Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Perang Badar menjadi salah satu perang terbesar yang dimenangkan umat muslim. Saat itu, salah seorang pemimpin terbesar kaum Quraisy, yaitu Abu Jahal, berhasil dibunuh setelah kepalanya dipenggal Abdullah bin Mas’ud ra.

Sebelum kepala Abu Jahal dipenggal Abdullah bin Mas’ud ra, ada dua orang remaja berusia belasan tahun yang terlebih dulu menyerang Abu Jahal. Kedua remaja pemberani itu adalah Mu’adz bin Afra ra dan Mu’awwidz bin Afra. Keduanya merupakan saudara kandung yang masih berusia belasan tahun saat mengikuti peperangan tersebut.

Baca Juga : Wafat Lantaran Wabah Penyakit Menular, Sahabat Rasulullah Ini Telah Dijamin Masuk Surga

Dr Khalid Zeed Abdullah Basalamah Lc MA atau lebih dikenal sebagai Ustaz Khalid Basalamah dalam sebuah kesempatan menyampaikan, dua remaja itu sempat menggelorakan semangatnya ketika perang hendak dimulai.

Semangat menggelora itu telah diceritakan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Abdurrahman bin Auf ra, dan telah diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih.

Dalam kisah itu, disampaikan bahwa kedua pemuda itu berdiri di kanan dan kiri Abdurrahman bin Auf ra. Pemuda pertama, yaitu Mu’adz bin Afra ra, terlebih dulu mendatangi Abdurrahman bin Auf  dan bertanya, "Paman, mana yang namanya Abu Jahal?"

Lalu Abdurrahman Bin Auf kembali bertanya kepada pemuda itu, "Kenapa kau mencari Abu Jahal?"

Kemudian remaja itu menjawab, "Saya dengar dia orang yang paling suka menyakiti hati Rasulullah SAW di Makkah. Benarkah?"

Abdurrahman pun membenarkan pertanyaan itu. Tak disangkan, Mu’adz bin Afra pun menyampaikan kepada Abdurrahman bahwa dia akan membunuh Abu Jahal.

Abdurrahman saat itu menyampaikan kepada Mu'adz bahwa ketika ada Abu Jahal, maka ia akan akan memberi tahu remaja tersebut.

Tak lama datang adik Mu'adz, yaitu Mu’awwidz bin Afra. Saat itu, adik Mu'adz itu menyampaikan pertanyaan yang sama.  Yakni menanyakan keberadaan Abu Jahal. Abdurrahman bin Auf kemudian memberikan jawaban yang sama dengan pertanyaan Mu'adz.

Ternyata, beberapa saat kemudian terlihat Abu Jahal yang tengah duduk di atas kuda lengkap dengan baju besi. Hanya kedua matanya yang terlihat dari kejauhan. Selain itu, Abu Jahal dikelilingi  10 pasukan berlapis.

Ketika Abdurrahman melihat Abu Jahal, maka ia berkata pada Mu'adz dan Mu’awwidz, "Itu Abu Jahal."

Baca Juga : Raisa Tanya Fungsi Bulu Ketek, Cuitan Lawas Viral Gara-Gara Reaksi Tak Biasa Warganet

Lalu Muadz dan Mu’awwidz pun seperti dua anak panah yang melesat lepas dari busur. Keduanya lari menembus 10 barisan pasukan yang mengelilingi Abu Jahal dan menebas musuh tanpa ampun.

Hingga akhirnya keduanya sampai di hadapan Abu Jahal. Keduanya menebaskan pedangnya pada kaki kuda dan paha Abu Jahal hingga mengakibatkan Abu Jahal terjatuh dan tersungkur.

Mu’awwidz yang berhasil menyayat paha Abu Jahal itu kemudian tak bisa lepas dari senjata para penjaga Abu Jahal sehingga membuatnya gugur secara sahid.

Sedangkan saudaranya, Mu'adz, berhasil melarikan diri dari kepungan musuh dengan satu tangannya yang terluka parah dan hampir putus. Mu'adz kemudian mengikat tangannya dengan ikat kepalanya lalu kembali masuk pada medan perang.

Namun dia merasa terganggu dengan tangannya yang hampir putus itu. Kemudian ia kembali ke luar dari medan perang dan menginjak tangannya yang hampir putus dengan kakinya. Kemudian ditariklah lengannya hingga membuat tangannya itu terputus.

Dia pun kembali ke dalam medan perang dengan hanya menggunakan satu tangan. Tak sedikit pun rasa takut yang dia tunjukkan  dalam peperangan. Hingga kemudian remaja itu dikabarkan gugur secara sahid, menyusul saudaranya yang terlebih dulu gugur.

Keberanian dua remaja bersaudara itu, menurut Ustaz Khalid Basalamah, menunjukkan betapa besarnya rasa cintanya kepada Islam. Pada masa perjuangan dulu, para pemuda begitu gagah berani maju membela ajaran Islam.

Padahal, usianya masih sangat belia. Namun mereka sama sekali tak menunjukkan rasa takut.