Ketua PCNU Kota Malang yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Malang Dr Isroqunnajah MAg dalam seminar nasional online bertema "Kurban, Sembelihan Halal, dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U". (Foto: Ima/MalangTIMES)
Ketua PCNU Kota Malang yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Malang Dr Isroqunnajah MAg dalam seminar nasional online bertema "Kurban, Sembelihan Halal, dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U". (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jumat (31/7/2020) mendatang, Idul Adha 1441 H atau Hari Raya Kurban dirayakan. Selain melaksanakan salat Idul Adha, umat Islam juga melakukan penyembelihan hewan kurban.

Berbeda dengan penyembelihan hewan kurban sebelumnya, di masa pandemi covid-19 ini ada beberapa protokol yang harus diperhatikan.

Baca Juga : Fenomena Munculnya Agama Muslim, Bukan Islam, Adakah di Kabupaten Malang?

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang Dr Isroqunnajah MAg menjelaskan, protokol tersebut mengacu pada Fatwa MUI No 36 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan ldul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19 pada ayat 6.

Dalam seminar nasional online bertema "Kurban, Sembelihan Halal, dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U" yang belum lama ini digelar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang, Isroqunnajah menyampaikan, pertama, pihak yang terlibat dalam penyembelihan harus saling menjaga meminimalisasi terjadinya kerumunan.

"Waktu sebelum covid, betapa orang ikut meramaikan karena itu bentuk syiar kita. Tetapi hari ini mungkin hanya penyembelih atau kalau itu diserahkan ke institusi tertentu, apa itu masjid atau lembaga sekolahan atau universitas, maka cukup dihadiri penyembelih dan orang yang mungkin berkurban," papar pria yang juga menjabat wakil rektor bidang kemahasiswaan UIN Malang tersebut.

Menurut Isroqunnajah, sesuangguhnya orang yang berkurban tidak harus hadir di tempat itu kalau dia sudah mewakilkan kepada orang lain.

Kedua, selama kegiatan penyembelihan berlangsung, pelaksana harus menjaga jarak fisik (physical distancing), memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun selama di area penyembelihan, setiap akan mengantarkan daging kepada penerima, dan sebelum pulang ke rumah.

Ketiga, penyembelihan kurban dapat dilaksanakan bekerja sama dengan rumah potong hewan dengan menjalankan ketentuan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal.

Keempat, apabila ketentuan pada poin ketiga tidak dapat dilakukan, maka penyembelihan dilakukan di area khusus dengan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek kebersihan, sanitasi, serta kebersihan lingkungan. "Dan yang jelas harus physical distancing," tandas pria yang akrab disapa Gus Is tersebut.

Kelima, pelaksanaan penyembelihan kurban bisa mengoptimalkan keluasan waktu selama 4 hari. Mulai dari setelah pelaksanaan salat Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah hingga sebelum magrib tanggal 13 Dzulhijjah.

Baca Juga : Aturan Salat Idul Adha, Satgas Covid-19 Kabupaten Malang: Tunggu Instruksi Pusat

"Monggo diserahkan kepada masing-masing takmir atau lembaga-lembaga yang menerima perwakilan dari siapa pun orang yang akan melakukan kurban. Jadi, bisa dibagi berapa jumlah kurban sapi dan kambingnya serta  harus kapan dilakukan (penyembelihan). Yang jelas sebelum magrib tanggal 13 Dzulhijjah, semua sudah selesai, sudah distribusi," ungkapnya.

Keenam, pendistribusian daging kurban dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Gus Is menambahkan, pendistribusian hewan kurban harus diserahkan dalam bentuk mentah.

"Karena kita tetap memfasilitasi siapa pun orang yang mendapat. Mau dijual, mau disate, mau digulai, mau dikrengseng, itu urusan yang menerima," tandasnya.

Gus Is juga menyampaikan, pada saat Idul Adha, umat Islam dilarang berpuasa. Sebab, berpuasa di hari itu sama dengan berpaling dari nikmat Allah.