Prosesi Salat Jenazah yang diikuti oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Malang di Masjid Pondok Pesantren As-Salam, Tunjungtirto, Singosari, Kabupaten Malang, Sabtu (4/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Prosesi Salat Jenazah yang diikuti oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Malang di Masjid Pondok Pesantren As-Salam, Tunjungtirto, Singosari, Kabupaten Malang, Sabtu (4/7/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

Jajaran Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Malang yang terdiri dari Bupati Malang HM. Sanusi, Ketua DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Didik Gatot Subroto, Kapolres Malang AKBP Hendri Umar dan Dandim 0818 Malang-Batu Letkol (Inf) Ferry Muzawwad sangat kehilangan atas kepergian sosok ulama kharismatik, KH. Abdul Wachid Ghozali atau yang akrab disapa Gus Wachid 'Arema', Sabtu (4/7/2020).



Bupati Malang HM. Sanusi yang bertakziyah ke Pondok Pesantren As-Salam, Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang menuturkan dalam sambutannya bahwa sosok Gus Wachid merupakan ulama yang dapat membaur ke semua golongan masyarakat. 

"Bahwa Gus Wachid orang baik, orang sabar dan orang yang hadir untuk semuanya. Mulai dari tokoh milenial, ulama, semua berduka cita sedalam-dalamnya, kehilangan tokoh ulama yang dapat membaur ke semua golongan," ujarnya, Sabtu (4/7/2020). 

Sanusi juga mengucapkan sebuah hadits yang disabdakan oleh Rasulullaah SAW terkait dicabutnya ilmu dari bumi tidak semata-mata dicabut langsung ke setiap masyarakat, melainkan pencabutan ilmu tersebut melalui wafatnya para ulama. Maka dalam sebuah hadits pun disebutkan bahwa meninggalnya para ulama merupakan pertanda kegelapan bagi semua orang di bumi.

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut, mengangkat ilmu dari dunia, dengan ilmu agama sekaligus diangkat oleh Allah. Tapi Allah mengangkat ilmu dari hatinya semua orang, tapi Allah mencabut ilmu itu melalui wafatnya para ulama," ucap Sanusi sambil terisak tangis. 

Sedangkan Ketua DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto juga memiliki kenangan yang tak terlupakan dengan sosok Gus Wachid yakni lebih terfokus pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan para santri di Pondok Pesantren As-Salam.

Didik mengatakan bahwa sosok Gus Wachid merupakan ulama yang dapat membimbing masyarakat dari kelompok nakal atau preman hingga masyarakat biasa untuk menuju ke jalan Allah. Didik menambahkan bahwa sosok Gus Wachid menerapkan bebas biaya kepada para santri di Pondok Pesantren As-Salam.

Selain itu banyak fokus Gus Wachid dalam dunia pendidikan, mulai dari MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah) hingga Perguruan Tinggi. 

"Beliau dalam jangka pendek ingin mendirikan Madrasah Aliyah bahkan setingkat SMK yang hari ini sedang kita bicarakan berkali-kali dengan saya, izin-izin sedang kita urus," ucap Didik terkait kenanganan terakhir bersama Gus Wachid.

Sementara itu, meskipun dalam masa jabatan yang masih terbilang baru, Kapolres Malang AKBP Hendri Umar juga turut kehilangan sosok Gus Wachid yang kerap kali mendukung kegiatan-kegiatan dari Polres Malang. Seperti contohnya penerapan protokol kesehatan Covid-19 dalam segala kegiatan, Gus Wachid turut menyosialisasikan kepada santri dan para jamaah pengajian almarhum. 

"Beliau selalu mendukung kebijakan yang kami sampaikan. Jadi misalkan kita sarankan untuk Salat Ied di rumah saja, beliau menyarankan untuk Salat Ied di rumah dan disampaikan kepada seluruh umatnya dan jamaahnya untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk salat di rumah," ujarnya. 

Sebagai informasi bahwa Gus Wachid meninggal pada 13 Dzulqo'dah 1441 Hijriyah atau bertepatan pada hari Sabtu (4/7/2020) sekitar pukul 05.30 WIB setelah mengisi pengajian di Masjid Pondok Pesantren As-Salam. Setelah mengisi pengajian, Gus Wachid mengeluhkan sakit di dada dan dibawa ke rumah sakit yang pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir.