Wali Kota Malang Sutiaji (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).

MALANGTIMES - Menindaklanjuti adanya video viral aksi mencium dan membawa paksa jenazah PDP (pasien dalam pengawasan)  covid-19 yang ramai diperbincangkan publik, Satgas Covid-19 Kota Malang langsung melakukan rapid test. Tes cepat tersebut dilakukan kepada seluruh orang yang berjarak dekat dengan jenazah dalam video viral tersebut.

Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan, Satgas Covid-19 Kota Malang sudah melakukan tracing dan rapid test. Namun hasilnya saat ini memang belum terlaporkan kepada dirinya. Sehingga dia belum mengetahui lebih detail bagaimana hasil rapid test untuk warga yang datang bertakziah tersebut.

Baca Juga : Tak Sesuai Ekspektasi, Jelang Pertengahan Bulan Kasus Covid-19 di Malang Tambah 14 Pasien

"Informasinya yang mencium seperti dalam video itu adalah orang luar kota. Dan aksi itu dilakukan karena mereka beranggapan  hasil rapid test pasien yang meninggal tersebut non-reaktif sehingga dilakukan hal itu," katanya, Selasa (11/8/2020).

Meski begitu, wali kota sangat menyayangkan kejadian tersebut. Dia juga meminta maaf atas kelalaian perangkat daerah setempat seperti camat dan lurah. Dia menginstruksikan agar jajaran Pemerintah Kota Malang bersikap lebih tegas sehingga tak lagi terjadi kejadian serupa.

"Kalau dilihat videonya, seperti ada pembiaran. Saya mohon maaf. Seharusnya Pak Lurah atau Pak Camat bisa langsung menghalangi," ucapnya.

Dia juga berharap agar pihak rumah sakit mempersempit ruang gerak sehingga pelaksanaan pemulasaraan bagi jenazah yang memiliki gejala klinis covid-19 bisa ditangani lebih cepat. "Saya minta agar rumah sakit ada percepatan. Jangan ada proses panjang supaya nggak ada ruang orang dengan bisikan bawa pulang," tambah politisi Demokrat itu.

Sutiaji juga menjelaskan bahwa video viral tersebut hanya sepotong. Saat itu, jenazah tetap dipulasarakan di RSSA Malang dan dikawal ketat oleh petugas sehingga tidak sampai dibawa pulang ke rumah duka.

Petugas juga memperbolehkan jenazah disalatkan di area masjid karena yang meninggal merupakan tokoh yang menyokong keberadaan masjid tersebut. Namun jenazah tetap berada di dalam ambulans.

Baca Juga : Masih Bandel Tak Pakai Masker dan Berkerumun, Sanksi Tegas Non-Toleransi Siap Menanti

"Karena sesuai dengan aturan memang harus menggunakan protokol kesehatan, terutama pasien yang memiliki gejala klinis covid-19," jelas Sutiaji.

Sementara, untuk kemungkinan dilakukan karantina lokal atau pembatasan sosial skala lokal (PSBL), Sutiaji menyampaikan hal itu tidak menjadi pilihan. Sebab, saat ini, Satgas Covid-19 telah melakukan tracing untuk melakukan pencegahan penyebaran covid-19.