Salah satu pemilik Warung Tomboan, Cak Yasin sedang meramu minuman yang akan disajikan kepada pengunjung, Minggu (19/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Salah satu pemilik Warung Tomboan, Cak Yasin sedang meramu minuman yang akan disajikan kepada pengunjung, Minggu (19/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Jika kebanyakan warung mengusung konsep modern, berbeda dengan warung Tomboan yang terletak di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Sekitar 18 kilometer (km) dari tengah Kota Malang dengan jarak tempuh kurang lebih sekitar 35 menit.

Warung Tomboan mengusung konsep 'Back To Nature' atau kembali ke alam. Konsep tersebut telah nampak terlihat dari tatanan warungnya yang serba tradisional.  Mulai dari cara memasak makanan dan minuman yang masih menggunakan tungku kayu bakar. Serta olahan minuman yang hanya tersedia beberapa menu saja. Pun makanan ringan yang mayoritas berbahan baku singkong dengan parutan kelapa, serta makanan nasi liwet yang harus reservasi terlebih dahulu jika ingin menikmatinya. 

Baca Juga : Viral Pangsit Goreng Lek Gino, kalau Mau Beli Harus Antre 4 Hari hingga 2 Minggu

 

Semua olahan menu yang ada di Warung Tomboan ini, mulai dari makanan sampai minuman, berasal dari potensi kekayaan alam di sekitar warung. Serta memanfaatkan hasil bumi yang dipanen oleh warga sekitar untuk menjadi bahan baku pemilik dalam meramu makanan maupun minuman. 

Pemilik Warung Tomboan yakni Abdullah Bilbas atau yang akrab disapa Abink menuturkan, bahwa memang konsep yang diusung oleh dirinya bersama rekan-rekannya yakni 'back to nature' atau kembali ke alam. Di mana selain menu yang disajikan, Tomboan memberikan kesejukan hawa pedesaan yang terletak disamping situs purbakala Petirtaan Ngawonggo.

"Konsepnya kita mengangkat tema pedesaan sama konsep tradisional aja. Orang sini kan memang kebanyakan orang yang berkebun, bertani, pergi ke sungai buat cari makan dan tumbuhan. Kita ngangkat itu sebagai konsep yang diusung memang back to nature juga," jelasnya ketika dikonfirmasi MalangTimes, Minggu (19/7/2020).

Abink melanjutkan, bahwa Warung Tomboan sendiri bukan karena adanya pandemi Covid-19, tapi dirinya membuat warung tersebut satu minggu sebelum Covid-19 masuk di Indonesia, tepatnya pada 15 Maret 2020. 

"Februari akhir sebenarnya sudah menggagas, cuma resmi buka itu tanggal 15 Maret 2020. Seminggu setelah itu ada Corona," ungkap pria asal Wajak ini. 

Pihaknya pun beralasan jika Warung Tomboan tersebut memang bukan dibuka untuk dikhususkan menyambut Covid-19, akan tetapi bahan-bahan baku yang digunakan seperti jahe, sereh, lengkuas, rosella, dan beragam rempah-rempah lainnya yang biasa dikenal dengan sebutan empon-empon memang memiliki banyak khasiat.

"Menurut kami itu bukan dihubung-hubungkan sama corona. Lebih tepatnya empon-empon itu memang berkhasiat menambah imun tubuh. Untuk spesifik buat corona nggak juga, ya untuk kesehatan tubuh saja," ujarnya. 

Pria yang merupakan alumni Sastra Perancis Universitas Brawijaya ini menuturkan bahwa di Warung Tomboan semua menu, baik makanan maupun minuman tidak dipatok dengan harga tertentu yang biasa ada di warung-warung kebanyakan. 

Akan tetapi dari tema besar yakni pedesaan yang kental sekali dengan budaya jawa serta bertetangga. Abink menganggap semua pengunjung yang datang merupakan tetangga yang kapan saja dapat berkunjung dan menikmati suguhan yang tersaji. 

"Kalau ke rumah tetangga nggak mungkinkan kami patok biaya untuk minum dan makan. Di sini kami terapkan budaya seperti itu. Jadi nyantai seperti ke rumah tetangga sendiri saja," ungkap pria berambut gimbal ini. 

Baca Juga : Rondo Royal hingga Growol, 6 Olahan Singkong Khas Tulungagung Ini Punya Cita Rasa Autentik

 

Jadi di tempat pemesanan makanan dan minuman terdapat pekerja yang melayani pengunjung serta terdapat kotak kecil bertuliskan kasir asih yang dapat diisi dengan nominal uang terserah dari pengunjung. Tidak diisi juga tidak mengapa, karena kedatangan pengunjung sudah membuat senang para pekerja di Warung Tomboan.

"Kalau ada uang nggak papa membayar. Tapi kalau nggak ada, mending nggak usah. Datang ke sini saja kami sudah senang," ujarnya. 

Nantinya uang yang terdapat di dalam kotak kasir asih berukuran sekitar 15 cm x 30 cm ini akan digunakan sebagai perputaran modal untuk membeli bahan baku dan juga memberikan upah bagi pekerja yang berjumlah sekitar 7 orang. Seluruhnya merupakan warga RT. 04/RW. 03 Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. 

Dari bahan baku yang dibeli langsung dari masyarakat sekitar, Abink mengatakan, bahwa bahan baku tersebut di olah menjadi menu menarik seperti jajanan tradisional gethuk, ongol-ongol, sawut, sate tahu dengan balutan tepung nabati, hingga nasi liwet dengan lauk kulupan dan beberapa lauk lainnya. 

Selain itu, sajian minumannya pun beragam yang semuanya berasal dari bahan baku empon-empon. Seperti jahe, sereh, lengkuas, rosella, ada daun kelor juga yang semuanya merupakan hasil panen dari para warga desa setempat. Serta proses mengolahnya dengan cara yang sangat tradisional yakni ditumbuk di sebuah wadah.

"Di sini juga ada pabrik tahu pengolahan kedelai. Kami buat sate. Ada petani jahe, sereh, lengkuas dan lain-lain, kami buat menu dari bahan tersebut. Semua menunya menyesuaikan komoditas petani di Dusun Nanasan ini," pungkasnya. 

Sebagai informasi bahwa pengunjung yang datang ke Warung Tomboan di dominasi oleh warga Kota Malang sendiri yang kangen dengan suasana perdesaan. Serta juga terdapat beberapa kali pengunjung dari luar kota seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik bahkan ada yang dari luar negeri yakni berasal dari Jerman. 

Warung Tomboan buka setiap hari kecuali pada hari Kamis tutup. Bukanya warung unik tersebut mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB.