Karya media cetak buatan Rahmat Iskandar Rizki untuk mengisi waktu selama tak mudik Lebaran. (Foto: Dokumentasi pribadi Rahmat Iskandar Rizki).
Karya media cetak buatan Rahmat Iskandar Rizki untuk mengisi waktu selama tak mudik Lebaran. (Foto: Dokumentasi pribadi Rahmat Iskandar Rizki).

MALANGTIMES - Perayaan hari Lebaran tahun ini harus dilalui oleh masyarakat muslim di dunia dengan cara yang berbeda.

Pandemi covid-19 mengharuskan setiap orang untuk tak beraktivitas ke luar rumah. Termasuk tradisi mudik di Indonesia yang harus tak dilakukan demi mencegah penyebaran virus.

Namun, bukan berarti tak mudik lalu tak menjadi produktif. Rahmat Iskandar Rizki misalnya, yang membuat suasana jauh dari keluarga dengan mengalihkan ke beragam aktivitas.

Mahasiswa Juruan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengalihkan kesedihannya karena tak bisa mudik Lebaran dengan membuat karya.

"Dialihkan dengan banyak melakukan aktivitas. Seperti melukis, merajut dan mencetak media saya sendiri berupa zine atau fanzine yang kemudian bisa saya jual buat sekadar menambah pemasukan di masa pandemi covid-19 ini sehingga nggak terlalu ingat rumah," ungkapnya.

Pria asal Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, ini mengaku, saat ini tengah mengasah kemampuan dalam hal menulis. Yakni, membuat zine dengan beragam isi yang cukup menarik.

Mulai dari keresahan sehari-hari, alasannya selain mengisi waktu juga untuk menjaga kondisi dirinya agar tidak stress karena tidak bisa keluar rumah karena harus social distancing.

"Lumayan buat mengisi waktu, saya membuat zine itu merupakan salah satu cara yang saya lakukan dalam menjaga kewarasan selama pandemi. Isinya ya berupa kumpulan tulisan hasil keresahan-keresahan selama sosial distancing, tapi nggak cuma karya pribadi ada juga zine kolektif yang saya buat bersama teman-teman," imbuhnya.

Bahkan selama pandemi covid-19 ini, ia menyatakan sudah membuat setidaknya 5 karya zine. Yakni zine aksara, zine tumpah kita, dan zine gacor (gara-gara coro-NAH!) volume 1-3.

Khusus untuk zine gacor ini, ia menyebut berisiperihal kondisi masyarakat yang harus membatasi interaksi sosial hingga dampak-dampaknya. Yang tentunya diolah dengan gaya bahasa sendiri.

Dan tidak lupa ditambah juga dengan desain-desain menarik yang melengkapi data dari tulisan yang ia buat serta quotes-quotes khusus bagi yang merasa bosan.

"Ya karena minimnya interaksi sosial, salah satu dampaknya rasa sepi. Pergolakan batin terus muncul. Kehidupan nyata beralih ke dunia maya. Maraknya maling karena ekonomi susah. Ya seputar itulah Mbak. Tapi saya bawakan dengan cara saya sendiri," kata pria berusia 24 tahun ini.

Lebih lanjut, karya-karya yang dibuatnya tak hanya berhenti sampai di situ saja. Ke depan ia bakal melanjutkan project zine bersama para rekannya.

Semacam karya kolektif, di antaranya, zine aksara, zine tumpah kita, dan zine piyama. Setiap karya yang dibuatnya dipasarkan mulai dengan rentang harga Rp 15- Rp 20 ribu.

"Nah, karena selama corona ini, waktu luang saya banyak. Ketimbang suntuk dan nggak ngapa-ngapain, akhirnya saya tumpahkan hasil keresahan itu ke bentuk zine ini. Ya, semacam media literasi dalam bentuk DIY gitu. Nanti juga project kolektif bersama teman-teman akan dilanjutkan lagi," tandasnya.