Kustomo saat menyuapi makanan ke istrinya yang lumpuh. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Kustomo saat menyuapi makanan ke istrinya yang lumpuh. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

MALANGTIMES - JOMBANGTIMES - Kehidupan Kustomo (59), warga Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang seketika berubah saat istri dan anak pertamanya mengalami kelumpuhan. Selama 19 tahun terkahir, ia merawat istri dan anak pertamanya yang lumpuh.

Siti Rodiah (52) dan putri pertama Kustomo, Dwi Ayu Prasetya (28), mengalami kelumpuhan karena penyakit yang menyerang syaraf motoriknya. Istrinya mengalami kelumpuhan sejak 19 tahun silam, sedangkan anak sulungnya sudah 8 tahun ini juga mengalami kelumpuhan.

Baca Juga : Malam Valentine, 8 Pasangan Kena Garuk di Kamar Hotel

 

Sehari-hari Siti dan Ayu hanya bisa terbaring di tempat tidur. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan, tubuh keduanya terlihat sangat kurus. Tubuh Siti terlihat paling memprihatinkan. Badannya kurus nyaris hanya kulit dan tulang.

Untuk makan dan ke kamar mandi, mereka dibantu oleh Kustomo dan dua anaknya yang normal. Terkadang, Kustomo merawat keduanya seorang diri saat anak keduanya bekerja dan anak bungsunya pergi ke sekolah.

Kustomo dan Siti memiliki tiga anak, Ayu yang lumpuh sejak 8 tahun adalah anak pertama, anak kedua bernama Rizky Subeki (24), dan Septi Cahyani (19). Rizky saat ini kerja sebagai kuli bangunan, dan Septi masih sekolah kelas XII.

Menurut Kustomo, istri dan anak sulungnya lumpuh akibat ganguan saraf. Awalnya istri Kuswanto mengalami lemas di tubuhnya 19 tahun silam. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba tubuhnya sering merasakan nyeri. Hingga akhirnya seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Hal yang sama ternyata juga dialami oleh putri sulungnya. Pada 8 tahun silam, Ayu mengalami nyeri dan sering merasa lemas. Ia bahkan kerap terjatuh saat sedang bekerja. Saat itu, Ayu masih kerja di sebuah rumah makan di daerah Kecamatan Jombang.

Dan akhirnya, tubuh Ayu mengalami kondisi yang sama dengan ibunya. Seluruh bagian tubuhnya tidak bisa digerakkan atau mengalami kelumpuhan.

"Kalau ibu ini sudah 19 tahun lumpuh dan anak saya ini sudah 8 tahun. Gejalanya itu awal-awal tenaganya tidak ada. Semakin lama makin menurun tenaganya akhirnya tidak bisa apa-apa seperti itu," ujarnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (17/9). 

Keduanya sempat diperiksakan ke Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya oleh Kustomo. Dari pemeriksaan dokter, keduanya divonis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). 

ALS merupakan penyakit sistem syaraf yang melumpuhkan otot-otot dan mempengaruhi fungsi fisik. Karena penyakit itu lah, istri dan anak Kustomo mengalami kelumpuhan.

"Ke dr Soetomo itu dinyatakan penyakit ALS. Itu penyakit syaraf, jadi syaraf motoriknya kena. Akhirnya semakin menurun fisiknya dan lumpuh gitu," tandasnya.

Baca Juga : Harga Kamar Mesum di Rumah Karaoke Rp 70 Ribu, Tarif Pemandu Lagu Sesuai Kesepakatan

 

Keduanya sempat menjalani perawatan di RSUD Jombang selama 3 bulan. Setelah itu dirujuk ke RS dr Soetomo selama satu tahun. Karena merasa jauh dan terkendala biaya ongkos, Kustomo meminta anak dan istrinya menjalani rawat jalan di RSUD Jombang.

Selama perawatan, seluruh biaya pengobatan ke rumah sakit dicover oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Selain Jamkesmas, Kuswanto juga sudah mendapatkan bantuan sosial berupa PKH dan BPNT dari pemerintah.

"Di rumah sakit Jombang tiga bulan, terus dirujuk ke dr Soetomo itu satu tahun. Kemudian tambah parah, dan saya minta kembali ke Jombang (RSUD Jombang) terapi tiga bulan di sana. Ternyata tidak ada perubahan ya langsung kita bawa pulang," kata Kustomo.

Kustomo juga sempat membawa istri dan anaknya berobat di pengobatan alternatif di Mojokerto. Namun, upaya terapi di pengobatan alternatif selama 2,5 tahun juga tidak membuahkan hasil. "Selama ini belum pernah dioperasi. Terlahir terapi di alternatif Mojokerto tidak membuahkan hasil," ujarnya.

Berbagai upaya dilakukan Kustomo untuk menyembuhkan istri dan buah hatinya. Akhirnya, bapak tiga anak itu memilih untuk merawat keduanya di rumah.

Kustomo sudah 7 bulan terakhir ini memilih berhenti bekerja sebagai penjahit sepatu di pasar Desa Bandung. Seluruh hidupnya kini digunakan untuk merawat istri dan buah hatinya. 

Karena ia tak lagi bekerja, kebutuhan sehari-hari ia dapat dari bantuan teman dan keluarganya. Penghasilan anak keuangannya sering kali tidak mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. "Dulu kalau saya masih kerja masih banyak teman yang memintakan sumbangan ke pasar. Akhir-akhir ini juga banyak yang memberikan sumbangan. Dulu sering kekurangan," pungkasnya.(*)