Sesepuh Aremania, Ovan Tobing di sela-sela melayatnya ke Pondok Pesantren As-Salam Singosari yang merupakan asuhan sahabatnya yakni Gis Wachid Arema, Sabtu (4/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Sesepuh Aremania, Ovan Tobing di sela-sela melayatnya ke Pondok Pesantren As-Salam Singosari yang merupakan asuhan sahabatnya yakni Gis Wachid Arema, Sabtu (4/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Sesepuh Aremania yakni Ovan Tobing hadir melayat ke Pondok Pesantren As-Salam, Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ovan turut mengantar kepergian jenazah KH. Abdul Wachid Ghozali atau yang akrab disapa Gus Wachid Arema.

Ovan Tobing bercerita kesan-kesan bersama sahabatnya itu yakni Gus Wachid dengan lawakan khas sesama Arek Malang yang mencairkan suasana agar tidak bersinggungan. 

Baca Juga : Saat Isi Pengajian, Gus Wachid "Arema" Meninggal Dunia

Ovan menuturkan bahwa meskipun dirinya dengan almarhum berbeda keyakinan dalam hal agama, namun semua perbedaan tersebut tertutup dengan sifat saling menghormati dan menghargai antarsesama Arek Malang. 

"Sebagai salah satu tokoh agama hal yang paling hebat yang saya rasakan, saya dan almarhum ini kan berbeda keyakinan tapi ada hal yang penting, kita tidak pernah bersinggungan. Kuncinya satu saling menghargai, saling menghormati dan selalu kalau ketemu, iki podo Arema ne, gak oleh geger (ini sama Aremanya, tidak boleh bertengkar)," ujarnya ketika dikonfirmasi MalangTimes, Sabtu (4/7/2020). 

Dengan menghargai dan menghormati meskipun berbeda keyakinan, Ovan selalu mengingat pesan almarhum yang memiliki arti mendalam dan nilai toleransi tinggi antarumat beragama.

"Yang paling saya hormati adalah beliau selalu mengatakan, lakonono keyakinanmu aku tak ngelakoni keyakinanku (lakukan keyakinanmu aku lakukan keyakinanku). Itu kunci persahabatan saya dengan beliau ini," ucapnya. 

Begitu indahnya pesan yang diucapkan oleh Gus Wachid kepada Ovan Tobing. Pesan yang sejatinya terdapat di Surah Al-Kaafiruun disampaikan juga dengan penuh makna dan arti mendalam kepada sahabatnya yang memeluk agama lain. Nilai toleransi selalu dijunjung tinggi oleh Gus Wachid agar tidak ada perseteruan mengatasnamakan perbedaan agama. 

Selain itu, kisah-kisah lucu bersama almarhum yang terus diingat oleh Ovan Tobing yakni jika dirinya bertemu dengan Gus Wachid pasti muncul lawakan di antara keduanya. Ovan menyebutnya dengan kelakuan 'metel' khas Arek Malang. 

"Aku iki lek ketemu awakmu iki loroh wetengku, aku lek ketemu awakmu tambah ngelu ndasku (Aku ini kalau ketemu kamu sakit perutku, aku kalau ketemu kamu sakit kepalaku)", sedikit candaan yang pernah dilakukan oleh Gus Wachid dan Ovan Tobing.

"Jadi hal-hal itu menjadi cair tapi ada satu kesepakatan, almarhum selalu mengatakan ini hanya buat kita saja ya, jangan sampai orang tahu kalau kita metel-metel an," canda Ovan ketika mengingat sosok Gus Wachid.

Gus Wachid yang terkenal dengan ceramah menggunakan bahwasa walikan dan ditambahkan dengan candaan-candaan khas Arek Malang sangat dibutuhkan di tengah kondisi masyarakat yang terlalu banyak menilai perbedaan sebagai bahan perseteruan. Padahal, seharusnya memanfaatkan perbedaan untuk merangkul banyak massa. 

Hal itu lah yang dilakukan oleh Gus Wachid. Tidak melihat latar belakang agama, pekerjaan, jenis kelamin maupun politisi, semua berusaha dirangkul agar selalu muncul perdamaian-perdamaian kecil yang lama-lama akan membukit untuk ketentraman di masyarakat. 

"Luar biasa, karena itu adalah yang dibutuhkan pada masa sekarang untuk bisa merangkul banyak massa. Beliau menempatkan diri dengan sangat bagus," ucap Ovan. 

Ovan juga mengingat kejadian beberapa tahun lalu, bahwa Gus Wachid mengatakan ingin dipanggil sebagai Gus Wachid Arema. Dengan nama belakang Arema agar lebih dekat dengan masyarakat Malang. Tetapi pertimbangannya masih belum terdapat ciri khas dan sesuatu yang membedakan antara Gus Wachid dengan ulama lainnya. 

Akhirnya muncul lah ide untuk menggunakan bahasa walikan khas Arek Malang di dalam ceramah Gus Wachid. Agar lebih santai dan mudah diterima oleh masyarakat banyak. 

"Saya masih ingat beliau pernah mengatakan tahun-tahun yang dulu, aku ini kamu panggil Gus Wachid Arema ya. Terus saya bilang, loh aku mau manggil Gus Wachid Arema gimana caranya, kamu nggak pernah pakai bahasa walikan," ungkapnya. 

Menanggapi hal tersebut, akhirnya Gus Wachid bersepakat dengan Ovan Tobin untuk menggunakan bahasa walikan dalam sesi ceramahnya. 

"Oh oyi wes, walikan ya. Oyi. Hal-hal itu berkembang beliau. Sehingga sangat dekat dengan Arek Malang," imbuhnya. 

Terakhir Ovan Juga berpesan sangat kehilangan sosok Gus Wachid yang telah menjadi panutan bagi banyak orang. Karena pribadi almarhum yang dapat membaur dengan segala kalangan lintas agama dan dapat menempatkan diri sesuai porsinya. 

"Sosok yang agamis dan kita tak akan tergantikan. Saya sampaikan selamat jalan gus," pungkasnya.