Salah satu sudut jalanan di Kota Malang yang banyak tumbuhan dan sedang sepi kendaraan (Hendra Saputra)
Salah satu sudut jalanan di Kota Malang yang banyak tumbuhan dan sedang sepi kendaraan (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Masa pandemi Covid-19 membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang tetap menganjurkan masyarakat  melakukan penghijauan di rumah masing-masing. Supaya nantinya jika aktivitas kembali normal, suhu udara di 'Bhumi Arema' tetap stabil.

Kota Malang saat ini masih tetap dijuluki kota pendidikan karena banyak perguruan tinggi mulai dari perbatasan kota hingga tumbuh di tengah kota.

Baca Juga : Gas Buang Berkurang, DLH Kota Malang Sebut Malang Cukup Nyaman

Karena tumbuhnya beberapa perguruan tinggi ini, otomatis juga menarik mahasiswa untuk menuntut ilmu di Kota Malang, sehingga banyak sekali orang yang menggunakan kendaraan untuk beraktivitas setiap harinya.

Dari aktivitas itu, muncul gas buang dari kendaraan yang digunakan masing-masing orang, sehingga hal itu juga mempengaruhi udara yang ada di Kota Malang.

Tapi semenjak pandemi Covid-19,  tidak banyak masyarakat di Kota Malang yang menggunakan kendaraan karena mengikuti anjuran pemerintah dengan berada di rumah.

Hal itu sangat berpengaruh kepada kualitas udara di Kota Malang yang semakin baik. Meski begitu, DLH Kota Malang tetap mengimbau kepada masyarakat agar bisa melakukan penghijauan di sekitar rumahnya untuk mengantisipasi aktivitas kembali dengan normal.

"Artinya sebenarnya masih ada waktu, untuk Kota Malang memperbaiki diri. Memang cara yang paling efektif lewat daya serap karbon, lewat ruang terbuka hijau atau penghijauan," ujar Kepala DLH Kota Malang, Rinawati.

"Jadi karbon itu hanya bisa diserap oleh tanaman, ketika tanaman-tanaman besar mungkin digalakkan, dibanyakin hutan kota di tingkatkan terus, InsyaAllah ini bisa menyerap karbon," sambungnya

Baca Juga : Tak Ada Seremoni Peringatan Hari Bumi, DLH Kota Malang Tetap Bekerja untuk Bumi

Rinawati mengusulkan, daerah aktif seperti Dinoyo, Ahmad Yani dan lainnya bisa memanfatkan momen Covid-19 dengan berbuat positif. Artinya, dalam hal ini untuk membenahi wilayah masing-masing sehingga berdampak kepada Kota Malang secara umum.

"Selama ini kita memang masih kurang untuk daya serap karbon, bukan angka yang besar sekali, karena kalau beberapa jenis vegetasi itu juga mampu menyerap besar, khususnya didaerah-daerah padat penduduk, seperti daerah Ahmad Yani, daerah Dinoyo itu padat sekali. Kalau di situ dibanyakin tanaman penyerap karbon, InsyaAllah kita bisa, ya mendekati zero karbon," pungkasnya.