Penginisiasi Batik Netra Adi Gunawan (kanan) saat menunjukkan hasil batik buatan kelompok tunanetra di Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Penginisiasi Batik Netra Adi Gunawan (kanan) saat menunjukkan hasil batik buatan kelompok tunanetra di Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda hampir melumpuhkan seluruh dunia. Dampak sosial sangat terasa bagi kehidupan masyarakat.

Salah satunya, kelompok penyandang tunanetra di Kota Malang. Mereka yang biasanya bekerja sebagai terapis pijat untuk sementara waktu harus menghentikan aktivitasnya.

Ada kekhawatiran, akan terjadi penularan Covid-19 apabila mereka masih melakukan profesinya saat ini.

Namun, hal itu tak menjadikan kelompok tunanetra ini berkecil hati. Mereka mencoba beralih profesi dengan membuat batik yang disebut 'Batik Netra'.

Penginisiasi Kelompok Kerja Membatik, Adi Gunawan menyampaikan program tersebut sebagai satu langkah untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian bagi penyandang tunanetra.

Kegiatan tersebut sudah berjalan sekitar 2 bulan terakhir saat pandemi Covid-19 mulai menyeruak di Kota Malang dan terus berlangsung hingga saat ini.

"Berangkat dari situ, kami ingin membuat sebuah terobosan baru yaitu menyediakan kesempatan bekerja bagi para tunanetra. Nah kita berpikir, apa yang bisa kita buat supaya kita bisa melibatkan teman-teman tunanetra lainnya daripada mereka "menganggur", nggak ada pekerjaan, pemasukan. Lha kita punya ide untuk menciptakan kelompok kerja membatik," terangnya.



Ditemui MalangTIMES di Omah Difabel II, yang berada di kawasan Perumahan Puncak Tidar AE 40 Kota Malang, ia bersama salah satu rekannya mempraktikkan cara proses dari pembuatan batik yang dibuat.

Mulai dari melipat kain, hingga menentukan pola-pola yang akan dipakai sampai tahapan pewarnaan, penjemuran dan terakhir menjadi kain batik dengan aneka warna yang cantik. Tentunya tidak kalah dengan batik pada umumnya.

Pendiri Adi Gunawan Institude ini menyebut, cukup panjang proses yang dilalui penyandang tunanetra ini hingga bisa membuat hasil karya batik.

Apalagi, dengan kondisi sebagai penyandang tunanetra yang tidak sama dengan orang pada umumnya. Karena tidak bisa mengenal informasi visual sama sekali.

Artinya, mereka benar-benar dilatih untuk akhirnya bisa mempraktikkan cara pembuatan batik yang mudah diterapkan bagi penyandang tunanetra, baik tunanetra total ataupun tunanetra low vision (ringan).

"Pertama proses persiapan bagi teman-teman tunanetra sangat panjang. Harus dipersiapkan dari segi orientasinya, mereka nanti meraba kain bagaimana, melipatnya bagaimana, lalu menggelarnya di lantai bagaimana. Itu persiapan yang panjang karena menyesuaikan dengan orientasi mobilitasnya," imbuhnya.

Para peserta yang telah tergabung dalam kelompok belajar membatik tersebut memulai dengan cara sederhana melalui kertas, sebelum akhirnya diterapkan di kain yang digunakan untuk membuat batik.



"Mereka belajar pola pengikatan, di sini ada beberapa macam yang harus dihafal dari satu pola ke pola lainnya. Nah kita sudah buat bagaimana agar pola itu lebih dimengerti dan dipahami oleh tunanetra dari semua ragam. Baik itu tunanetra total yang tidak bisa sama sekali, ataupun tunanetra low vision," jelasnya.

Nah, ketika mereka mensimulasikan ke kain maka harus sering dicoba dan diulang hingga dihafal semua pembentukan pola tersebut. Baru berikutnya menuju ke tahap pewarnaan, pelepasan ikatan dari pola, hingga penjemuran.

"Tingkat orientasinya ini lebih tinggi. Karena mereka akan diberi konsep warna, risikonya seperti apa dan seterusnya. Lalu, mereka baru memasuki tahapan yang lebih ringan seperti melepas ikatan, membantu membilas dan berjemur," ungkapnya.

Untuk motif sendiri, saat ini pihaknya telah menghasilkan 5 pola dan sudah dipasarkan. Nantinya, ke depan karena respons masyarakat cukup baik akan dibuatkan pola yang lebih banyak lagi agar bisa memenuhi permintaan pasar.

"Sudah ada lima yang diujicobakan dan berhasil. Target kita bisa membuat pola sebanyak mungkin agar batik yang dihasilkan teman-teman beragam. Supaya, banyak diminati oleh masyarakat luas," ujarnya.

Sejak diluncurkan Batik Netra ini, ia menilai respon masyarakat cukup baik. Nantinya, ia juga berharap hal ini bisa menjadi inspirasi bagi penyandang tunanetra lainnya agar bisa terlibat dalam program tersebut.

"Kami optimis, kami luncurkan Batik Netra harapannya ke depan bisa melibatkan teman-teman tunanetra lainnya yang ingin ikut terlibat dan belajar di sini. Saat ini baru sekitar 5-6 orang saja yang terlibat," katanya.

Lebih lanjut dalam Adi Gunawan Institute sendiri tidak hanya mewadahi bagi penyandang tunanetra untuk belajar membatik. Tetapi, juga banyak hal kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan yang bisa didapatkan.

"Jadi hal-hal terkait pelajaran seperti menggunakan teknologi akses komputer bicara, ponsel bicara. Lalu kegiatan-kegiatan lain seperti latihan musik, pelatihan lainnya seperti belajar braille, latihan orientasi mobilitas, meningkatkan kepekaan indera, meningkatkan kemandirian, lalu juga latihan komunikasi supaya mereka juga lebih lancar lagi dalam berkomunikasi dengan orang lain," tandasnya.