Para pelaku Pekerja Seks Komersial (PSK) dan pria hidung belang saat diamankan di Mapolsek Gondanglegi, Rabu (15/7/2020). (ist)
Para pelaku Pekerja Seks Komersial (PSK) dan pria hidung belang saat diamankan di Mapolsek Gondanglegi, Rabu (15/7/2020). (ist)

MALANGTIMES - Lokalisasi Girun di Gondanglegi, Kabupaten Malang belum benar-benar tutup. Tempat prostitusi yang ditutup pada 2018 ini, ternyata masih beroperasi hingga saat ini. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya aktivitas pertukaran hubungan seksual dengan uang oleh sejumlah wanita pekerja seks komersial (PSK) dan pria hidung belang.

Sebanyak 12 orang terdiri dari 7 PSK dan 5 pria hidung belang terjaring dalam razia yang digelar oleh petugas gabungan yang terdiri dari  Pemerintah Kecamatan Gondanglegi, Polsek Gondanglegi, Koramil 0818/19 Gondanglegi, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Malang pada Rabu (15/7/2020). 

Sebanyak 12 orang tersebut akhirnya diamankan di Polsek Gondanglegi untuk dimintai keterangan. Selain itu, juga diminta membuat surat pernyataan. 

Camat Gondanglegi, Presitya Yunika yang berada di Polsek Gondanglegi mengatakan razia oleh aparat gabungan tersebut dilakukan setelah adanya pengaduan dari masyarakat. Warga sekitar resah dengan beroperasinya kembali praktik prostitusi di kawasan tersebut. 

Padahal lokalisasi tersebut sudah dilakukan penutupan secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang di tahun 2018 lalu. Tetapi yang didapati oleh petugas, masih saja terdapat orang-orang yang membandel, baik itu dari PSK maupun pria hidung belangnya. 

"Lokalisasi Girun sudah ditutup resmi oleh Pemkab. Berdasarkan laporan masyarakat bahwa saat ini kembali beroperasi," ujarnya ketika dikonfirmasi awak media, Rabu (15/7/2020). 

Yunika pun berharap dengan adanya operasi gabungan tersebut, bisnis pemuas hawa nafsu di Kabupaten Malang khususnya di wilayah Kecamatan Gondanglegi benar-benar musnah. "Razia itu berdasarkan instruksi langsung dari Bupati Malang, Pak Sanusi," tambahnya. 

Sementara itu, di tempat yang sama Kapolsek Gondanglegi, Kompol Agus Siswo Hariadi menuturkan bahwa razia semacam itu akan terus dilaksanakan secara terus menerus. Agar bisnis pemuas hawa nafsu tersebut cepat musnah, agar kehidupan masyarakat dapat hidup dengan tenang dan nyaman. 

"Dulu di tahun 2018 kan pernah dilakukan pembersihan. Mungkin karena di rasa aman, mereka kambuh lagi. Kami otomatis akan menghentikan kegiatan itu secara terus-menerus," tuturnya. 

Hal ini agar menjadi pelajaran bagi semua masyarakat Kabupaten Malang khususnya pada saat ini sedang dalam kondisi pandemi Covid-19. Alangkah lebih baiknya menghindari perbuatan-perbuatan semacam itu. Karena selain berdosa juga berpotensi menimbulkan penyakit. 

Sebagai informasi bahwa para PSK yang kerap kali melayani para pria hidung belang rata-rata berusia 30-40 tahun dan beberapa mengaku dari luar Kabupaten Malang. 

Dari pengakuannya para PSK kepada petugas, mereka rata-rata mendapatkan upah dari para pria hidung belang antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk sekali main di dalam bilik-bilik rumah yang telah disediakan di eks lokalisasi Girun.