Ilustrasi pembuatan kopi yang disajikan dalam secangkir gelas dan masih dapat dinikmati sebelum pandemi Covid-19 menyebar di Malang Raya.
Ilustrasi pembuatan kopi yang disajikan dalam secangkir gelas dan masih dapat dinikmati sebelum pandemi Covid-19 menyebar di Malang Raya.

MALANGTIMES - Tren perkopian di Malang Raya sungguh tak ada surutnya. Kafe maupun warung kopi terus bermunculan seiring tren kopi yang semakin berkembang sejak medio 2016 hingga 2017.

Puncaknya, di tahun 2018 banyak kafe-kafe baru bermunculan yang sengaja dibangun secara berkelompok. Pembangunan cafe di satu kawasan yang berkelompok dengan jumlah banyak, membuat penikmat kopi dimanjakan dan minat kunjungan yang melambung tinggi.

Baca Juga : Sektor Pajak Ini Tidak Terpengaruh Pandemi Covid-19, dalam 6 Bulan Raup Rp 1 Miliar

 

Pada akhirnya, beberapa wilayah yang menjadi pusat perkopian di Malang yakni sekitar Sudimoro dan Pasar Tawangmangu menjadi pusat jujukan para kaum millenial untuk sekedar nongkrong, bercengkerama dan menikmati secangkir kopi dengan Wi-Fi gratis yang seakan tak kenal waktu.

Seiring dengan meningkatnya penikmat kopi di Malang, kopi khas Kabupaten Malang yang telah menasional sejak lama, akhirnya lebih terkenal lagi di kalangan millenial. Salah satunya yakni kopi Amstirdam (Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, Dampit) yakni daerah perkebunan kopi yang produknya menjadi salah satu primadona kafe dan warung-warung kopi di Malang. 

Kegiatan ngopi dan nongkrong-nongkrong menjadi terhambat ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, khususnya di wilayah Malang Raya. Kafe-kafe yang setiap harinya buka hingga dini hari, akhirnya sempat menutup kafenya karena imbauan pemerintah terkait Covid-19. 

Imbauan yang melarang kerumunan orang dan sementara waktu menjadi warta penting bagi masyarakat agar di rumah saja untuk mencegah persebaran Covid-19, membuat pemilik kafe harus memutar strategi bisnisnya agar tetap bisa beroperasi. 

Muhammad Amin Susilo atau yang akrab disapa Amsus seorang barista di UB Coffee menuturkan bahwa warta yang mengabarkan fenomena Covid-19 memang mengubah segalanya terkait tren perkopian di Malang. 

Salah satu strategi bisnis dari pemilik cafe agar cafenya tetap bisa beroperasi yakni dengan mengubah cara pemesanan dan kemasan yang praktis.

"Dengan adanya pandemi, pemilik cafe mulai mengikuti tren baru perkopian di Malang dengan mengubah pemesanan keseluruhan secara online dan take away. Lalu kemasan juga diganti dengan botol agar lebih praktis dapat dikonsumsi kapan dan dimana saja," ujarnya ketika dikonfirmasi oleh pewarta, Minggu (5/7/2020).

Sebenarnya penjualan kopi yang dikemas dalam bentuk botol pun telah mulai ada sejak tahun 2019. Di mana para pemilik cafe sudah berinovasi dengan mengganti kemasan kopi dalam bentuk botol agar praktis dan keuntungan pun lebih besar. 

Amsus mengatakan, bahwa kemasan kopi yang dibuat beragam ukuran mililiter yang jika semakin banyak isi dan besar ukurannya akan semakin menambah untung para pemilik cafe. 

"Kopi botol ada yang mulai dari ukuran 250ml, 500ml, hingga 1000ml. Cost (biaya) yang dikeluarkan untuk membuat satu botol kopi tersebut lebih murah dibanding dengan yang biasanya. Sehingga akan mendapatkan keuntungan lebih," katanya.

Misalnya di menu es kopi yang banyak digandrungi oleh millenial, jika membuat dengan isi dan ukuran botol yang lebih besar akan lebih hemat dalam penggunaan bahan baku. Sebab, bahan baku mulai dari cairan kopi espresso, susu putih cair, creamer, susu kental manis dan gula aren yang dicairkan akan dicampur menjadi satu untuk menghasilkan es kopi. 

Baca Juga : Parkiran Sumbang PAD Kabupaten Malang Hingga Ratusan Juta

 

Amsus menambahkan, terkait Harga Pokok Penjualan (HPP) yang relatif murah dari tiap botol menu es kopi membuat banyak yang tergiur memanfaatkan momentum tersebut untuk menjadi pengusaha kopi dadakan.

"Misalnya HPP es kopi ukuran 250ml itu sekitar Rp 7-8 ribu per botolnya dan sapat dijual seharga Rp 10-15 ribu. Selanjutnya ukuran 500ml HPP nya sekitar Rp 15-18 ribu dan dapat dijual sekitar Rp 28-35 ribu per botolnya. Sedangkan untuk 1000ml, HPP nya sekitar Rp 25-35 ribu dan dapat jual hingga mencapai angka Rp 100 ribu," bebernya. 

Untuk harga per botol dari masing-masing kemasan botol sangat bervariatif. Hal itu akan tergantung dengan kemasan bentuk botol yang digunakan serta merek dari cafe yang memproduksi es kopi. Jika semakin terkenal dan telah menasional, harga per botolnya akan semakin mahal.

Amsus berharap, meskipun jumlah keuntungan yang didapatkan lebih besar jika dalam kemasan botol yang di mana kondisi pandemi Covid-19 membuat intensitas masyarakat untuk keluar dan lebih memilih membeli es kopi kemasan botol secara online, tetapi ia lebih berharap dan memilih agar situasi kembali normal disaat seperti sebelum pandemi Covid-19.