Peringati Tahun Baru Islam, Kiai Marzuki Mustamar Luruskan Paham Islam Nusantara

Sep 07, 2020 19:23
Ketua PWNU Jawa Timur saat memberikan ceramah agama di hadapan para kaum duafa dan anak yatim piatu di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (7/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Ketua PWNU Jawa Timur saat memberikan ceramah agama di hadapan para kaum duafa dan anak yatim piatu di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (7/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Banyak cara dilakukan memperingati tahun baru Islam 1442 Hijriah. Salah satunya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dengan menyantuni kaum duafa dan anak yatim piatu. Dalam santunan itu juga menghadirkan Ketua PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur, KH. Marzuki Mustamar. 

Dalam ceramahnya Kiai Marzuki mengungkapkan bahwa di tahun baru Islam ini, sebagai umat Islam harus terus mencintai agama dan juga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red). Karena mencintai NKRI sama halnya menjalankan sunnah Rasul. "Umat Islam ini ya bela Islam, ya bela negara. Rasulullah pun mencontohkan hal tersebut," ungkapnya dalam ceramah agama di Pendopo Kabupaten Malang, Senin (7/9/2020). 

Baca Juga : Tak Pernah Lakukan Salat, Sosok Ini Justru Dijamin Masuk Surga

 

Marzuki pun menjelaskan ketika proses nabi mencintai agama sekaligus mencintai negara atau tanah kelahirannya yakni Makkah. Bentuk cinta tersebut dikatakan oleh Marzuki saat Nabi Muhammad sedang hijrah ke Madinah selama 16 hingga 17 bulan.

Selama hijrahnya tersebut, Nabi Muhammad beserta umatnya melaksanakan Salat menghadap arah kiblat ke Masjidil Aqsa yang bertempat di Palestina.

Dalam perjalanan ibadahnya, Nabi Muhammad berharap kepada Allah Subhanahuwata'ala untuk mengubah posisi arah kiblat untuk menghadap ke Masjidil Haram di Makkah. "Nabi minta kiblat diganti ke Makkah. Nah inilah bukti, nyuwun sewu (permisi) saya menyimpulkan, ini bukti Nabi sungguh cinta ke tanah air, meskipun dalam keadaan apapun," jelasnya. 

Diketahui pada waktu itu merupakan masa-masa jahiliyah yang di mana kondisi Kota Makkah dipenuhi dengan patung-patung berhala yang disembah oleh kaum Kafir Quraisy. 

Untuk menandakan perubahan arah kiblat tersebut, akhirnya turun Alquran Surat Al-Baqarah ayat 144 yang menerangkan perubahan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram yang berada di Kota Makkah. 

Berikut isi terjemahan pada Quran Surat Al-Baqarah ayat 144: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (taurat dan Injil) memang mengbetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Selain itu, arah kiblat ke Masjidil Haram yang berada di Kota Makkah dan didalambya terdapat Ka'bah tempat suci yang sejak jaman Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Ibrahim menjadikan Ka'bah sebagai kiblat untuk melaksanakan Salat,".

Perubahan arah kiblat mengarah ke Kota Makkah ini pun terjadi pada Bulan Rajab di tahun 12 Hijriah pada saat Nabi Muhammad melaksanakan Salat Zuhur dan beberapa riwayat menyebutkan pada saat Salat Ashar. 

Ketika melaksanakan Salat pada rakaat kedua, turun wahyu yang menjelaskam perubahan arah kiblat. Kemudian Nabi Muhammad berpaling 180 derajat untuk merubah arah kiblatnya. 

Baca Juga : Menteri Agama Siap Hadiri Rapimnas LDII, Ajak Wujudkan Moderasi Beragama

 

Sontak makmum yang sedang melaksanakan Salat jemaah dengan Nabi Muhammad turut serta mengubah arah kiblatnya. Kaum yahudi dan nasrani pun kemudian mencemooh karena Nabi Muhammad mengubah arah kiblatnya. 

Tetapi pada cemoohan itu, tersimpan kekhawatiran yang dirasakan oleh kaum Yahudi. Karena jika umar Muslim mengubah arah kiblatnya, akan menjadikan perbedaan diantara pusat peribadahan umat Muslim dengan kaum Yahudi. 

Dan dalam Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 143 telah dijelaskan bahwa perubahan arah kiblat untuk membedakan serta memisahkan antara kaum munafik dan umat Muslim. 

Berikut arti terjemehan Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 143: "Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi pentunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."

Dari rentetan itu pula, Marzuki menyambungkan dengan istilah Islam Nusantara yang selalu didengungkan oleh warga Nahdlatul Ulama. Bahwa terkait teknis-teknis dalam mengajarkan Islam Nusantara bukan berarti meninggalkan ajaran-ajaran Islam dalam Alquran dan Hadits, melainkan suatu sunnah Rasulullah untuk mencintai agama dan tanah kelahirannya. "Dan inilah mengapa Islam Nusantara itu bukan paham yang melenceng malah itu ajaran Nabi sendiri," pungkasnya.

Topik
Tahun Baru IslamKH Marzuki MustamarIslam Nusantara

Berita Lainnya

Berita

Terbaru