Warga saat mengambil sembako di lumbung pangan yang terdapat di Kampung Tangguh (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Warga saat mengambil sembako di lumbung pangan yang terdapat di Kampung Tangguh (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jajaran Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Malang kembali meninjau kesiapan Kampung Tangguh dalam mengantisipasi penyebaran wabah covid-19. Hari ini (Sabtu 13/6/2020) terpantau sudah ada 3 Kecamatan yang kembali didatangi pemerintah untuk memastikan kesiapannya dalam mengantisipasi penularan covid-19. 

”Hari ini kami meresmikan Kampung Tangguh yang ada di (Kecamatan) Kalipare, Sumberpucung dan Kromengan. Karena covid-19 ini tidak dapat dipastikan kapan berakhirnya, maka kami terus mengedukasi kepada masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya dengan cara membentuk Kampung Tangguh,” kata Bupati Malang, HM Sanusi, saat ditemui di sela agenda peninjauan Kampung Tangguh di Kecamatan Kromengan, Sabtu (13/6/2020) sore. 

Baca Juga : Gunakan Cara Kekinian, Satlantas Polres Malang Edukasi Milenial Terkait Protokol Kesehatan

Sanusi menambahkan, sejauh ini tercatat sudah ada 418 Kampung Tangguh yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Malang. Di mana, ratusan Kampung Tangguh yang disiagakan untuk meminimalisir penyebaran covid-19 tersebut, dipastikan oleh Bupati Malang murni karya dari warga tanpa adanya pendanaan khusus dari pemerintah. ”Mereka instal sendiri, mereka mandiri. Pemkab Malang hanya membantu, seperti misalnya pembagian paket bantuan sembako dan lain sebagainya,” ujar Bupati Malang. 

Terpisah, Ketua Kampung Tangguh Desa Sengguruh, Sulianto menuturkan jika persiapan yang dibutuhkan untuk membuat Kampung Tangguh tanpa dibiayai pemerintah tersebut, membutuhkan waktu selama 1 bulan sebelum akhirnya benar-benar mandiri. 

”Merintisnya sudah 1 bulan, pertama semua warga menyumbang 1 cangkir beras untuk dikumpulkan. Kemudian beras yang sudah terkumpul itu diberikan kepada warga yang membutuhkan dan yang terdampak covid-19,” jelasnya. 

Seiring berjalannya waktu, lanjut Sulianto, warga dengan ekonomi yang kecukupan mulai menyumbang secara mandiri. Dengan sukarela ada warga yang membantu 5 hingga 10 kilogram beras untuk mensukseskan keberadaan Kampung Tangguh tersebut. 

”Kesadaran masyarakat tumbuh sendiri, biasanya kalau belanja dilebihkan dari kebutuhan. Misal beli 2 ikat sayur, yang 1 ikat diberikan kepada posko Kampung Tangguh,” ucap Sulianto. 

Setelah terkumpul, masih menurut Sulianto, pasokan lumbung pagan berupa sembako tersebut bakal dipasang di papan khusus yang ada di posko Kampung Tangguh. Setiap warga yang membutuhkan, terutama yang kurang mampu bebas untuk mengambil sembako sesuai kebutuhannya masing-masing. 

”Kami sudah membentuk relawan di masing-masing RT (Rukun Tetangga), nah para relawan itu yang akan jemput bola membagikan kepada warga yang kurang mampu. Selain itu kami juga membagikan tiket khusus, sehingga mereka yang memiliki tiket juga bisa mengambil sembako di posko secara gratis,” ucapnya. 

Baca Juga : Jadi Trending Topic, Indonesia Urutan 97 Negara Teraman Covid-19, Warganet: Ambyar

Sebagai informasi, keberadaan lumbung pangan di Kampung Tangguh di Desa Sengguruh tersebut, mampu menyokong kebutuhan sekitar 200 KK (Kepala Keluarga) yang tersebar di 10 RT di Desa Sengguruh. 

”Selain sembako kami juga menyediakan pakaian layak pakai untuk warga yang membutuhkan. Rencana ke depan, kami juga akan mendirikan Bank Desa untuk memenuhi kebutuhan warga. Jadi melalui bank desa para warga bisa menabung atau bahkan simpan pinjam jika membutuhkan uang,” sambung Sulianto. 

Terakhir, untuk memantau warganya tetap sehat dan bebas dari covid-19. Para relawan yang sudah terbentuk akan selalu memantau kondisi kesehatan para warga. Jika ada yang sakit atau bahkan mengarah ke covid-19 akan segera dikoordinasikan dengan petugas kesehatan.