Ruslan Buton saat diamankan oleh aparat Kepolisian dan POM Mabes TNI AD di kediamannya, Kamis (28/5/2020). (Foto: Screenshots Video)
Ruslan Buton saat diamankan oleh aparat Kepolisian dan POM Mabes TNI AD di kediamannya, Kamis (28/5/2020). (Foto: Screenshots Video)

MALANGTIMES - Ruslan Buton yang merupakan pecatan anggota TNI Angkatan Darat akhirnya ditangkap oleh jajaran aparat kepolisian didampingi oleh dua orang pamen POM Mabes TNI AD Letkol Rus'an dan Letkol Denny di kediamannya yang berada di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, pada hari Kamis (28/5/2020) sekitar pukul 10.30 waktu setempat. 

Dilansir dari detik.com Kadispenad TNI AD Kolonel (Inf) Nefra Firdaus mengungkapkan bahwa Ruslan Buton telah dipecat dari satuan TNI AD. Karena Ruslan pernah melakukan penganiayaan hingga menyebabkan kematian terhadap salah seorang petani bernama La Gode di Taliabu, Ternate, Maluku Utara pada Bulan Oktober 2017. 

"Ruslan Buton dipecat dari TNI karena kasus pembunuhan La Gode medio Oktober 2017. Mantan perwira pertama di Yonif RK 732/Banau terakhir berpangkat kapten infanteri," ungkapnya, Sabtu (30/5/2020). 

Saat itu petani La Gode diamankan ke Kantor Pos Satuan Tugas Operasi Pengamanan Daerah Rawan Batalion Infanteri Raider Khusus 732/Banau (BKO) karena telah terbukti mencuri singkong parut yang merupakan milik dari masyarakat sekitar. 

Nefra menambahkan bahwa saat terjadinya penganiayaan tersebut, Ruslan bertugas menjadi Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau. Belasan oknum TNI yang bertugas pada saat itu juga didakwa mekakukan penganiayaan terhadap La Gode.

Selain kasus terdahulunya, baru-baru ini Ruslan diamankan oleh aparat terkait kasus surat terbuka yang mendesak mundur Presiden Joko Widodo dalam sebuah rekaman yang beberapa hari ini viral di media sosial. 

Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol. Ahmad Ramadhan mengungkapkan bahwa Ruslan telah mengakui bahwa suara yang terdapat dalam rekaman desakan mundur terhadap Presiden Joko Widodo adalah suaranya.

"Dari hasil pemeriksaan tersangka (Ruslan) mengakui bahwa benar suara rekaman yang beredar adalah milik tersangka yang dibuat pada 18 Mei 2020 menggunakan handphone tersangka," ungkapnya dalam Konferensi Pers yang disiarkan secara streaming di YouTube Tribrata TV, Jumat (29/5/2020).

Ahmad menambahkan, selain merekam sendiri pembicaraannya terkait desakan mundur terhadap Presiden Joko Widodo, Ruslan juga mengakui bahwa rekaman tersebut ia sebarkan melalui Whatsapp Group.

"Tersangka mendistribusikan rekaman tersebut ke dalam grup WA Serdadu Eks Trimatra. Pendalaman tentang peran RB akan dilanjutkan oleh penyidik Bareskrim Polri setelah RB tiba di Jakarta," imbuhnya. 

Pihak kepolisian juga telah mengamankan satu buah handphone dan KTP milik tersangka sebagai barang bukti penyidikan. Akibat ulahnya, Ruslan akan dijerat dengan pasal berlapis tentang keonaran dan juga Undang-Undang ITE.

"Tersangka RB dapat dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang dilapisdengan Pasal 28 ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana 6 tahun dan/atau Pasal 207 KUHP. Dapat dipidana dengan ancaman penjara 2 tahun," pungkas Ahmad.