Gelaran panggung dangdutan yang dilakukan Bupati Malang HM. Sanusi dan dua biduan. (Dok. JatimTimes)
Gelaran panggung dangdutan yang dilakukan Bupati Malang HM. Sanusi dan dua biduan. (Dok. JatimTimes)

MALANGTIMES - Bupati Malang HM. Sanusi disorot karena aksinya menyanyi ria bersama  dua biduan dangdut diiringi musik elekton saat launching tim sukses pemenangannya menghadapi pilkada 2020. Aksi Sanusi itu dikritik berbagai kalangan karena dianggap abai protokol kesehatan covid-19.

Sanusi tidak menerapkan jaga jarak (physical distancing) yang sesuai anjuran pemerintah saat menyanyi. Acara itu juga mengundang banyak orang.

Baca Juga : Video Dangdutan Sanusi, LIRA Malang: Tak Tepat Waktu, Ini Potret Buruk Kepala Daerah

Padahal, sebagai bupati, Sanusi kerap mengimbau warga agar menerapkan protokol kesehatan. Di antanya memakai masker, jaga jarak, dan tidak berkerumun. Sampai-sampai, untuk mencegah penyebaran covid, warga dilarang menggelar hajatan yang mengundang banyak orang. 

Sanusi sempat berkilah bahwa yang dilakukannya adalah elektonan, bukan dangdutan. Hal itu diungkapkan ketika dimintai tanggapan oleh wartawan terkait aksinya yang menuai sorotan.

Lantas, apa memang ada bedanya antara elektonan dan dangdutan? Dosen Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (UM) Deny Handrianata Mahendra menjelaskan perbedaan antara dangdut dan dangdutan.

"Dangdut merupakan genre musik. Kalau dangdutan merupakan sebuah aktivitas mendengarkan musik dangdut serta adanya suatu interaksi antara si pendengar dan musiknya, yaitu dengan berjoget," ungkapnya, Minggu (9/8/2020). 

Dangdut sendiri mempunyai berbagai jenis. Antara lain dangdut murni, dangdut koplo, dangdut rampak, dangdut gondang, dangdut tarling, dangdut jaranan, dan yang sekarang sering dimainkan dalam sejumlah acara yakni dangdut elekton (electone). 

Khusus dangdut elekton, jika dipecah menjadi dua kosa kata memiliki arti yang masing-masing berbeda. Menurut Deny, elekton sejatinya merupakan sebuah merek dagang dari sebuah perusahaan musik yang mengeluarkan produk organ elektronik. Mereknya Electone.

"Electone sebuah alat musik yang bisa di-setting untuk lagu dangdut, lagu pop, bahkan lagu klasik sekalipun semuanya bisa masuk ke Electone," ujarnya. 

Baca Juga : Mendagri Kembali Tegaskan Jangan Pilih Kepala Daerah yang Abai Protokol Kesehatan

Jadi, jika dilihat dari sisi perbedaan, dangdutan dan elektonan memang dapat diakatakan berbeda. Sebab, memang sejatinya dangdut merupakan genre musik. Sedangkan elekton itu alat musik yang dapat menampung seluruh genre musik, termasuk dangdut. 

"Elekton yang di-setting dengan style dangdut, orang awam menyebutkan itu elektonan. Elektonan itu ya dangdutan, padahal tidak. Soalnya, elekton itu bisa digunakan untuk musik apa saja," ucap Deny. 

Tetapi jika sebuah alat musik elekton  memainkan musik dangdut, Deny mengatakan itu juga dapat dikatakan dangdutan.  

Ketika disinggung perihal video yang menayangkan sosok dua biduan dangdut yang mendampingi Bupati Malang HM. Sanusi dengan diiringi  elekton, Deny membenarkan bahwa itu juga termasuk dangdutan.  "Iya betul, bisa disebut dangdutan," pungkasnya.