Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)

MALANGTIMES - Sejak kurun 2014 hingga 2020, total ada 10 nyawa mahasiswa tingkat akhir yang bunuh diri di berbagai penjuru Indonesia. Dugaannya, karena depresi saat mengerjakan skripsi. Para pejuang skripsi pun banyak yang mencurahkan isi hati alias curhat terkait tekanan dan beban pikiran selama menyelesaikan tugas akhir ini.

Aditya, salah satu mahasiswa universitas negeri di Malang mengaku mengerjakan skripsi selama empat tahun. Lamanya proses itu, menurutnya berasal dari gabungan berbagai faktor. "Sejak semester 6 sudah proposal, tapi molor lama sampai empat tahun baru selesai, bahkan nyaris drop out," ujarnya.

Baca Juga : Baru Tiga Bulan jadi Staf, Bupati Sanusi Angkat Harry sebagai Kepala Dinas

Salah satu faktor yang paling berpengaruh, lanjutnya, yakni hilangnya motivasi diri. "Saya sempat ada masalah pribadi, ketika itu saya drop dan berujung terlambat mengerjakan skripsi. Apalagi, teman seangkatan sudah banyak yang selesai, jadinya nggak ada teman ngerjakan," sebutnya.

Mengisi waktu sebagai mahasiswa akhir, Aditya mengaku juga bekerja. Alhasil, beban pekerjaan sekaligus membuatnya tak lagi fokus mengerjakan skripsi. "Kan sudah mau lulus, dituntut untuk mandiri. Mulai kerja, keasyikan kerja juga dan terbengkalai," akunya.

Menurutnya, birokrasi bimbingan skripsi yang berbeli-belit juga membuatnya malas. "Susah ketemu dosen, akhirnya malas juga. Mikirnya, kan ini skripsi cuma satu mata kuliah, kok ribet banget. Bolak-balik disuruh revisi, tempat penelitian juga jauh," terang pria berkacamata ini.

Curhat senada juga banyak berseliweran di media sosial, misalnya dengan tagar #pejuangskripsi. Akun @unycommunity pernah membuat utasan soal gregetnya para mahasiswa akhir mengerjakan skripsi. "Teruntuk #pejuangskripsi seberapa greget dosen pembimbing kalian?" demikian cuitan akun tersebut.

"Pas lagi pandemi gini, chat dosen cuma di baca aja, trs patah hati dong ya, akhirnya memberanikan diri menghubungi beliau lagi dan disuruh nyusun langsung bab 1-5 gan," tulis akun @arshifi1.

"Pernah nunggu di depan kajur dari pagi sampe ashar karna bapaknya gamau janjian, pas udah ketemu disuruh besok aja karna lagi ngga mood wkwk," curhat akun @anislistyamurti.

Para alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pun berkomentar soal fenomena mahasiswa akhir yang depresi gara-gara skripsi. Ahmad Prakosa misalnya, menilai bahwa output skripsi cenderung hanya tulisan.

Menurut Ahmad, perlu regulasi menampung kreativitas mahasiswa. "Bunuh diri mahasiswa diduga karena skripsi, bisa saja terjadi karena tekanan. Karena skripsi sebagai prasyarat utama kelulusan, dan tidak mungkin ditawar. Selain itu, mungkin ada tekanan dari orang-orang terdekat," ujar pria yang lulus pada 2017 itu.

Mantan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam UII ini mencontohkan, tekanan dari dosen bentuknya adalah proses bimbingan yang kemudian mengarah pada meneliti dan menulis sesuai dengan main idea dosen pembimbing. “Seakan otoritas berpikirnya kemudian adalah milik dosen," paparnya.

Tak jarang, lanjutnya, skripsi pada akhirnya dikerjakan hanya asal lulus. Hal ini menjadi lebih kuat kalau dosen pembimbingnya juga berpendapat sama agar skripsi cepat selesai dikerjakan mahasiswa. “Lebih lagi, kalau program studi, dosen pembimbing, dan mahasiswanya semua ingin cepat lulus, maka semangat segera lulus adalah yang menjadi dominan,” ungkapnya.

Baca Juga : MalangTIMES, NU dan Guru Besar UB Temukan Solusi Baru Atasi Covid-19

Dia pun memberikan ide agar syarat kelulusan S1 yang akan datang tidak hanya skripsi. Namun, mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan minatnya.

Menurutnya karena output skripsi sekarang yang cenderung selesai ‘hanya’ di tulisan. Lebih kongkritnya mahasiswa difasilitasi untuk mampu explore sesuai dengan jurusannya.  “Kampus hanya memberi garis besar pada scoupe apa, dan untuk produknya boleh dalam bentuk apa saja," tambahnya.

Dengan regulasi baru, maka tantantan zaman yang bukan lagi soal kecerdasan, tapi lebih ke inovasi, kreativitas dan membaca peluang akan menjadi karakter para sarjana. Menurutnya, hal ini bisa terjadi kalau persaingan ide dibuka, tidak terus hanya mengikuti ide lama.

Contoh mengikuti ide lama itu adalah sering mengutip tulisan tokoh-tokoh besar. “Hal ini membuat mahasiswa kalah besar terus. Kemerdekaan belajar harus diberi ruang sesuai dengan clusternya. Kebebasan yang diberi patokan agar tidak kebablasan,” tuturnya.

Alumni pejuang skripsi lainnya, Rizqi Amalia menekankan bahwa penting bagi mahasiswa akhir untuk saling memberi dukungan dan doa. "Proses bimbingan skripsi yang saya lalui pada awalnya termasuk susah. Tapi oleh orang tua diminta terus mendoakan dosbing (dosen pembimbing) biar lancar," kisahnya.

Lulusan tahun 2019 ini menyebut, dukungan dari teman secara moral juga sangat berpengaruh. "Teman-teman seangkatan saling mendukung. Jika ada kesulitan kita saling bantu,” pungkasnya.

Lantas seperti apa dari sisi para dosen pembimbing? Simak dalam uraian lapsus ini selanjutnya.