Dalam sekretariat Omah Difabel Lawang, para penjahit difabel dan masyarakat non-difabel sedang melakukan produksi masker kain dan hazmat.
Dalam sekretariat Omah Difabel Lawang, para penjahit difabel dan masyarakat non-difabel sedang melakukan produksi masker kain dan hazmat.

MALANGTIMES - Di tengah mewabahnya pandemi Covid-19 dan kebijakan Work From Home (WFH), Omah Difabel Lawang yang dikelola Yayasan Lingkar Sosial Indonesia tetap produktif dengan melakukan produksi masker kain dan Hazmat untuk memenuhi pesanan para konsumen.

Kertaning Tyas selaku Ketua Pembina Lingkar Sosial Indonesia menuturkan bahwa terdapat kerja sama antara Omah Difabel dengan PKRS RSJ. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

"Aktivitas Omah Difabel, saat ini bekerja sama dengan PKRS RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat memproduksi masker filter tiga lapis," tuturnya kepada pewarta, Selasa (7/4/2020). 

Selain produksi masker kain, Omah Difabel juga terus melakukan produksi hazmat atau baju dekontaminasi. Baju tersebut biasa digunakan sebagai Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh petugas pemadam kebakaran, peneliti, serta tenaga kesehatan yang rawan terkontaminasi zat beracun atau virus menular.

"Termasuk saat ini produksi hazmat digunakan tenaga kesehatan dalam penanggulangan persebaran Covid-19," ujar Kertaning Tyas.

Kertaning Tyas menjelaskan, dalam pengerjaan produksi masker kain dan baju hazmat, Omah Difabel Lawang membuka peluang kerja dengan mempekerjakan 20 orang pekerja untuk menambah penghasilan di tengah wabah pandemi Covid-19.

"Saat ini terdapat 20 penjahit yang bermitra dengan Omah Difabel Lawang. Sekitar 50 persen di antaranya adalah difabel, selebihnya non difabel yang merupakan masyarakat sekitar," jelasnya. 

Hingga sampai hari ini (8/4/2020) Omah Difabel Lawang juga terus membuka peluang kerja kepada para Difabel, Orang tua ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), serta masyarakat sekitar agar semua merasakan manfaat yang didapatkan di tengah wabah pandemi Covid-19.

Menurut penuturan Kertaning Tyas, spek yang digunakan untuk masker kain dan hazmat telah sesuai standar dan ditambahkan penerapan bio security.

"Masker kain filter tiga lapis, terdiri dari dua kain katun pelindung dan satu filter dari bahan nowoven. Kain katun membuat nyaman penggunanya, sedangkan filter efektif memghambat paparan debu, bakteri dan virus," tuturnya. 

Sedangkan untuk spek produk dari hazmat yang tengah di produksi oleh Omah Difabel Lawang juga memenuhi spek standar. 



"Sedangkan hazmat atau pakaian dekontaminasi terbuat dari kain parasut. Ringan dipakai dan tidak tembus air, utamanya droplet atau percikan cairan tubuh. Pakaian bisa digunakan 3 hingga 4 kali setelah melalui proses pencucian," jelasnya. 

Mengenai harga, Omah Difabel Lawang menerapkan harga yang terbilang masih normal dengan mempertimbangkan harga bahan dasar yang tidak jarang mengalami naik turun yang tidak pasti.

"Satu pack masker kain filter isi lima pcs dijual seharga Rp 40.000, sedangkan Hazmat seharga sekira Rp 165.000, per unit. Harga bisa fluktuatif dipengaruhi harga material di pasar," beber Kertaning Tyas. 

Kertaning Tyas menyebutkan hingga sampai saat ini Omah Difabel Lawang telah menerima pesanan yang tengah dalam tahap produksi masker kain dan baju Alat Pelindung Diri (APD) berupa hazmat.

"Pesanan masker kain dari jaringan PKRS RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang sekitar 700 pcs. Pesanan hazmat dari jaringan relawan sejumlah 400 pcs," sebutnya. 

Untuk pengerjaannya sendiri, Kertaning Tyas menuturkan bahwa dalam memproduksi 700 masker kain dan 400 hazmat akan dapat diselesaikan kurang lebih dalam waktu tujuh hari. Untuk mempercepat pengerjaan, Omah Difabel Lawang membuka terus peluang bermitra agar cepat tersalurkan untuk yang membutuhkan. 

Lingkar Sosial Indonesia yang mengelola Omah Difabel Lawab berharap agar mendapat dukungan dari Pemerintah untuk membangkitkan UKM (Usaha Kecil Menengah) di tengah wabah pandemi Covid-19.

"Di antaranya bisa melalui tender atau penunjukkan pengadaan APD yang memprioritaskan kelompok kerja difabel, kelompok kerja masyarakat dan usaha-usaha rumahan," ujar Kertaning Tyas.

Selanjutnya juga berharap kepada seluruh masyarakat agar tidak panik dan terus melakukan upaya Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS), serta untuk menjalankan kebijakan Pemerintah terkait penggunaan masker saat keluar dari rumah yang juga terdapat gerakan #MaskerUntukSemua.