Stok gula pasir yang ada di salah satu gudang distribusi di Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Stok gula pasir yang ada di salah satu gudang distribusi di Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Semenjak adanya kabar terkait mewabahnya virus corona di Indonesia, membuat beberapa harga sembako termasuk di Kabupaten naik.

Salah satunya adalah sembako jenis gula pasir.

Berdasarkan data yang dihimpun Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Kabupaten Malang, secara kuantitas jumlah produk gula pasir di Kabupaten Malang dipastikan aman selama beberapa bulan kedepan. 

Namun dari segi harga di pasaran, harga jual gula pasir mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

”Gula memang dilaporkan masih ada 4.666 ton di Kabupaten Malang seluruhnya, cuman akan kita cek lagi di gudang karena sepertinya sistim distribusi perlu dievaluasi lebih lanjut,” kata Kepala Disperindag Kabupaten Malang, Agung Purwanto saat menyikapi naiknya harga gula pasir di Kabupaten Malang.

Agung menambahkan, dengan jumlah stok yang mencapai 4.666 ton tersebut, diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan gula pasir hingga paska lebaran idul fitri. 

”4.666 ton bisa untuk 6 bulan, tapi kalau kebutuhan di Kabupaten Malang jika di rata-rata kemungkinan bisa jadi hanya sampai lebaran. Terlebih dalam waktu dekat ini akan ada buka giling di Kerebet (Pabrik Gula) sehingga dipastikan pasokan gula aman,” ungkapnya.

Di sisi lain, dari hasil sidak di pasar tradisional dan gudang distribusi sembako yang dilakukan tim gabungan dari Polres Malang dan Disperindag Kabupaten Malang, Rabu (18/3/2020). 

Harga gula pasir memang mengalami peningkatan.

Terpantau dari yang sebelum adanya kabar virus corona, harga gula pasir di pasaran dibandrol sekitar Rp 12 ribu. 

Pada hari ini (Rabu 18/3/2020) petugas gabungan yang melakukan sidak, menemukan harga gula pasir meningkat hingga dikisaran harga Rp 16.500.

”Kenaikan harga masih wajar, tapi tetap menjadi atensi nasional. Kami (Disperindag) akan segera berkoordinasi dengan pemerintah Provinsi (Jawa Timur) guna menstabilkan harga gula,” jelas Agung.

Dijelaskan Agung, kenaikan harga gula pasir dinyatakan tidak wajar jika mengalami kelonjakan harga mencapai 20 persen dari harga normal. 

Jika hal itu terjadi, maka pemerintah akan mengambil langkah oprasi pasar seperti yang sebelumnya sudah pernah dilakuakn. 

Yakni dengan menjual gula sesuai dengan harga jadi, sehingga nilai jualnya dipastikan lebih murah dari yang ada di pasaran.

”Jika sampai terjadi panic buying dengan kenaikan harga diatas 20 persen, mungkin jalan paling cepat adalah oprasi pasar. Kemarin lakukan oprasi pasar gula dari stok provinsi hanya setengah ton bisa habis dalam 1 jam, saat itu kami jual untuk umum dengan harga Rp 11.500. Ini salah satu instrumen untuk menstabilkan harga,” ujarnya.

Minimnya pendistribusian gula yang diperkirakan menyebabkan harga naik tersebut, juga dibenarkan oleh Candra selaku Pemilik PT Pangan Argo Lestari.

Saat ditemui pada Rabu (18/3/2020), pemilik gudang distribusi sembako yang ada di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang ini mengaku jika pasokan gula ditempatnya memang sangat terbatas.

Meski tidak bisa menjelaskan secara rinci terkait jumlah stok miliknya, namun pihaknya memprediksi jika pasokan gula hingga lebaran idul fitri masih aman.

”Untuk gula impornya memang belum masuk, jadi ya agak menipis. Saat ini informasinya proses distribusi sudah dalam perjalanan, kalau cepat pasokan hari raya bisa aman,” pungkasnya.