Masalah Perilaku Destruktif Remaja Mengemuka di Webinar Nasional UIN Malang

Jul 23, 2020 16:50
Ilustrasi narkoba pada remaja. (Foto: https://ukrhealth.net)
Ilustrasi narkoba pada remaja. (Foto: https://ukrhealth.net)

MALANGTIMES - Kekerasan dalam mendidik anak barangkali tidak serta merta berdampak langsung terhadap mereka. Namun, data menunjukkan, di usia mereka yang ke 18-24 timbul perilaku-perilaku destruktif.

Pengasuh Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan El Muhammady MSi membeberkan hasil riset dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tahun 2018 mengenai dampak-dampak ini.

Baca Juga : Perguruan Tinggi Tak Perlu Berebut Mahasiswa, Solusi Ciamik: Cross Register Student

"Dampak kekerasan anak perempuan adalah merokok 13,20%, mabuk 12%, menyakiti dirinya 13%, terpikir bunuh diri 11%, dan narkoba itu 6%," katanya dalam webinar yang digelar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Kamis (23/7/2020).

Sedangkan, bagi anak laki-laki, yakni mabuk 25%, merokok 46%, dan perilaku destruktif lainnya adalah 27,60%.

"Ini terjadi akibat perilaku yang mereka dapatkan, kekerasan di usia sebelum 18 tahun lalu berefek pada perilaku mereka pada usia 18 sampai 24 tahun," ucapnya.

Tindak kekerasan dalam pendidikan anak ini di antaranya memanggil bodoh, membentak/menakuti, mencubit/menjewer, menampar/memukul/menendang, mendorong/mengguncang badan, dan lain-lain.

Data persentase dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, pasangan yang menggunakan kekerasan dalam mendidik anak usia 1 sampai 14 tahun dengan memanggil bodoh sebesar 17%, membentak/menakuti sebesar 41,86%, mencubit/menjewer sebesar 30,97%, menampar/memukul/menendang sebesar 4,34%.

"Dan sampai sekarang ternyata masih meningkat," imbuhnya.

Tingkat pendidikan orang tua yang melakukan kekerasan kepada anak dalam mendidik untuk usia anak 1-14 tahun di rumah ini, yakni yang tidak punya ijazah SD sebesar 59,71%, SD sederajat 56,77%, SMP 56,37%, SMA sederajat 51,87%, dan perguruan tinggi 44,07%.

"Artinya, orang tua yang terdidik pun ternyata cukup tinggi melakukan kekerasan kepada anak," ucapnya.

Mereka melakukan kekerasan psikologi dan fisik sebesar 23,17%, hanya fisik saja sebesar 10,16%, dan kekerasan psikologis sebesar 21,48%.

Baca Juga : Perempuan Ingin Kuliah di Perguruan Tinggi Arab Saudi, KBRI Riyadh: Harus Ada Muhrim!

Sementara itu, laporan Unicef tahun 2015, di usia anak 13-15 tahun, 40% dari mereka sering mendapatkan hukuman fisik minimal satu kali setahun, 26% hukuman fisiknya di rumah, dan 50% di-bully di sekolah.

"Jadi 50% anak-anak Indonesia itu mendapatkan bullying dari teman sebayanya di sekolah. Berarti kita punya PR yang serius kalau kita ingin melindungi anak Indonesia. Harus ada sekolah dan ada kebijakan pemerintah memang menjadikan semua sekolah Indonesia dan lingkungan anak bebas bullying. Ini menjadi PR kita," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang, Harry Setia Budi SSTP MSi mengungkapkan bahwa di tengah pandemi covid-19 ini, kasus-kasus kekerasan pada anak cukup meningkat khususnya di Jawa Timur.

"Tapi di Kabupaten Malang ini yang terdata di kami tidak terlalu signifikan. Mudah-mudahan harapan kami tidak terjadi. Tapi yang kami khawatirkan seperti fenomena gunung es, kami khawatir bahwa jangan sampai hal itu tidak terlaporkan namun terjadi di masyarakat," ucapnya.

Kata dia, Kabupaten Malang dari tahun ke tahun telah berupaya menciptakan daerah layak anak dengan berbagai macam strategi.

Untuk diketahui, Fauziah dan Harry menjadi pembicara dalam Webinar Nasional 2020 bertema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju" yang diadakan UIN Malang melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Malang.

Topik
Berita MalangUIN MalangWebinar UIN MalangKasus Kekerasan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru