Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UIN Malang Dr H Isroqunnajah MAg saat menjajal mempraktikkan pemakaian westafel sensor UIN Malang. (Foto: istimewa)
Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UIN Malang Dr H Isroqunnajah MAg saat menjajal mempraktikkan pemakaian westafel sensor UIN Malang. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI terus mendorong dan mendukung kemerdekaan dan kemandirian perguruan tinggi untuk terus berkarya dan berinovasi di masa pandemi Covid-19 ini.

Beragam inovasi ini juga dilakukan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang). Baru-baru ini, UIN Malang berinisiatif membuat westafel sensor untuk menyambut New Normal Life atau tatanan kehidupan baru.

Baca Juga : Pesan Kasih Husein Muhammad tentang Perempuan di Webinar UIN Malang

Westafel sensor ini merupakan produk rakitan Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Malang. Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Dr H Isroqunnajah MAg  menjelaskan, bahwa westafel produk Fakultas Saintek UIN Maliki ini berbeda dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan penggunaan westafel tersebut tidak secara manual, melainkan melaui sensor. Selain itu, westafel ini juga lebih hemat air.

"Ini hebat sekali karena kita meletakkan tangan sudah keluar air. Dan air ini akan keluar selama 20 detik. Itu artinya tidak sampai dengan 600 mililiter," papar pria yang akrab disapa Gus Is tersebut saat melaunching wastafel tersebut di samping teras depan Gedung BJ Habibie Fakultas Saintek UIN Maliki Malang.

Jadi, westafel produk fakultas yang dipimpin oleh Dr Sri Harini MSi ini didesain khusus bisa secara otomatis mengeluarkan air dalam jumlah terbatas dengan waktu tertentu. Sehingga setelah pemakaiannya, westafel tersebut tidak perlu dimatikan lagi karena sudah otomatis berhenti sendiri.

"Jadi kita tidak perlu memegangnya ketika menggunakan westafel ini," imbuhnya.

Ditambahkan Gus Is, westafel sensor itu rencananya akan disediakan di setiap fakultas UIN Maliki. Nah, bagi siapa pun yang ingin membuat model westafel sensor yang serupa milik UIN Maliki itu juga tidak masalah. Terlebih, biaya pembuatannya juga tidak mahal.

"Cukup dengan Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu sudah bisa untuk merakitnya sampai selesai," timpalnya.

Baca Juga : Sebelum Ramai Tuntutan Mahasiswa, Universitas Brawijaya Sebut Sudah Susun Aturan UKT

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK) Dr Ilfi Nurdiana MSi menyatakan, bahwa aplikasi alat tersebut sesuai standart dari WHO.

"Kinerja westafel ini cukup simpel. Debit air yang dikeluarkan kurang lebih 600-700 mil dalam waktu 20 detik, sehingga sangatlah efisien, praktis, dan juga hemat. Selamat kepada Fakultas Saintek UIN Maliki atas inovasinya ini," ucapnya seusai mempraktikkan pemakaian alat tersebut.