Forkopimda Jatim ketika memberikan keterangan pers.
Forkopimda Jatim ketika memberikan keterangan pers.

MALANGTIMES - Kabar menggembirakan datang menjelang berakhirnya Juli seiring semakin banyaknya pasien positif Covid-19 yang sembuh di Jawa Timur (Jatim). Tercatat pasien sembuh saat ini sudah tembus 10.065 orang.

Sementara yang masih dirawat sebanyak 7.302 orang hingga Selasa (21/7) malam. Sehingga tingkat kesembuhan sudah mencapai 54,46 persen dan yang dirawat sebanyak 40,21 persen.

Baca Juga : Agar Pasien Covid-19 Cepat Sembuh, Kapolres Malang Rajin Lakukan Kunjungan

Selasa (21/7) malam Forkopimda Jatim menggelar konferensi pers di Rupatama Polda Jatim. Hadir Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Irsyansyah dan Kapolda Jatim Irjen Pol Fadil Imran.

Dalam paparannya, Fadil mengaku bersyukur dengan tingkat kesembuhan yang sudah tinggi ini di Jatim. Dia juga menyebut apa yang sudah dilakukan Forkopimda Jatim dalam menghadapi Covid-19 sudah on the track.

Fadil juga menyampaikan tips yang sudah dia lakukan selama ini. Salah satunya dengan membagikan obat herbal Lianhua Qingwen Jiaonang asal China kepada masyarakat yang terkonfirmasi positif virus corona (Covid-19). Obat ini dipercaya bisa menguatkan imun tubuh.

Obat ini diproduksi oleh perusahaan bernama Shijiazhuang Yiling Pharmaceutical Co., Ltd. Untuk penanganan di Jatim, obat tersebut dibagikan ke pasien positif Covid-19 yang memiliki gejala ringan hingga sedang.

Setiap kapsul obat tersebut mengandung ramuan herbal, di antaranya 25 milligram forsythia fructose, 85 milligram ephedrae herba (hiney-fired), 225 milligram lonicerae japonicae flos, 225 milligram isatidis radix.

Kemudian 225 milligram dryopteridis crassirhizomatis rhizoma, 85 milligram pogostermonis herba, 85 milligrams rhodiolae crenulatae radix et rhizoma dan sejumlah kandungan lainnya.

Fadil mengaku berinisiatif memberikan obat itu ke masyarakat yang positif Covid-19 berdasarkan praktik pengobatan yang sudah dilakukan di Wuhan, China dan bahkan Jakarta.

"Setelah dikonfirmasi oleh beberapa masyarakat yang terkonfirmasi positif dengan gejala ringan dan sedang, alhamdulillah sembuh," ujarnya.

Dia menjelaskan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) berperan penting dalam penyaluran obat itu ke masyarakat. Mereka bisa langsung memberikan obat herbal tersebut untuk pertolongan pertama.

"Babinsa dan Bhabinkamtibmas, cepat dia monitor, begitu ada yang batuk-batuk langsung datang. Dia rapid, begitu reaktif, dia swab, dikasih obat ini," lanjutnya.

Baca Juga : Tambah 10 Pasien Sembuh Covid-19 di Kota Batu, 42 Masih Dirawat, 8 Meninggal

Fadil juga mencontohkan anggotanya yang sembuh setelah meminum obat tersebut tanpa harus dirawat di rumah sakit. Obat tersebut juga telah digunakan oleh kepolisian daerah lain, seperti Polda Sulawesi Selatan dan Polda Kalimantan Selatan.

"Ada anggota-anggota saya yang meminum obat ini tanpa dia harus ke rumah sakit. Kemudian dia bisa sembuh," tegasnya.

Meski demikian, Fadil menyebut bahwa obat asal China itu bukan bagian dari penanganan penyakit Covid-19 secara medis. Ia menyampaikan obat tersebut hanya memperkuat imunitas masyarakat yang terpapar virus.

"Ini adalah cara kita untuk memperkuat imunitas dengan memberikan obat herbal seperti ini. Berdasarkan praktek penyembuhan yang menghasilkan hal positif, kita pakai," lanjut dia.

Dia menambahkan khusus pasien PDP dan positif yang berat sekali tetap diarahkan ke dokter. "Bayangkan andai semua didorong ke rumah sakit bagaimana tenaga dokter mau rileks, mau relaksasi," imbuhnya.

Merujuk pada jurnal medis peer-review bulanan yang diterbitkan Global Times oleh Phytomedicine obat Lianhua Qingwen Jiaonang disebut dapat meredakan gejala dan meningkatkan tingkat penyembuhan pasien Covid-19 yang menunjukkan gejala ringan.

Pengobatan dengan obat itu selama 14 hari menghasilkan tingkat yang secara signifikan lebih tinggi dan waktu pemulihan gejala yang lebih pendek daripada pengobatan biasa.

Lianhua Qingwen mengandung 13 herbal, termasuk lonicera japonica, forsythia suspense dan rhodiola rosea. Obat itu dipasarkan sejak krisis SARS pada tahun 2003 di China.