"Color of Sunset at Watu Leter Beach" photograhed by Esap Yuwono
"Color of Sunset at Watu Leter Beach" photograhed by Esap Yuwono

MALANGTIMES - Cakrawala sedang melamun pagi itu. Ia membuka pintu gerbang khayalannya untuk sekedar jatuh pada biru yang membahana dan gemerlap cermin lembayung. Tak ada lagi pertanyaan menyoal keberadaannya. Eksistensi menguap menjadi ambisi yang langut-langut hilang ditelan ilusi.

Baca Juga : Cakrawala Yang Melamun

Jika Alice memulai semuanya dengan terjatuh, Cakrawala mengawalinya dengan mengambang. Ia berenang-renang di udara tapi bernapas di dalam tanah. Raganya kini berganti wujud dengan sesuatu yang lebih ringan dan menyala. Jiwanya berpendar jingga. Imajinasi, tuan! Hati-hatilah karena ia bisa menggiringmu ke mana saja!

Cakrawala menapakkan tangannya di atas air. Di alam yang satu ini tak ada yang berjalan dengan kaki. Semua seolah terbalik meski tiada berbalik. Emosi adalah sesuatu yang asimetris, begitu pula dengan perasaan, bisiknya. Tidak tahu siapa yang berbisik, yang jelas bukan Cakrawala.

Kamu tidak duduk di atas kursi apalagi bersila dengan lututmu sendiri. Mengapa kelelahan dengan tradisi ketika fisika bisa menyelesaikannya dengan mudah. Dunia ini memang biangnya solusi. Di sinilah jagad raya yang kasat mata mati setelah mengalami erosi yang ditindak sepenuhnya oleh untaian pemikiran. Demikianlah ceritanya sehingga logika pun diasingkan lalu dijatuhi hukuman untuk tinggal di tingkat terbawahnya.

Lamunan Cakrawala memang layaknya racau yang berderap sedemikian kencang tapi juga tidur sedemikan tenang di saat yang sama. Cakrawala bisa berada di sini sekaligus di sana. Esensi telah menemukan tempatnya yaitu di mana saja, lepas dan bebas dari ruangan dan waktu serta sebuah pertanyaan tentang apakah kamu mau membersamaiku. Redamlah panasnya.

Cakrawala menemukan dirinya mendadak mendaki naik turun gunungan buku-buku tua yang usang. Bisakah kita membakarnya dengan sebatang korek api? Tanyanya kepada diri sendiri. Ah! Disini api tidak membakar kertas, ia malah akan mengisinya dengan lembar-lembar yang baru. Menambah semarak lewat kegilaan yang membara.

Sedikit lagi setelah terus berjalan, ia menemukan layang-layang paling raksasa yang pernah ia temui. Benda itu terkubur di kedalaman lautan. Konon, layang-layang itu rusak setelah berusaha mencumbu angkasa untuk menyaingi awan-awan. Cakrawala bisa merasakan kepedihan yang mengalir sederas pelangi. Empati selalu datang di saat yang janggal.

Hampir ada terlalu banyak waktu untuk terlalu singkat rasa. Pendar-pendar kembang api membuat lompatan indah di udara bebas seperti lumba-lumba lautan lepas. Ini hanyalah metafora dari cinta yang tak menemukan kata. Cakrawala melamun dalam khayal dan dia akan melakukannya lagi dan lagi sampai lembaran kertas kosong terisi oleh kisah yang belum pernah terjadi.

Ya! Cakrawala melamun lagi pagi itu. Tapi, kali ini dia tidak membuka lebar-lebar pintunya. Ditinggalkannya sedikit celah kecil supaya sihir bisa keluar dari sana dan menemukannya di sudut-sudut paling gelap kehidupan nyata.

 

Profil Penulis:  Tika Widya

Tika Widya adalah seorang penulis wannabe yang sekarang sudah already.

Baca Juga : Cakrawala Yang Melamun

Menulis dengan cakar ayam sejak tahun 1987 lalu menggantinya dengan komputer di tahun 2000. 

Temukan Tika yang melulu sibuk merajut kata-kata hanya di komunitas Labirin Perempuan