Ilustrasi perawatan pasien Covid-19 dengan alat ventilator. (Foto: Shutterstock).
Ilustrasi perawatan pasien Covid-19 dengan alat ventilator. (Foto: Shutterstock).

MALANGTIMES - Seiring dengan terus melonjaknya kasus Covid-19 di Kota Malang yang kini mencapai angka 906, nampaknya berimbas pada pelayanan yang disediakan di rumah sakit rujukan.

Informasi yang beredar menyebut, rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Malang overload atau tak bisa lagi menampung pasien.

Baca Juga : Terpapar Covid-19, Dokter Terkenal di Kota Blitar Meninggal Dunia di Malang

Hal tersebut ternyata tak sepenuhnya benar. Sebab dari 7 rumah sakit rujukan Covid-19 saat ini, yakni Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), RS Lavalette, RSI Aisyiyah, RS Panti Waluyo RKZ Sawahan, RST Soepraoen, RS Hermina, dan RS Unisma hanya yang ruang isolasi yang bertekanan negatif dengan ventilator yang penuh.

"Mana yang dikatakan overload, kan seperti itu, tidak semuanya. Rumah sakit yang memang overload itu yang ruangan isolasi bertekanan negatif dengan ventilator. Sehingga masyarakat, warga ataupun apa yang akan merujuk ke rumah sakit rujukan Covid yang memerlukan tekanan negatif dan ventilator di Malang kalau menurut informasi memang masih penuh," ujar Juru Bicara Gugus Satgas Covid-19, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif.

Dijelaskan Husnul, fasilitas dari rumah sakit rujukan memang diperlukan untuk pasien dengan kategori berat, sedang, dan ringan. Karenanya, ada ruang isolasi yang memerlukan ruang khusus.

Yaitu, ruang isolasi bertekanan negatif dengan ventilator, ruang isolasi bertekanan negatif tanpa ventilator, dan ruang isolasi biasa.

"Kalau ruang isolasi tekanan negatif dengan ventilator itu memang penuh. Yang ada kan di Saiful Anwar (RSSA). Kemudian ada ruang isolasi tekanan negatif tanpa ventilator itu masih ada. Ruang isolasi biasa, ini masih tersedia," imbuhnya.

Khusus untuk ruang isolasi bertekanan negatif dengan ventilator memang diperuntukkan bagi pasien Covid-19 baik PDP (pasien dalam pengawasan) ataupun yang terkonfirmasi positif dengan gejala berat.

Ruangan yang menyediakan tempat bertekanan negatif dengan ventilator yang tersedia di RSSA Malang hanya berkapasitas sebanyak 8 bed saja, sisanya yang tanpa ventilator dan ruang isolasi biasa.

Dalam hal ini, Dinkes Kota Malang mengupayakan untuk mendapatkan ventilator tambahan. Salah satunya, dengan meminta kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang jumlah ketersediaan alat yang siap dipinjamkan sebanyak 29.

Baca Juga : Bertambah 109 Kasus dalam 3 Hari, Tinggal 55 Bed yang Kosong untuk Pasien Covid 19

"Kita sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi, lewat bidang pelayanan kesehatan rencana mau dipinjami ventilator untuk Kota Malang. Sehingga rumah sakit-rumah sakit yang sekiranya memerlukan alat ventilator ini bisa mengajukan ke Dinas Kesehatan. Nanti Dinas Kesehatan kota akan meneruskan kepada provinsi Jawa Timur. Tawarannya kemarin sekitar 29 ventilator," tandasnya.

Lebih jauh, Wali Kota Malang Sutiaji membenarkan jika keterbatasan jumlah ventilator yang menjadikan rumah sakit penuh untuk pasien dengan gejala berat.

Namun, pihaknya juga telah siap apabila ada rumah sakit rujukan yang membutuhkan alat ventilator. Sebab, RSUD Kota Malang memiliki ketersediaan alat sebanyak 11 ventilator.

Yang mana dari jumlah tersebut, masih ada sekitar 7 alat yang bisa dipakai. Asalkan, tetap dengan standard penggunaan kesehatan.

"Artinya ketika ada masyarakat sini terus dirujuk ke rumah sakit lain karena keterbatasan ventilator. Di kami ada 11 ventilator, yang terpakai 2 atau 3, masih tersisa 7-an, rumah sakit mana yang siap memakai sesuai standar ini ya monggo. Sehingga tidak ada alasan rumah sakit tanpa ventilator ditolak," tutupnya.