Kepala BPS Kota Malang Sunaryo. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Kepala BPS Kota Malang Sunaryo. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Kota Malang mencatatkan inflasi terbesar se-Jawa Timur (Jatim) pada Juni 2020 sebesar 0,44 persen. Pemicu capaian angka tersebut yakni kenaikan harga ayam ras sebesar 12,81 persen dengan andil 0,15 persen.

Angka inflasi tertinggi untuk Kota Malang tersebut, disusul Jember dengan angka 0,30 pesen dan Kota Surabaya 0,28 persen.

Baca Juga : Parkiran Sumbang PAD Kabupaten Malang Hingga Ratusan Juta

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Sunaryo mengungkapkan, capaian inflasi tertinggi di Jatim kali ini sebelumnya juga terjadi pada bulan Mei 2020 lalu yang tercatat 0,27 persen.

Meski selama dua bulan berturut-turut Kota Malang mengalami inflasi tertinggi, ia menilai angka Year on Year (YoY) terbilang rendah sebesar 1,31 persen. Sedangkan inflasi kalender Kota Malang tercatat sebesar 0,88 persen

Hal tersebut dikatakannya menunjukkan bahwa menuju New Normal atau adaptasi kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19 mampu mengembalikan geliat perekonomian di Kota Malang.

"Jadi inflasi memberikan isyarat adanya geliat ekonomi di Kota Malang. Semoga ekonomi ini terus terjadi dengan menjaga protokol kesehatan sehingga Covid-19 tidak bertambah, tetapi pertumbuhan ekonomi dinamis dan berjalan, bisa menggerakkan perekonomian di Kota Malang," ujarnya, Rabu (1/7/2020).

Baca Juga : Masih Ada 4 Hotel di Kota Batu Masih Belum Diizinkan Buka

Sunaryo menambahkan, selain daging ayam ras, kenaikan inflasi juga disumbang beberapa komoditi lainnya. Di antaranya, kenaikan tarif angkutan udara, telur ayam ras, rokok kretek filter, buah naga, mie, blus wanita, tahu mentah, alpukat, dan mobil. 

Sedangkan, sejumlah komoditi yang menjadi penghambat inflasi di antaranya penurunan harga obat dengan resep, bawang putih, emas perhiasan, tarif kendaraan roda 4 online, gula pasir, jeruk, cabai rawit, anggur, semangka, dan pengharum cucian.

"Tiga komoditas terbesar penyumbang inflasi itu daging ayam ras dengan andil 0,15 persen, angkutan udara 0,09 persen, dan telur ayam ras 0,04 persen. Sedangkan yang menghambat atau deflasi terbesar yaitu obat resep dokter yakni dengan andil -0,04 persen," terangnya.