Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (humas)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (humas)

MALANGTIMES - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) agaknya sulit menerima kritik dan masukan dari orang lain. Termasuk dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. 

Buktinya ketika Jokowi mengutip laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Risma membantahnya. Begitu juga saat Menkes Terawan menyampaikan kurangnya tenaga medis di Surabaya, Risma juga menepisnya.

Baca Juga : Kasus Susuk Kecantikan Libatkan Mahasiswi, Pihak Unmer Malang Enggan Beri Klarifikasi

Seperti diketahui, Jokowi beserta para menterinya sebelumnya baru saja melakukan kunjungan kerja ke Surabaya, Jawa Timur. Kunjungan tersebut dilakukan karena tingginya kasus Covid-19 di Jatim, terutama Surabaya yang sudah menempati urutan nomor satu di Indonesia.

Ketika di Gedung Negara Grahadi, Jokowi kaget saat mendapat laporan, jika jumlah warga di Jatim yang tak memakai masker di tengah pandemi Corona (Covid-19) jumlahnya hingga 70 persen.

“Tadi disampaikan oleh gugus tugas, bahwa masih 70 persen yang enggak pakai masker. Ini angka yang gede banget,” jelas Jokowi, Kamis (26/6/2020) lalu.

“Oleh sebab itu, hari ini juga saya minta kepada gugus tugas nasional kirim masker sebanyak-banyaknya ke Surabaya, ke Jawa Timur,” tegasnya kembali.

Sementara itu Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto melakukan kunjungan kerja satu hari sebelumnya di Surabaya, Jawa Timur. Dia mengunjungi Rumah Sakit dr Soetomo.

Ketika tahu kondisi di RS dr Soetomo, Terawan berinisiatif mengirimkan bantuan dokter umum dan perawat.

"Saya selaku Menteri Kesehatan akan segera mendorong kebutuhan dokter umum maupun perawat sejumlah 88 orang dan dokter umum 58 orang. Gelombang pertama yang kami dorong adalah dokter, kemudian baru perawat," ujarnya, Rabu (24/6/2020) lalu.

Terawan menyampaikan, bantuan tenaga medis ini diberikan atas permintaan dari Direktur Utama RSUD dr Soetomo, Dr Joni Wahyuhadi. Karena banyak tenaga medis kewalahan akibat jumlah pasien terpapar Covid-19 yang begitu massif setiap harinya. Bahkan, tak sedikit pasien Covid-19 yang tidak mendapat kamar karena telah terisi penuh.

"Ini akan segera kami dorong agar RSUD dr Soetomo bisa lebih ringan. Kami ingin relaksasi terjadi dan kita sudah buat protokol supaya relawan tidak positif," imbuhnya.

Baca Juga : Fakta Soal Demo Tolak RUU HIP, Massa Enggan Tes Swab hingga Buntut Pembakaran Bendera PDIP

Namun, beberapa pernyataan tersebut ternyata dibantah oleh Risma keesokan harinya setelah Jokowi dan Terawan kembali ke Jakarta.

Pertama, Risma membantah pernyataan Presiden Jokowi tentang 70 persen masyarakat di Surabaya Raya yang masih banyak melanggar protokol kesehatan, tak memakai masker.

Risma pun berani menjawab pertanyaan tersebut dengan sedikit tertawa. Karena menurutnya warga Surabaya sudah mematuhi protokol kesehatan. Dan dia meminta mensurvei sendiri orang-orang yang ada di jalanan.

"Masak ya, lihat, masak 70 persen. Kamu lihat saja di jalanan itu," ucap Risma usai Rapat Pengarahan Percepatan Penanganan Covid-19 bersama Menkopolhukam dan Mendagri di JW Marriot Surabaya, Jumat (26/6/2020) kemarin.

Selain itu, Risma juga menampik jika Surabaya kekurangan tenaga medis. Dia mengklaim sudah berkomunikasi dengan pihak rumah sakit di Surabaya dan sudah menghitung kapasitas medis serta bednya.

"Jadi aku komunikasi dengan rumah sakit. Memang yang memungkinkan rumah sakit Husada utama saat itu. Kita nambah 280 bed. Naudzubillah ya 200 itu belum pernah terisi," terang Risma.