Arumi Bachsin, Ketua TP PKK Provinsi Jatim saat menjadi narasumber dalam seminar online Gerakan Pemberdayaan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19 (Ist)
Arumi Bachsin, Ketua TP PKK Provinsi Jatim saat menjadi narasumber dalam seminar online Gerakan Pemberdayaan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19 (Ist)

MALANGTIMES - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Jatim, Arumi Bahcsin, turut membeber pentingnya peran perempuan dalam penanggulangan dan pemutusan mata rantai penyebaran Covid- 19 dalam seminar online yang digelar oleh Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma), Jumat (21/8/2020).

Ditegaskannya, jika peran seorang perempuan sangat luar biasa pada berbagai aspek kehidupan. Namun dalam seminar online bertema Gerakan Pemberdayaan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19, ia merangkum jika peran seorang perempuan ada tiga, yang pertama sebagai stri dan ibu rumah tangga, sebagai wakil keluarga dalam bermasyarakat dan yang ketiga praktisi dalam organisasi wanita dan juga dalam organisasi kemasyarakatan.

Baca Juga : 22 ASN Pemkot Batu Positif Covid-19, 4 Meninggal, Seluruh Pegawai Kerja di Rumah 3 Hari

Lebih lanjut dijelaskannya, jika sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, adalah pekerjaan yang begitu berat dibandingkan dengan pekerjaan formal kantoran. Sebab, ketika menjadi ibu rumah tangga, seorang perempuan bisa menjelma layaknya siluman. Artinya di sini, seorang perempuan atau ibu rumah tangga adalah sosok yang multitasking.

"Pekerjaan di kantor tentu tak seberat dengan pekerjaan di rumah. Kalau pekerjaan di rumah, sebentar-sebentar bisa jadi koki, bisa jadi guru, bisa jadi perawatnya bapak atau anak kalau lagi sakit dan seterusnya," jelasnya dalam seminar online yang banyak diikuti oleh dosen, mahasiswa Polkesma dan juga masyarakat itu.

Selain itu, sebagai seorang istri, khususnya untuk masa pandemi saat ini, seorang istri harus mampu bekerjasama dengan sang suami untuk memberikan edukasi terkait protokol kesehatan pencegahan Covid- 19 dan informasi tentang Covid- 19.

Mau tak mau, kondisi saat ini di tengah keterbatasan untuk beraktivitas, khususnya kepada anak, tentunya akan menimbulkan rasa kebosanan lantaran keterbatasan untuk beraktivitas di luar. Dari situ, banyak pertanyaan, bagaimana untuk memberikan informasi dan trik agar kebosanan dan kejenuhan yang terjadi pada anak tidak lagi terjadi di saat pandemi menuju Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini.

"Di saat pandemi ini memang dengan berat harus memberikan pengertian kepada anak kegiatan harus dibatasi. Karena pembatasan itu mereka kadang juga jadi uring-uringan. Meskipun sudah dijelaskan sekali dua kali mungkin seminggu masih ngerti tapi sesudah itu, ya bisa saja mereka jadi bosan, nggak sabar lagi, meskipun juga sekarang sudah ada sedikit kelonggaran," jelasnya.

Untuk itu, istri dari Wakil Gubernur Jatim itu  memberikan tips yang bisa dicoba oleh para ibu. Tips yang pertama menurut Arumi adalah bekerjasama dengan guru dari anak maupun dengan sang suami.

"Tau sendiri, guru terkadang dibandingkan orang tua malah lebih didengarkan guru oleh anak. Termasuk juga bekerjasama dengan sang ayah. Kadang anak dibilangi oleh ibu, jika sakit harus minum obat dan saat ini harus begini, ketika dinasehati oleh ayah, terkadang malah akan nyantol (memahami)," ujarnya.

Menciptakan suasana di rumah agar tidak membuat stress dan bosan pada anak di masa pandemi, harus dilakukan seorang ibu. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan sedikit toleransi berkegiatan kepada anak yang itu merupakan kesenangan versi mereka.

"Karena kadang versi kita nyaman, tapi versi mereka beda. Saya di rumah memberikan sedikit toleransi kegiatan versi mereka," terangnya.

Kemudian, lanjut Arumi, dalam pemenuhan gizi keluarga, perempuan juga sangat mempunyai peran vital dalam upaya pencegahan Covid-19. Bukan hanya itu, termasuk dalam perihal protokol kesehatan, seorang perempuan akan lebih peka.

"Misalnya dalam menyiapkan masker, berapa masker yang dibutuhkan dalam sehari dan bagaimana cara mensterilkan masker, yang telaten untuk itu biasanya adalah seorang ibu. Keadaan seperti ini tidak mungkin lah tidak memakai masker, tapi yang bisa memastikan empat jam sekali ganti adalah ibu-ibu termasuk menyiapkan gantinya, Karena kalau tidak disiapkan biasanya kelupaan," ungkapnya.

Baca Juga : Penting! Skincare Kandungan AHA 30% Ini Berbahaya untuk Kulit

Untuk meningkatkan imunitas, selain dengan pemenuhan gizi yang baik, kegiatan bersama seperti yoga atau kegiatan berolahraga lain yang melibatkan keluarga tentunya akan menciptakan suasana yang memang tidak membuat anak jadi bosan.

"Bisa yoga, bisa bulutangkis, bisa saja tiap sore jalan-jalan di taman, atau melakukan hobi lainnya yang disenangi anak," bebernya.

Kemudian dijelaskan Arumi mengenai peran sebagai wakil keluarga dalam bermasyarakat, jika seorang perempuan harus bisa memberikan contoh baik, baik di tingkat kelurahan, kecamatan maupun lainnya. Hal ini dilakukan juga tak perlu memiliki sebuah jabatan.

"Mau di lingkup apapun, dan sekecil apapun lingkupnya, kita tetap merupakan orang penting. Di sini kita juga harus bisa memberikan contoh perihal protokol kesehatan dan penerapan AKB maupun memberikan edukasi kepada orang di lingkungan sekitar seperti pentingnya penggunaan masker dan lainnya," tegasnya.

Kemudian peran perempuan sebagai seorang praktisi dalam organisasi juga sangat diperlukan. Dengan sama-sama menjalin komunikasi dalam berorganisasi tentunya akan banyak memberikan dampak bermanfaat bagi masyarakat. Seperti halnya TP PKK yang saat ini tergerak membuat masker dengan harga terjangkau.

"Di sini juga diberikan latihan keterampilan pada ibu-ibu yang akan meningkatkan skill mereka, di mana skill tersebut akan bisa digunakan untuk menambah atau mendukung perekonomian keluarga," paparnya.

Lanjutnya, dalam TP PKK dijelaskan Arumi jika seorang perempuan atau kader juga harus memberikan edukasi terhadap 10 orang di sekitarnya. Termasuk juga menjadi ibu untuk anak-anak para tetangga yang memang ditinggal kerja. Kepedulian ini tentunya juga memupuk kembali rasa sebagai manusia sosial yang tak bisa hidup sendiri di tengah individualisme yang banyak terjadi di masyarakat.

"Di tengah pandemi seperti ini kita tidak bisa hidup sendiri kesuksesan penanggulangan Covid-19 adalah kerja keras bersama. Apapun yang kita lakukan kita harus punya goal, diharapkan jika masyarakat nantinya akan menjadi garda yang terdepan dan tenaga medis akan menjadi garda yang terakhir. Dengan menjadi garda terakhir artinya masyarakat telah banyak yang sadar dan peduli," pungkasnya.