Aktivitas Otoritas Jasa Keuangan. (istimewa)
Aktivitas Otoritas Jasa Keuangan. (istimewa)

MALANGTIMES - Program restrukturisasi yang dilakukan lembaga jasa keuangan di Kota Malang berhasil meredam rencana lay off (PHK) kurang lebih 300 karyawan yang bergerak di bidang furnitur. Hal tersebut disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang.

Data yang dihimpun OJK, kinerja kredit di lembaga jasa keuangan di Kota Malang hingga April 2020 mencapai Rp 17,28 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp 6,7 triliun dikucurkan pada kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Tiga Sektor Ekonomi di Kota Malang ini Paling Terdampak

Sementara untuk non-performing loan (NPL) atau kredit bermasalah, tercatat di sektor perdagangan besar dan eceran, NPL sebesar 3,88 persen. Lalu, sektor konstruksi 4,06 persen dan sektor pengolahan 1,69 persen.

Namun, untuk dua sektor yang meliputi sektor konstruksi dan sektor industri pengolahan di Kota Malang, pertumbuhannya di masa pandemi covid-19 masih relatif stabil. Masing-masing tumbuh 14,37 persen dan 28,19 persen.

"Pada masa covid-19, restrukturisasi yang diwujudkan melalui relaklasi jasa keuangan untuk Kota Malang masih efektif. Bahkan pada program tersebut kami mampu meredam rencana PHK di bidang furnitur," ungkap Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri.

Program restrukturisasi atau relaksasi, menurut Sugiarto, tetap memperhatikan debitur yang terdampak dan kreditnya lancar sebelum adanya covid-19. Hal tersebut  untuk menghindari debitur nakal yang gemar memanfaatkan situasi.

Dalam data catatan OJK Malang, hingga 28 Mei 2020, 60 persen pemohon (debitur) yang disetujui permohonan restrukturisasi kreditnya di lembaga perbankan mencapai  66.788 debitur atau senilai Rp 7,18 triliun. Sementara di jasa leasing, ada sekitar 50 persen yang disetujui atau sejumlah 42.484 debitur dengan nilai kredit yang terstrukturisasi Rp 1,09 triliun.

Karena itu, Sugiarto Kasmuri memberikan suatu wawasan agar para pelaku usaha tetap bisa survive di tengah pandemi covid-19 yang saat ini sedang mendera Indonesia. "Saya mengambil analogi bahwa seorang yang berlayar. Kita tidak bisa mengendalikan angin dan ombak, tapi perahu. Dari pandemi ini, kita belajar dari efesiensi dan apa yang kita punya," ucap dia.

Baca Juga : The Kalindra, Satu-satunya Apartemen dengan Tipe Studio Paling Luas di Malang

Disinggung lebih detail mengenai ucapannya tersebut, Sugiarto mengatakan bahwa seseorang harus memiliki pemikiran yang luas meski sedang diterpa suatu permasalahan. Terlebih saat ini sudah diterapkan new normal sehingga para pengusaha sudah bisa membuka tempat usahanya meski masih ada aturan untuk mematuhi protokol kesehatan. "Bisa dilakukan seperti ada market place, e-commerce. Ini membuka sisi positif juga. Kita jadi mengarah ke teknologi," sambungnya.

Bahkan, Sugiarto mendorong pelaku usaha harus bisa melakukan hal baru meski persaingan bisnis saat ini sangatlah ketat. Hal itu karena daya beli masyarakat dipengaruhi  inovasi baru yang dipunyai penjual produk.