MALANGTIMES - Ingin mengenal burung cinta? Ini kisahnya. Lovebird berasal dari benua Afrika. Setelah diekspor ke benua Eropa pada tahun 1800-an, burung cinta berkembang dengan baik hingga ke benua Amerika, atas permintaan pasar.
Sempat mengalami penangkapan besar-besaran, sekira tahun 1970, muncul larangan impor lovebird dari pemerintahan Amerika dan Eropa. Namun kini perkembangan loverbird luar biasa, termasuk di Indonesia.
Banyak yang berternak lovebird, namun tidak sedikit yang menyayangkan. Alasannya, asal diternakkan dan dikawinkan tanpa melihat galur atau genetisnya.
Orang kerap mengkategorikan lovebird sebagai burung hias, karenanya banyak yang memelihara. Lovebird dipelihara karena memiliki suara, warna dan bulu indah. Tidak sedikit orang yang mengembangbiakkan.
Tidak pasti kapan istilah lovebird muncul pertama kali. Lovebird menjadi perlambang kerukunan hidup berpasangan. Sebagaimana burung ini biasa hidup secara berkelompok.
Lovebird atau bernama latin Agapornis termasuk dalam kelas burung (aves) dalam keluarga Psittacoidae. Ada 9 jenis atau spesies lovebird, yaitu personatus, fischeri, liliana (nyasa), nigrigenis, roseicollis, taranta, pullarius, canus, dan swindernianus.
Jenis personatus, fischeri, lilianae, dan nigrigenis dicirikan dengan lingkaran di sekeliling mata, atau dikenal dengan istilah klep atau kacamata. Selain yang berkacamata, para pecinta lovebird menyebutnya non klep.
Pengkategorian ini yang sering dijadikan acuan lomba atau kontes kecantikan si burung cinta. Huda, salah satu 'aktivis' lovebird menuturkan, kontes terbagi dua, klep dan non klep.
Klep seperti sudah dijelaskan di atas, ada 4 jenis. Sedang non klep terdiri dari ophaline dan non ophaline. "Di kontes ini, non klep dikenalnya jenis Roseicollis," ujarnya, ditemui di perkumpulan pecinta kontes kecantikan loverbird di Malang.
Panjang tubuh lovebird antara 13 - 17 cm, memiliki keindahan pada warna bulunya. Warna hijau, kuning, merah, biru yang cerah, menjadi keasyikan tersendiri saat melihatnya. "Genetis DNA dan asupan nutrisi mempengaruhi kecantikannya," ujar Lefri Kristanto, pecinta lovebird asal Surabaya.
Huda menambahkan, keharmonisan karakteristik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kecantikan si burung cinta ini. "Bentuk, warna, ukuran, kondisi, dan tingkah laku itu bagian dari keharmonisan karakteristiknya," jelasnya. (*)
