Ilustrasi The New Normal. (Sumber: Tribunnews.com)
Ilustrasi The New Normal. (Sumber: Tribunnews.com)

MALANGTIMES - Hingga saat ini, belum ada penurunan kasus covid-19 di Indonesia. Beberapa daerah masih memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). 

Masyarakat juga masih diimbau di rumah saja untuk menghentikan penyebaran covid-19. Sudah berbulan-bulan lamanya orang-orang melakukan work from home (WFH). Siswa dan mahasiswa juga belajar dari rumah.

Baca Juga : New Normal Life Malang Raya, Kapolda dan Pangdam Akan Perkuat Kampung Tangguh

Namun baru-baru ini, pemerintah menggulirkan wacana new normal life atau kehidupan normal baru. Masyarakat diajak untuk hidup "berdamai" dengan covid-19.

New normal life adalah melakukan aktivitas normal dengan menggunakan standar protokol kesehatan covid-19, seperti sering cuci tangan, menghindari menyentuh daerah wajah, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker, dan menjaga jarak fisik maupun sosial atau physical-social distancing. 

Pakar komunikasi dan manajemen krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari SSos MKom PhD berpendapat, new normal life tanpa adanya sanksi yang tegas  bagaikan macan ompong. "Jika tidak ada sanksi tegas, maka peraturan tersebut seolah seperti macan ompong," tandasnya.

Sanksi tegas itu diperlukan karena tingkat kesadaran dan disiplin masyarakat kita masih rendah. Sementara, new normal life sendiri adalah tentang kesadaran dan disiplin. Masyarakat harus memiliki kesadaran dan disiplin dengan gaya hidup baru yang lebih fokus pada keselamatan dan kesehatan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. 

Nah, pemberian sanksi tegas ini akan membentuk masyarakat yang disiplin dan patuh terhadap peraturan.  "Contohnya penerapan peraturan pemakaian seragam di sekolah. Semua murid patuh karena ada sanksi tegas yang mengatur," ucapnya.

Pia menambahkan, penerapan sanksi jangan sampai transaksional karena akan sia-sia saja. "Kalau penerapan sanksi masih bersifat transaksional dan tidak tegas, masyarakat kita cenderung tidak akan patuh karena karakter masyarakat Indonesia yang masih suka ngeyel, sak karepe dewe, dan suka menawar," ucapnya.

Menurut Pia, ada beberapa lokasi yang berisiko dalam menerapkan new normal life. Yakni sekolah, mal, tempat wisata, dan panti jompo. Untuk itu, lokasi-lokasi tersebut harus sepenuhnya dididik dan diberdayakan di bawah konsep normal baru. Selain itu, sistem kesehatan harus disiapkan apakah sudah bisa melacak setiap kasus baru.

Baca Juga : PSBB Malang Raya Cukup Sekali, Persiapkan Masa Transisi 7 Hari Sebelum New Normal

Nah, new normal life sendiri harus disosialisasikan ke masyarakat luas sesuai karakteristiknya. Tujuannya agar mudah diterima masyarakat.

Pia mencontohkan bentuk sosialisasi bisa dilakukan lewat media komunikasi tradisional. Misalnya lewat pertunjukan wayang bagi masyarakat di wilayah pedesaan. Untuk masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan, sosialisasi bisa melalui media sosial.

"Agar konsep new normal bisa diterima masyarakat, maka sosialisasinya harus disesuaikan dengan kondisi demografis mereka. Sosialisasi kepada masyarakat desa tentunya bisa dilakukan dengan wayang. Dan sosialisasi masyarakat perkotaan bisa dilakukan lewat media sosial. Sedangkan untuk remaja (sosialisasi) bisa lewat tokoh idola dan panutan mereka," pungkasnya.