Dokter Kurniawan Taufiq Kadafi Sp A(K) M BioMed. (Foto: video capture youtube ANDRY Nurse_channel usaha perawat).
Dokter Kurniawan Taufiq Kadafi Sp A(K) M BioMed. (Foto: video capture youtube ANDRY Nurse_channel usaha perawat).

MALANGTIMES - Pandemi covid-19 sampai saat ini hampir melumpuhkan seluruh dunia. Di Indonesia, kasus pasien bahkan masih terus bertambah.

Data hingga per tanggal 3 Juni 2020, kasus pasien positif covid-19 mencapai angka 28.233 orang. Dari jumlah tersebut, ada juga menyerang terhadap anak-anak.

Hal ini menjadi perhatian bagi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk tidak menganggap remeh kasus ini. Sebab, anak-anak juga rentan tetular terlebih jika imunitasnya turun.

Seorang dokter spesialis anak, dr Kurniawan Taufiq Kadafi, Sp A(K) M BioMed, membeberkan beberapa hal mengenai "Hati-Hati Covid-19 pada Anak" melalui postingan video. Dalam video yang diunggah di akun youtube ANDRY Nurse_channel usaha perawat, ia menyebut covid-19 terhadap anak tidak bisa diremehkan. 

"Memang secara laporan dari luar negeri menyebutkan bahwa sebagian besar anak adalah tanpa gejala atau asimtomatik. Kemudian yang lainnya adalah gejala ringan dan gejala sedang. Namun, kenyataannya di Indonesia angka kejadian dari covid-19 yang bergejala berat bahkan sampai dengan kematian mencapai 3 sampai 4 persen dari anak yang terkonfirmasi," ungkapnya.

Menurut dia, hingga saat ini angka covid-19 pada anak di seluruh dunia mencapai sekitar 5-10 persen. Di Indonesia juga tidak jauh berbeda, yakni antara 3-5 persen dari total penderita covid-19.

Meski angkanya relatif kecil dibanding negara lain, jumlah kasus kematian pasien anak yang terjangkit covid-19 di Indonesia relatif lebih tinggi. "Artinya keadaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita sebagai orang tua, sebagai dokter anak, tentu tidak ingin generasi kita hilang tanpa kita melakukan suatu apa pun," imbuh Taufiq.

Lalu mengapa anak rentan terinfeksi covid-19? Pria yang menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Brawijaya Malang ini menyatakan usia anak-anak secara sistem kekebalan jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa. 

"Ada satu postulat yang menjelaskan mengapa corona virus itu bisa masuk ke dalam tubuh. Satu posulat yang kita kenal adalah adanya tempat menempelnya virus ACE2 reseptor. Ini terjadi atau didapatkan pada semua manusia," katanya.

Baca Juga : Heboh Pedagang Oro-Oro Dowo Dikabarkan Positif Covid-19, Ini Faktanya!



Nah, keadaan infeksi ACE2 reseptor inilah yang ditempati virus. Padahal, fungsi normalnya, ACE2 reseptor yang paling banyak ada di sistem pernapasan bawah dan sebagian ada di sistem pencernaan sebagai pelindung.

Apabila ACE2 reseptor itu ditempati oleh virus, maka fungsi perlindungan akan menjadi terhambat dan ini juga terjadi pada anak. Hanya, ada peebedaan dalam jumlah proporsi ACE2 reseptor anak-anak dengan dewasa.

"Namun, artinya anak masih memungkinkan rentan untuk terinfeksi. Jadi, bukan berarti anak itu tidak terinfeksi atau terindikasi ringan, tapi masih memungkinkan rentan terinfeksi," jelasnya.

Karena itu, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memberikan beberapa rekimendasi sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan covid-19 terhadap anak-anak. Yakni, physical distancing menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dalam hal ini, peran orang tua diharapkan mampu meminimalisasi aktivitas anak untuk berkerumun dengan banyak orang.

"Inti utama penyebaran covid-19 akan meningkat risikonya apabila anak berkumpul dengan banyak atau kerumunan orang. Physical distancing adalah hal yang sangat penting untuk menjaga anak agar tidak rentan terinfeksi," terangnya.

Kemudian, hal lainnya yang perlu diperhatikan selama pandemi covid-19 yaitu memperhatikan tumbuh kembang anak. Setiap anak tetap harus melakukan imunisasi. 

Apabila tidak dilakukan imunisasi, maka anak akan berisiko untuk terjadi masalah selama saat pasca pandemi nantinya. "Apabila anak-anak tidak diimunisasi, maka beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi akan muncul wabah. Jadi, belum selesai pandemi covid-19, akan muncul wabah lain. Mungkin difter,i tetanus, ataupun penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi," ungkapnya.

Anjuran lainnya yang harus dilakukan orang tua untuk mengantisipasi covid-19 adalah membiasakan anak untui cuci tangan dan memakai masker. Tetapi, penggunaan masker tidak dianjurkan bagi anak di bawah 2 tahun karena khawatir akan mengganggu pernapasan.

Meskipun anak rentan tertular, tetapi dengan mengajarkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), maka hal itu akan menjadi habit atau kebiasaan nantinya. 

Orang tua diharapkan juga menjaga kontak dengan orang lain. Sehingga ketika pulang ke rumah, orang tua tidak menjadi sumber penularan kepada anaknya.

"Apabila kita belajar dari kasus-kasus wabah coronavirus tahun 2002, SARS atau MERS, 60 sampai 80 persen anak tertular melalui anggota keluarga," kata Taufiq.

Karena itu, dalam hal ini orang tua harus menjaga anak-anaknya dari permasalahan kontak dengan orang lain yang dapat meningkatkan risiko tertular covid-19 pada anak. Selain itu, apabila ada anak atau orang tua dinyatakan berstatus covid-19 -baik itu kategori OTG (orsng tanpa gejala), ODP (orang dalam pantauan), ataupun PDP (pasien dalam pengawasan) ringan- harus konsisten melakukan karantina mandiri. "Itu kunci untuk tidak menyebarkan kepada anak-anak kita," tandasnya.