Pakar Pendidikan dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) Dr Muhammad Walid MA. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Pakar Pendidikan dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) Dr Muhammad Walid MA. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pemerintah telah sepakat untuk mentransformasi sistem pendidikan Indonesia. Salah satu caranya yaitu dengan menyederhanakan kurikulum di semua jenjang pendidikan. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas literasi siswa di Indonesia yang dinilai masih rendah versi PISA (Program For International Student Assessment) 2018.

Pakar Pendidikan dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) Dr Muhammad Walid MA mengakui, dalam 5-10 tahun terakhir guru memang terlalu terbebani dengan capaian kurikulum.

Baca Juga : UIN Malang Masuk Kategori Inovasi Layanan Publik Terbaik di Kemenag Tahun 2020

"Harus kita akui dalam 5-10 tahun terakhir ini kita terlalu terbebani dengan capaian kurikulum dalam rangka untuk kenaikan kelas," ucapnya saat menjadi salah satu narasumber dalam webinar series Rumah Jurnal Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang UIN Malang belum lama ini.

Wakil Dekan Bidang Akademik FITK UIN Malang tersebut menegaskan, untuk melakukan transformasi pendidikan maka guru harus memberikan pembelajaran yang bermakna kepada siswa tanpa terbebani untuk menyelesaikan capaian kurikulum. "Jadi, hal yang demikian harus segera ditepikan. Pembelajaran tidak lagi berorientasi kepada nilai dan kenaikan kelas," katanya.

Pembelajaran yang bermakna itu artinya jika peserta didik mampu untuk menghubungkan informasi-informasi baru yang dia terima dengan informasi yang sudah dia miliki dalam struktur kognitifnya. Struktur kognitif itu bisa jadi bentuk konsep-konsep, fakta-fakta, atau pengalaman-pengalaman yang dia miliki. Dengan begitu, maka pembelajaran akan diterima dengan baik, bersifat menyenangkan, dan bersifat menarik.

"Hal yang sering kita lihat hari ini adalah seringkali pembelajaran itu tidak memberikan makna karena seringkali terjadinya proses percepatan, yang penting materinya selesai, yang penting KD-nya tercapai, yang penting tujuan pembelajaran bisa dilewati atau capaian pembelajaran dalam kurikulum telah tersampaikan. Ini kemudian menjadi proses yang tidak bermakna," bebernya.

Baca Juga : Prodi Nuansa Bisnis dan Ekonomi Paling Diminati Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri

Meski dalam pandemi seperti ini, guru dituntut tetap aktif dan kreatif menyajikan pembelajaran daring yang menyenangkan dan mudah dimengerti. Sehingga siswa juga tetap produktif dan tidak merasa bosan di rumah.

"Jangan kemudian seorang guru mengajar hanya memberikan tugas, bahkan sampai menumpuk. Kadang-kadang 10 mata pelajaran masing-masing ada tugas semuanya," tandasnya.