Unggahan dari peretas data warga Indonesia yang di retas dari data KPU dalam akun @underthebreach, Kamis (21/5/2020). (Foto: Screenshots cuitan pada akun twitter @underthebreach)
Unggahan dari peretas data warga Indonesia yang di retas dari data KPU dalam akun @underthebreach, Kamis (21/5/2020). (Foto: Screenshots cuitan pada akun twitter @underthebreach)

MALANGTIMES - Masalah kebocoran data kembali terjadi di Indonesia.

Terbaru, sebuah cuitan di Twitter mengungkapkan adanya kebocoran data dalam skala besar.

Peretas mengklaim bahwa dia telah mengantongi 2,3 juta data lengkap warga Indonesia yang disebut didapatkan dari data pemilih di KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Baca Juga : Hacker Jual Data Pelanggan Tokopedia, Pakar Keamanan Siber Ungkap Modus Operandinya

Hal itu pun baru diketahui setelah akun Twitter bernama @underthebreach mengunggah cuitannya pada hari Kamis malam (21/5/2020) sekitar pukul 21.31 WIB. 

Lima hari yang lalu, akun tersebut juga mengunggah bahwa Kelompok Dopple Ransomware meretas Ames True Temper, anak perusahaan Griffon Corporation (NYSE:GF) yang dibeli seharga $ 542.000.000 pada tahun 2010.

"Actor leaks information on 2,300,000 Indonesia citizens. Data includes names, addresses, ID numbers, birth dates, and more (Aktor (peretas) membocorkan informasi 2.300.000 warga Indonesia. Data termasuk nama, alamat, nomor ID, tanggal lahir, dan lainnya," tulis akun tersebut, Kamis (21/5/2020).

Terdapat 3 (tiga) unggahan foto yang menunjukkan forum hacker serta data lengkap warga Indonesia yang tampak disensor. 

Dalam unggahan tersebut terdapat keterangan bahwa data yang diretas merupakan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Tahun 2014 Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta yang disensor. 

"Very useful for those who need to make many phone number in ID (u need ID NIK and NKK to registration) or do some phone number mining from it ID, (sangat berguna bagi mereka yang perlu membuat banyak nomor telepon (Anda perlu NIK dan NKK untuk pendaftaran) atau melakukan beberapa penggalian nomor telepon dari ID itu," ungkap peretas dalam forum hacker.

Akun tersebut juga mengungkapkan bahwa data yang diperoleh, yakni data mulai tahun 2013 hingga saat ini. 

Selain itu, peretas dalam akun tersebut juga mengancam akan membocorkan segera 2 (dua) juta data tambahan.

Peretas dalam pengakuannya mendapatkan data warga Indonesia pada Daftar Pemilih Tetap 2014 berupa format PDF.

"This data is raw on pdf format. This data that i get from KPU, (Data ini mentah dalam format pdf. Data ini yang saya dapatkan dari KPU)," ungkapnya.

Baca Juga : Lebih Dekat dengan Para Caleg Lewat Aplikasi Info Caleg Buatan Mahasiswa Filkom UB

Hingga hari ini Jumat (22/5/2020) unggahan tersebut mendapatkan respons dari ribuan netizen yang meramaikan serta mengecam unggahan akun @underthebreach karena akan berakibat fatal terhadap warga yang terdapat dalam data tersebut.

Salah satunya dari akun @AlaricMikaelson yang mengungkapkan bahwa sangat bahaya jika data pribadi dari warga Indonesia tersebut tersebar.

Dan yang lebih bahaya lagi, jika data itu disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Ini data yg sangat2 penting, bisa jadi disalahgunakan. Yg paling bahaya data ini bisa buat verifikasi untuk data finansial. dana nasabah bisa kebobolan, bisa di buat registrasi ke pinjaman online dll," ujar akun tersebut.

Ada juga netizen dengan akun @ragilanasi yang meminta pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi serta tim Cyber Polri agar bergerak cepat dalam mengusut tuntas kasus peretasan data warga Indonesia ini, karena akan sangat merugikan banyak pihak.

"Tolong @kemkominfo @djikp @DivHumas_Polri @CCICPolri , konten ini urusi. Yg ngebocorin dilacak dan ditangkap kyk kasus WA kemarin," tulisnya.

Akun @underthebreach juga sempat mengulas terkait bentuk perubahan yang terjadi di Indonesia terdapat aktor-aktor di dalamnya. Terdapat 10 warga Indonesia yang disebut-sebut menjadi "Indonesian Deep State Actor" bahkan hingga di lingkup Asia Tenggara.