipetakan," jelasnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Karangkates Musripan mengatakan bahwa selain hasil riset dari ITB, data-data pendukung dari BMKG, BIG (Badan Informasi Geospasial) dan GPS (Global Positioning System) bahwa jika terjadi gempa di zona megathrust akan terjadi tsunami.

"Hasil risetnya menyimpulkan bahwa bilamana terjadi gempa di zona megatrust dengan syarat zona Jawa Barat dan Jatim bersamaan robeknya, maka akan mengakibatkan gempa yang cukup besar," ungkapnya ketika dikonfirmasi pewarta.

Dari gempa yang cukup besar dan dahsyat tersebut, Musripan mengatakan bahwa seluruh Pantai Selatan di Jawa Timur akan naik tingkatannya menjadi awas.

"Kalau terjadi gempa yang cukup dahsyat, seluruh pantai di Jatim akan berstatus awas. Artinya harus segera meninggalkan pantai ke tempat yang sudah disediakan oleh BPBD masing-masing," jelasnya.

Musripan pun juga menyampaikan hasil analisa dari BMKG pusat yakni dari hasil modelling yang telah dilakukan oleh BMKG. Yakni, jika terjadi tsunami di bagian selatan Pulau Jawa, maka hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit gelombang tinggi untuk mencapai daratan.

Pasalnya, di selatan Pulau Jawa terdapat jalur Sunda Megathrust yaitu zona subduksi antara Lempeng Hindia-Australia dengan Lempeng Eurasia. Seperti diketahui, Sunda Megathrust membentang dari pantai barat Pulau Sumatera hingga Kepulauan Nusa Tenggara.

"Jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera ke jalur megathrust sekitar 200 sampai 250 kilometer. Dari jalur itu, bisa terjadi gempa besar yang memicu tsunami besar," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Malang, Bambang Istiawan ketika ditemui awak media mengatakan bahwa segala macam potensi bencana di Kabupaten Malang selalu ada.

"Kalau potensi itu nggak boleh dikasih bakal. Potensi itu mesti ada, tapi kapan terjadi, nggak tahu," ujarnya.

Baca Juga : Suhu Udara Dingin Diprediksi Sampai Oktober, Ini Pengaruh Bagi Kesehatan hingga Kecantikan

 

Bambang menambahkan bahwa jika melihat kondisi pantai di selatan Kabupaten Malang, jika mengalami musim-musim tertentu, seperti badai akan terjadi potensi luapan air rob menuju ke daratan pantai.

"Kalau di sana dilewati patahan, kalau patahan itu patah karena gempa bumi, itu bisa dimungkinkan menimbulkan tsunami," terangnya.

Sementara untuk penanganan bencana sendiri, dikatakan Bambang bahwa pihaknya yang paling dini yakni dengan memberikan rambu-rambu evakuasi dan titik kumpul tempat aman ketika adanya bencana terjadi, salah satunya tsunami.

Pemberian informasi, sosialisasi mitigasi bencana dan simulasi ketika adanya bencana telah dilakukan oleh BPBD Kabupaten Malang melalui program formal maupun informal seperti berbicara secara personal melalui warung kopi atau fasilitas umum lainnya.

"Mitigasi itu ada dua, struktural dan nonstruktural. Struktural berupa fisik, nonstruktural bukan fisik. Kalau fisik misalnya pembangunan rambu-rambu. Kalau nonfisik, pelatihan-pelatihan dan pembentukan desa tangguh bencana, pembentukan kelompok-kelompok kerja," jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Kabupaten Malang, Bagyo Setiono menambahkan bahwa masyarakat Kabupaten Malang masih diuntungkan dengan posisi pantai di Malang Selatan mayoritas masih terdapat tebing tinggi.

"Rata-rata pantai kita itu semuanya di balik bukit. Jadi kalau ada apa-apa terbentur bemper," tambahnya.

Untuk saat ini dikatakan Bagyo bahwa yang ditakutkan adalah ketika wilayah selatan Pulau Jawa diguncang gempa bumi dahsyat di atas 6 skala richter, akan terasa hingga Kota Malang.

"Cuma takutnya kalau diguncang gempa 6 koma, 100 kilo dari sini (Kepanjen, red) yang rusak itu di Kota Malang sama di sini," ungkapnya.

Hal itu pun dianalogikan oleh Bagyo ketika terdapat seseorang menggoyang-goyangkan sebuah tiang bendera upacara, yang akan terasa sekali dari goyangan tersebut yakni pucuk dari tiang tersebut.

"Kan jelas jauhkan manusia dari sumber bencananya, sumber bencananya jauhkan dari manusianya," pungkasnya.