Ilustrasi. (Foto: Shutterstock).
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock).

MALANGTIMES - Jumlah angka kematian kasus konfirmasi positif Covid-19 di Malang Raya dinilai tertinggi se-Indonesia.

Hingga kemarin (Selasa, 4/8/2020), dari total kasus sebanyak 742, angka kematian di Kota Malang tercatat mencapai 59 orang. Kemudian, untuk Kota Batu dari total 173 kasus, yang meninggal dunia tercatat sebanyak 12 orang. Sedangkan, Kabupaten Malang dari total 526, pasien yang meninggal ada 43.

Baca Juga : Bersumber dari Website Error, Pernyataan Risma Surabaya Zona Hijau Menyesatkan

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyebut jika angka kematian untuk Kota Malang tinggi lantaran adanya pasien dari luar daerah yang dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19.

Salah satunya, Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang yang juga menerima pasien Covid-19 dari beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur seperti, Bangil, Pasuruan, Probolinggo maupun Surabaya.

"Banyak orang yang bukan warga Malang tapi kejadiannya di Malang. Itu kematian di Malang Raya. Karena Malang ini banyak rujukan seperti di Saiful Anwar kematian banyak di rumah sakit rujukan. Dan di sini bukan rujukan Malang Raya saja, ada yang pasien-pasein juga dari luar yang memang kadang sudah di-declair (dicatatkan) di Malang. Ini yang setelah saya telusuri itu," ujarnya, ditemui Rabu (5/8/2020).

Lebih jauh ia mengungkapkan, angka kematian cukup tinggi juga berasal dari pasien dalam pengawasan (PDP). Yang mana sebagian besar memiliki riwayat komorbid atau penyakit penyerta.

Namun, dari angka kematian itu didominasi oleh masyarakat yang belum tergabung sebagai Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) di layanan kesehatan di Kota Malang.

"Kami dari dulu tekankan dari PDP itu angka kematiannya agak tinggi di komorbid, tapi yang lucu ini nggak termasuk anggota prolanis. Di kita itu (Prolanis) jumlahnya 19 ribu yang punya komorbid, tapi yang meninggal dari totalitas itu data yang kami peroleh dari puskesmas maupun dari klinik itu nggak lebih dari 10 yang ikut Prolanis," imbuhnya.

Karenanya, ia meminta pendataan secara rinci bisa diketahui oleh masing-masing kelurahan di Kota Malang. Hal itu untuk meningkatkan sistem pemantauan PDP di masing-masing wilayah.

"Saat ini data sudah kami share ke masing-masing lurah, Babinsa dan Babinkamtibnas. Maka akan kami lakukan bagaimana pengawasan dan pemantauan terhadap PDP maupun orang yang terkonfirmasi positif Covid-19," tandasnya.

Baca Juga : Dua Hari 78 Orang Sembuh, 231 Pasien Covid-19 di Kota Malang Masih Jalani Perawatan

Lebih lanjut, Juru Bicara Gugus Satgas Covid-19, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif menyampaikan jumlah angka kematian atau mortality rate pasien positif Covid-19 di Kota Malang saat ini mencapai 8,1 persen.

Angka tersebut terbilang cukup tinggi, karena melebihi rata-rata batas angka kematian nasional di mana mortality rate di angka 5 persen. 

"Kalau Kota Malang dari konform (Positif Covid-19) yang sudah akumulatif sampai tadi malam angka kematian kita sudah 8,1 persen, kalau rata-rata itu kan antara 4 sampai 5," terangnya.

Mayoritas penyebab kematian dari pasien memang dari pasien yang memiliki riwayat komorbid. Hal itu, dijelaskannya sangat rentan terjadi bagi pasien yang terpapar virus Covid-19. 

"Jadi, dari 59 konform yang meninggal itu semuanya mempunyai komorbid. Itu yang memperkuat kondisi pasien manakala terpapar virus Covid-19," pungkasnya.

Sebagai informasi, dari data Gugus Satgas Covid-19 Kota Malang hingga 4 Agustus 2020, dari 742, pasien yang sembuh juga meningkat kini totalnya sebanyak 407. Sementara untuk suspek totalnya 1.778.