Pasha Ungu (Foto: IG pashaungu_vm)
Pasha Ungu (Foto: IG pashaungu_vm)

MALANGTIMES - Penampilan Wakil Wali (Wawali) Kota Palu Sigit Purnomo Syamsuddin Said atau Pasha Ungu kembali menuai kontroversi. Pasalnya, Pasha sempat membuat heboh dengan penampilan rambutnya yang dicat pirang.  

Sebelumnya, di tahun 2018 Pasha juga sempat menjadi sorotan lantaran model rambutnya yang dikuncir dan gondrong. Sebagai pejabat, penampilan Pasha pun dinilai kurang etis oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Baca Juga : Situasi Neverland yang Kini "Menakutkan" setelah Michael Jackson Meninggal 11 Tahun Lalu

Kini setelah tahu rambutnya menjadi kontroversi, rupanya Pasha memutuskan untuk berpenampilan baru. Ia memutuskan untuk mencukur gundul rambutnya. Hal itu terlihat melalui IG Stroy Pasha @pashaunggu_vm.  

Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Said (Pasha Ungu) cukur gundul usai rambut pirangnya jadi sorotan (dok. Istimewa)
Foto: Instagram

Tampak rambut Pasha yang dicukur oleh Ifan Taufan. Diinformasikan oleh asisten pribadi Pasha, vokalis band Ungu ini mencukur rambutnya pada Kamis (30/7/2020) pukul 00.00 WITA.

Sebelumnya, terkait rambut Pasha yang dicat pirang, Kemendagri mengatakan jika tak ada larangan kepala daerah untuk mengecat rambut. "Setahu saya, nggak ada larangan kepala daerah ngecat rambut," ujar Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Akmal Malik.

Bahkan, Akmal mengatakan jika bukan hanya Pasha pejabat daerah yang mewarnai rambutnya. Namun, pendapat itu berbeda dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.  

Tito Karanavian justru menegur Pasha. Menurut Tito sebagai pejabat harusnya memberikan contoh penampilan yang baik.  

Baca Juga : Laudya Cynthia Bella Resmi Cerai dari Engku Emran, Mantan Istri Pertama Ikut Bereaksi

"Sebaiknya pejabat negara beri contoh  yang baik, dan bertindak negarawan, negarawan itu penampilan," kata Tito.

Lebih lanjut, Tito mengaku jika ia memahami latar belakang Pasha yang berasal dari dunia hiburan. Kendati demikian, kini Pasha juga sudah menjadi pejabat dan harus menonjolkan jiwa seorang birokrat.

"Beliau harus bisa menempatkan antara seniman dan birokrat yang memiliki kode etik," ujar Tito.