Foto ilustrasi. (Doc: Freepik.com)
Foto ilustrasi. (Doc: Freepik.com)

MALANGTIMES - Meski Indonesia masih dilanda pandemi covid-19, kegiatan belajar mengajar tidak mungkin tidak dilaksanakan. Pada tahun ajaran baru 2020/2021 ini, setiap sekolah yang berada di zona merah, oranye, dan kuning harus melakukan kegiatan belajar mengajar dalam jaringan (daring).

Masalahnya, apakah semua mampu mengadakan sistem daring di sekolahnya masing-masing? Disadari, tidak semua sekolah memiliki anggaran memadai untuk menyiapkan sistem seperti learning management system (LMS) yang mumpuni untuk sekolah mereka.

Baca Juga : Warga Keluhkan Kendala Pembelajaran Daring, Pemkot Malang Siapkan Solusi Ini

Atas dasar itu, dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) Dr Eng Fadly Usman ST MT meluncurkan learning management system (LSM) secara gratis untuk siapa saja dan sekolah mana saja yang ingin memilikinya.

LSM sendiri adalah sarana bagi sekolah untuk dapat melakukan pengaturan dan pengelolaan materi pembelajaran bagi siswa. Dalam platform ini, diharapkan semua informasi terkait kegiatan belajar dan mengajar dapat dituangkan dalam satu platform untuk semua keperluan siswa.

"Mulai dari materi pelajaran, bahan ajar, lembar kerja siswa, jadwal pelajaran, kelas online (daring), kelas kursus online, video materi pembelajaran. Bahkan koperasi siswa juga bisa menjual barangnya secara online," terangnya.

Bekerja sama dengan ICON+ yang merupakan anak perusahaan PLN (Persero) di bidang telekomunikasi, LSM di-bundling bersama dengan paket data GSM ICON+ dengan biaya per bulan per siswa mulai dari Rp 20 ribu.

Dalam hal ini, GM ICON+ SBU Regional Jawa Timur Agus Widya Santoso menjelaskan bahwa ICON+ siap bekerja sama dengan sekolah dan dan juga Dinas Pendidikan di seluruh Jawa Timur untuk menghadirkan sistem pendidikan daring yang murah dan berkualitas.

Manajer ICON+ Kantor Perwakilan Malang Eko Candrasasmita juga menambahkan, LMS yang ditawarkan secara gratis diharapkan dapat mengurangi beban siswa dan juga sekolah dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di masa kelaziman baru.

Dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara ICON+ dan perancang LMS belum lama ini, Eko Candrasasmita menyampaikan beberapa keluhan dari orang tua murid tentang biaya pembelajaran yang semakin membengkak. “Ada seorang ibu yang mengatakan bahwa uang kuota internet sebesar Rp 50 ribu ternyata habis dalam dua hari dan ini sungguh memberatkan kami,” ucapnya.

Interface LMS sendiri bisa diakses melalui internet pada laman www.lms4free.com yang mana nama domain, tulisan header, gambar dan lain sebagainya dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap sekolah yang ingin menggunakannya.

Baca Juga : Webinar dengan Pembicara Terbanyak Satu Perguruan Tinggi, Unikama Raih Rekor Muri

Adapun layanan yang diberikan di antaranya adalah sebagai gerbang menuju storage materi pembelajaran seperti kumpulan materi pembelajaran, soal-soal, bahan ujian kelas, lembar kerja siswa. Semuanya dibuat dalam format elektronik atau digital dan juga dalam format cetak (print out).

Fitur lain yang bisa didapatkan dengan penggunaan LMS ini adalah presensi online dengan menyematkan teknologi geo-tag. Sehingga setiap murid yang melakukan absensi akan diketahui lokasinya memang berada di rumah karena langsung ditunjukkan secara live saat siswa melakukan presensi online.

Fitur penting lainnya adalah pembelajaran online. Karena sejalan dengan konsep merdeka belajar, terdapat platform video conference pada laman lms4free di mana seorang guru dapat melakukan kegiatan tatap muka online dengan jumlah murid yang dibatasi sebagnyak 50 orang murid saja.

Semua kegiatan pembelajaran online juga diunggah ke laman YouTube channel milik sekolah sehingga seorang siswa dapat mengulangi video kegiatan tatap muka pada hari dan kesempatan yang berbeda.

“Kami ingin memfasilitasi proses belajar mengajar ini dengan metode yang sederhana, mudah, dan juga murah. Kami akan bagikan secara gratis kepada seluruh sekolah yang membutuhkannya. Hubungi saja kami,” tukas Fadly Usman.