Ilustrasi krisis ekonomi. (Foto: istimewa)
Ilustrasi krisis ekonomi. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Industri pariwisata menjadi sektor yang paling babak belur dihantam pandemi Covid-19. Wabah ini membuat para pelaku pariwisata banyak kehilangan mata pencaharian. Banyak bisnis yang terancam tutup akibat adanya pembatasan perjalanan dan pemberlakuan lockdown di banyak negara di dunia.

Pandemi global Covid-19 ini telah menyebabkan perekonomian kembali berhadapan dengan krisis. Pelaku pariwisata merasakan, krisis akibat Covid-19 ini jauh lebih buruk dari Krisis Moneter 1998. Bahkan, belum lama ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga sempat menyatakan bahwa krisis yang diakibatkan virus corona saat ini jauh lebih kompleks dibanding krisis 1997-1998 dan 2008-2009.

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

Salah satu pelaku pariwisata mengaku sampai harus menjual asetnya untuk menghidupi karyawan. "Untuk menghidupi karyawan, saya menjual aset saya. Lebih baik saya yang jadi korban utama daripada mereka. Karena mereka kan kehidupannya 100% di kantor saya," ungkap Immanuel Ustradi Osijo, Pengelola Kirana Tour and Travel.

Immanuel yang juga merupakan Pengajar di Universitas Ciputra Surabaya tersebut bahkan sampai mengungkapkan, Krisis Moneter 1998 tidak ada apa-apanya dibandingkan krisis akibat Covid-19 ini.

"Dengan krisis 98 (pada tahun 1998) nggak ada apa-apanya. Kami 98 masih bisa jalan, masih bisa eksis. Tapi yang krisis sekarang sama sekali nggak jalan. Sama sekali," kata pengajar Jurusan Hospitality Tourism Business Fakultas Pariwisata tersebut.

Immanuel yang sudah membuka usaha travel ini sejak tahun 1997 menyatakan, berbeda dengan krisis saat ini, pada saat krisis 1998 dirinya masih bisa menambah aset.

Kepada media ini, dirinya menyatakan akan terus menjual asetnya sampai semua habis. Immanuel juga sudah menyampaikan ke para karyawannya yang berjumlah hampir 40 karyawan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk tetap bertahan.

"Sampai habis-habisan kalau boleh dikata. Yang penting begitu habis mereka tahu ya sudah, kita sama-sama habis," timpalnya.

Kondisi ini menyebabkan Immanuel memberikan sistem bekerja secara bergantian kepada karyawannya. Misal si A hari ini masuk maka ia besok libur dan lusa masuk lagi.

Perkara gaji, Immanuel tidak mengurangi gaji pokok karyawan. THR karyawan juga akan dia penuhi.

"Saya nggak mau egois. Sebagai pimpinan, saya harus betul-betul membela karyawan sekuat saya. Jangan sampai menjelang lebaran mereka nggak dapat THR, tidak dapat gaji," ujarnya.

Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19

Namun demikian, uang kehadiranlah yang terpaksa Immanuel kurangi. Apabila biasanya uang kehadiran penuh 25 hari, kini hanya 12 hari sampai 13 hari saja.

"Karena nyaris mulai pertengahan Maret kemarin sama sekali tidak ada pemasukan apapun," ucapnya.

Sejak pertengahan Maret, mulai dari tiket pesawat, sewa alat transportasi, kemudian perjalanan wisata dikatakannya kosong. Yang masih ada permintaan hingga saat ini hanya perjalanan ke Bandara Juanda.

"Setiap hari masih ada 1 sampai 3 mobil yang masih jalan kalau untuk perjalanan ke bandara. Tetapi kalau untuk perjalanan wisata sama sekali tidak ada," katanya.

Ia menambahkan, berbeda dengan ojek online (ojol) yang masih bisa bekerja walaupun pendapatan berkurang, pemasukan para pelaku pariwisata betul-betul berhenti.

Sementara karyawan Immanuel yang di kantor saat ini bekerja dengan melakukan broadcast dan share hal-hal menarik untuk pelanggan yang bertujuan memberitahu bahwa usaha travelnya masih eksis.

"Intinya kita nggak mau terseret dengan keadaan yang seperti ini. Boleh dikatakan kita eksis walaupun di belakangnya kita habis-habisan," tandasnya.