Kapolres Malang AKBP Hendri Umar (tiga dari kanan) saat menunjukkan barang bukti para pelaku dalam rilis ungkap kasus di Mapolres Malang, Rabu (5/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kapolres Malang AKBP Hendri Umar (tiga dari kanan) saat menunjukkan barang bukti para pelaku dalam rilis ungkap kasus di Mapolres Malang, Rabu (5/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Komplotan sindikat polisi gadungan yang mengaku anggota Satuan Intelkam Polda Jawa Timur, berhasil diringkus jajaran Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Malang, Selasa (28/7/2020).

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar mengungkapkan bahwa komplotan polisi gadungan tersebut berjumlah empat orang yang terdapat dua orang masih menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang). 

Baca Juga : 18 Tersangka dari 11 Kasus Diungkap Polres Batu, 1 Kasus Mencuci Sabu Pakai Alkohol

"Empat orang melakukan pemerasan kepada korban di Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi ini mengaku anggota Sat Intelkam Polda Jawa Timur yang itu jelas ngarang. Karena Sat Intelkam harusnya dari unsur Polres, kalau Polda merupakan Direktorat Intelkam," ungkapnya saat rilis kasus di Mapolres Malang, Rabu (5/8/2020).

Dua orang yang telah ditangkap berinisial MR (38) warga Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang dan IM (46) warga Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Sementara itu pelaku berinisial ES dan ADP masih dalam tahap pengejaran dan statusnya telah ditetapkan sebagai DPO.

Hendri menjelaskan kronologi pemerasan yang dilakukan oleh empat orang mengaku anggota kepolisian Polda Jatim tersebut dengan memberhentikan mobil box di Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi yang bermuatan sebuah produk minyak tawon dan dituduh bahwa barang tersebut tidak resmi. 

"Kemudian mereka mengaku anggota Sat Intelkam Polda Jawa Timur, kemudian mengancam akan melakukan penindakan terhadap barang yang dibawa oleh si korban," sebutnya. 

Padahal Hendri mengatakan bahwa barang tersebut merupakan barang resmi dan tidak memiliki kesalahan apapun yang akan dikirimkan ke wilayah Malang Selatan.

"Kemudian pelaku menaikkan korban ke dalam mobilnya melakukan pemerasan uang sebesar Rp 50 juta. Korban tidak bisa menyanggupi, karena tidak punya uang, akhirnya diajak ke rumah juragannya," lanjutnya. 

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Angka Kriminalitas Kabupaten Malang Menurun

Setelah bertemu dengan juragan si korban, komplotan sindikat polisi gadungan tersebut terus memeras untuk meminta uang kepada korban sebesar Rp 50.000.000. "Akhirnya pihak juragan dan korban menyerahkan sejumlah uang sebesar Rp 50.000.000 kepada komplotan pelaku ini," imbuhnya. 

Berdasarkan pengakuan tersangka, dari uang hasil kejahatan sebanyak Rp 50.000.000 tersebut, dua tersangka yang ditangkap mengaku mendapatkan jatah sekitar Rp 25.000.000. "Uang hasil kejahatan ini dibelikan sepeda motor seharga RP 17 juta. Sisanya digunakan untuk kepentingan lainnya dan masih ada sisa di atm," tutur Hendri. 

Berdasarkan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) didapatkan beberapa barang bukti berupa pakaian hem, celana hitam, sepatu, tas, kartu atm, SIM (Surat Ijin Mengemudi), 1 unit mobil dengan nomor polisi S-1873-ZB, 1 unit sepeda motor bernomor polisi AG-2240-KAX, senjata air softgun dan borgol. Atas perbuatannya dua pelaku tersebut diancam dengan Pasal 368 dan Pasal 378 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).