Kasat Lantas Polres Malang AKP Diyana Suci Listyawati saat ditemui oleh awak media di Mapolres Malang, Jumat (24/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES)
Kasat Lantas Polres Malang AKP Diyana Suci Listyawati saat ditemui oleh awak media di Mapolres Malang, Jumat (24/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Salah satu polwan tangguh yang dimiliki Polres Malang ini telah banyak makan asam garam selama menjadi polisi di berbagai wilayah di Indonesia hingga ke luar negeri. Dia adalah Kasatlantas Polres Malang, AKP Diyana Suci Listyawati.

Diyana merupakan polisi wanita pertama yang menjabat sebagai Kasatlantas di lingkungan Polres Malang selama bertahun-tahun. Tugas yang berat sebagai polisi harus ditempuh dan juga tugas sebagai seorang ibu juga tetap harus dilakukan. 

Baca Juga : Quraish Shihab Paparkan Keindahan Rupa dan Perangai Nabi Muhammad

Tetapi dirinya berkomitmen bahwa jika telah mengenakan lencana kepolisian yang terpasang di seragamnya, bahwa tanggungjawab harus terus dilakulan meskipun tenaga terkuras habis untuk menjadi pengayom masyarakat. 

"Ketika kita memakai lencana ini kita tidak mengedepankan gender. Jadi ketika tugas saya belum selesai, saya mengedepankan jika saya ini polisi," ungkapnya ketika ditemui awak media di Mapolres Malang.

Perempuan kelahiran Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada tahun 1986 ini menuturkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terkait gender ketika dirinya menempuh pendidikan sebagai Taruni angkatan ke-tiga di Akademi Polisi (Akpol) yang masuk pada tahun 2004 dan telah lulus pada tahun 2007. 

"Di Akpol saya Taruni angkatan ke-tiga. Jadi jumlah kami waktu itu baru satu pleton dari 10 pleton di angkatan. Jumlah Taruni ada 30 orang dan tarunanya 270 orang," sebutnya.

Sebenarnya berkarir di dunia kepolisian bukan cita-cita utama yang diinginkan oleh Diyana, melainkan sejak dulu Diyana berkeinginan untuk berkarir di luar negeri. Tetapi atas arahan orang tua, utamanya bapak yang juga berkarir di dunia kepolisian, Diyana akhirnya mendaftarkan diri sebagai Taruni Akpol di usia 19 tahun.

"Berkarir di kepolisian awalnya karena saya bercita-cita bekerja di luar negeri. Lalu orang tua saya mengarahkan jika saya bekerja di kepolisian maka saya bisa bekerja di luar negeri juga, akhirnya saya mendaftarkan diri sebagai Taruni Akpol," jelasnya. 

Setelah lulus dari Taruni Akpol, Diyana mengatakan bahwa pertama kali dirinya berdinas yakni di Polda Metro Jaya dengan segala macam tantangan dan karakteristik masyarakat yang terdapat di wilayah hukum Polda Metro Jaya. 

"Saya pernah dinas di Polda Metro itu mungkin untuk demografi tidak luas tetapi secara karakteristik masyarakatnya beranekaragam ada tantangannya sendiri," ungkapnya.

Setelah berdinas di Polda Metro Jaya, akhirnya cita-cita Diyana untuk berkarir di luar negeri tercapai dengan dipindahtugaskan dirinya di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Den Haag, Belanda sebagai ajudan dari Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Retno Marsudi. 

"Saya mendapat kesempatan untuk berdinas di luar negeri, tepatnya di KBRI Den Haag, Belanda pada tahun 2011 sampai 2014 sebagai ajudan Dubes Bu Retno Marsudi," ungkapnya. 

Setelah itu, Diyana pindah tugas ke Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kemudian masuk di wilayah Jawa Timur sebagai Kasat Lantas Polres Batu dan hingga saat ini menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Malang sejak (23/3/2020) sampai saat ini.

Penempatan Diyana yang berpindah-pindah merupakan tantangan tersendiri bagi dirinya yang merupakan perwira polisi dalam menempatkan diri di tempat baru dengan cepat, tepat dan tuntas.

"Senangnya hidup kita jadi bervariasi dan tidak monoton. Kita juga berdinasnya muter-muter itu juga ada sisi enaknya juga," ujar ibu satu anak ini. 

Dalam bertugas terdapat dua sosok perempuan yang menjadi figur panutan Diyana dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara yang berdinasi di kepolisian, yakni ibu kandung Diyana sendiri yang meskipun bekerja tetapi masih bisa menjadikan anak-anaknya lebih baik lagi.

Satu lagi sosok perempuan yang menjadi figur inspiratif Diyana, yakni Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi yang dimana Diyana menjadi ajudan saat Retno menjabat sebagai Duta Besar RI di Den Haag, Belanda selama tiga tahun. 

Baca Juga : Polisi Penguji SIM Ini, Ternyata Juga Pawang Ular

"Disitulah saya mendampingi langsung Bu Retno selama tiga tahun, bisa me-manage waktu ketika dia berkarir, ketika dia berkeluarga, dia bisa seimbang. Di situ saya melihat, wanita juga bisa. Tapi memang effortnya harus melebihi yang lain, karena istilahnya udah selesai urusan kerja, kamu harus urusin rumah," jelasnya.

Perempuan yang dipersunting oleh seorang jaksa ini mengatakan bahwa meskipun sebagai Polisi dirinya tidak kantas melupakan keluarga, suami dan anak. Tetap Diyana memerhatikan semuanya meskipun sesibuk apapun. 

"Keluarga ada faktor utama dalam support system kita. Suami saya sendiri adalah orang yang sangat mendukung sekali dengan keberadaan saya sebagai petugas sekarang," ungkapnya. 

Untuk memberikan pelajaran pengetahuan kepada anaknya yang masih berusia 2 tahun, Diyana akan memaksimalkan waktu-waktu khusus yang memang telah disiapkan untuk keluarga. Jadi semisal hanya tersedia waktu yang pendek, Diyana akan memaksimalkan kualitas pengetahuan yang diberikan kepada anaknya. 

"Anak saya masih kecil, jadi quality time kita lebih mengajak ke kebun binatang dan taman bermain. Jadi saat saya ada kesempatan mendampingi anak maka akan saya ajak ke tempat-tempat yang seharusnya dia ada," jelasnya. 

Selain menyempatkan memberikan pengetahuan kepada anaknya, Diyana yang seorang polisi tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri kepada suami. Hal itu dibuktikan dengan Diyana yang terkadang masih sempat menyiapkan makanan favorit sang suami.

"Ya saya bisa masak. Suami saya itu gampang kalau makanan, dia itu senang ikan mangut atau disini biasanya ikan pe. Itu aja tinggal dikasih santan, dia sudah suka," ujarnya disambut tawa Diyana dan awak media. 

Sementara itu, terpisah ketika dikonfirmasi, Kapolres Malang AKBP Hendri Umar mengatakan bahwa Diyana merupakan seorang Polwan yang tidak kalah untuk kinerjanya dengan para Polki (Polisi Laki-Laki). Diyana dikenal sebagai seorang anak buah yang penuh inovasi dan mempunyai etos kerja yang tinggi.

"Contohnya (inovasi) sekarang Samsat Jelita. Itu samsat jelajah kampung yang khusus ditaruh di kampung-kampung tangguh yang di wilayah Malang Selatan. Itu berjalan maksimal," ungkapnya. 

Untuk etos kerjanya yang tinggi Diyana selalu menuntaskan pekerjaan hingga rampung, meskipun Hendri terkadang juga melihat sisi Diyana yang juga seorang ibu dan harus memerhatikan keluarganya di rumah. 

"Terkadang kalau ada giat seperti cipkon yang sampai malam hari, itu Diyana terkadang kalau sudah jam 10 malam saya suruh pulang. Tapi dia masih ingin menuntaskan sampai selesai tugasnya," jelas Hendri. 

Terakhir Hendri juga mengatakan bahwa kinerja Diyana yang baik dapat terlihat saat pengaturan lalu lintas atau kegiatan yang melibatkan Satuan Lalu Lintas Polres Malang dirinya selalu menyempatkan hadir secara langsung. 

"Bahkan yang bersangkutan sendiri yang turun ke lapangan untuk benar-benar anggotanya melaksanakan tugasnya," pungkasnya.