Juru Bicara Gugus Satgas Covid-19, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Juru Bicara Gugus Satgas Covid-19, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Proses tracing terhadap warga yang melakukan kontak erat dengan jenazah PDP (pasien dalam pengawasan) Covid-19 di Kota Malang urung dilakukan. Pasalnya, dari laporan petugas kesehatan wilayah yang menangani masih perlu pendekatan lebih jauh.

Ya, tracing tersebut utamanya memang harus dilakukan terhadap keluarga pasien. Di mana, beberapa waktu lalu sempat menghebohkan publik lantaran aksinya yang sempat merebut jenazah dari tenaga kesehatan di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraoen Kota Malang pada Sabtu lalu, (8/8/2020).

Baca Juga : Peluang Kesembuhan Pasien Covid-19 di Kabupaten Malang Lebih dari 70 Persen

 

Juru Bicara Gugus Satgas Covid-19, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif, menyatakan, kesulitan proses tracing tersebut karena kondisi keluarganya masih belum memungkinkan dan tidak kondusif.

"Kondisinya belum kondusif di keluarga. Jadi situasi guncangan, situasi tekanan-tekanan jiwa itu masih ada. Terlihat dari ekspresinya. Sehingga kami tidak bisa ut6k melakukan 3T itu (Tracing, Treatment, Testing)," ujarnya, Kamis (13/8/2020).

Karenanya, saat ini baik tim dari petugas kesehatan terkait di wilayah Puskesmas Kedungkandang bersinergi dengan jajaran stakeholder lainnya seperti kelurahan, kecamatan, hingga RT dan RW tengah melakukan pendekatan secara persuasif.

"Maka sifat kami pertama adalah persuasif untuk melakukan silaturahmi, tentu didampingi oleh perangkat setempat. Ada RT, RW-nya dan juga dari beberapa aparat ya, dari Babinsa dan Babinkamtibnas," imbuhnya.

Proses persuasif yang dilakukan tersebut sudah berjalan kurang lebih selama dua hari terakhir ini. Harapannya hari ini minimal untuk pihak keluarga sudah bisa dilakukan tracing.

Nantinya, selain keluarga inti proses tracing juga akan dilakukan kepada semua pihak yang bersentuhan langsung dengan pasien. Termasuk beberapa warga yang sempat merebut jenazah dari tangan tenaga kesehatan.

"Hari ini teman-teman berusaha untuk melakukan 3T sebenarnya. Tujuannya memang untuk memberikan ketenangan terutama kepada anggota keluarga. Kalau testing itu nanti kita lakukan screening awal berupa rapid test untuk menentukan adakah anti bodi terbentuk di dalam tubuh mereka," jelasnya.

Baca Juga : Jenazah Probable Covid-19 yang Viral Diambil Paksa, Dimakamkan Sesuai Protokol Kesehatan

 

Sementara itu, sembari berupaya melakukan tracing hingga saat ini laporan hasil swab untuk pasien yang meninggal masih belum diketahui. Namun, pihak RST Soepraoen diketahui telah mengirimkan spesimen swab tersebut ke laboratorium di RSSA Malang.

"Hasil swab belum keluar, dari RST sudah dikirim ke Saiful Anwar (RSSA). Sudah kita koordinasikan dengan kepala laboratorium Saiful Anwar," tandasnya.

Diketahui, insiden perebutan jenazah pada Sabtu (8/8/2020) lalu, viral di berbagai sosial media. Meski berhasil dicegah, dari video yang beredar sejumlah warga sempat bersentuhan langsung dengan jenazah berjenis kelami laki-laki tersebut.

Bahkan, dalam video berdurasi kurang lebih 2 menit tersebut terlihat seorang warga membuka kantong jenazah dan menciumnya. Sejumlah warga juga sempat membawa jenazah itu sebelum akhirnya dicegah dan dilakukan pemulasaraan jenazah dilakukan dengan standart protokol Covid-19.