MALANGTIMES - Kebijakan meliburkan kegiatan sekolah di Kabupaten Malang karena antisipasi penyebaran corona, berdampak pada ketersediaan darah. Hal itu dikarenakan pasokan stok darah banyak berasal dari kalangan pelajar.
Baca Juga : Lagi, 1 Warga Kota Kediri Terkonfirmasi Positif Covid 19
Sekretaris PMI Kabupaten Malang, Aprillijanto menjelaskan diliburkannya sekolah berdampak pada pasokan darah. Pasalnya, dari catatan PMI Kabupaten Malang, kalangan pelajar menjadi salah satu kategori pendonor tertinggi.
”Prosentase pendonor darah terbanyak nomor satu kalangan masyarakat umum yang jelas, baru kedua itu pelajar, dan yang ketiga ASN (Aparatur Sipil Negara),” ungkap Aprillijanto.
Menurut Aprillijanto, dalam sebulan darah yang ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan ditaksir mencapai kisaran 2 ribu kantong. ”Kalau satu bulan butuh 2 ribu kantong, berarti satu tahun butuh minimal 24 ribu kantong. Bahkan untuk tahun 2019, kemarin itu butuh 25 ribu kantong. Satu kantong darah memiliki kapasitas sekitar 300 mili liter,” terangnya.
Sejak kemarin (Senin 16/3/2020), lanjut Aprillijanto, stok darah yang ada di PMI Kabupaten Malang sementara terpantau aman. Namun semenjak adanya isu virus corona yang mewabah di Kabupaten Malang, menyebabkan minat dari pendonor berkurang drastis.
”Dengan membatasi pelajar beraktivitas (diliburkan), otomatis menyebabkan jumlah pendonor juga semakin sedikit,” ungkap Aprillijanto kepada media online ini.
Baca Juga : Telusuri Orang Terdekat Pasien Konfirm ke-2 Covid-19 di Kota Batu, Hasilnya Negatif
Terbukti, sejak hari Senin (16/3/2020) ada empat agenda donor darah yang dilakukan PMI Kabupaten Malang, terpaksa dibatalkan. Sebab, warga merasa khawatir jika mendonorkan darah mereka bakal tertular virus corona.
”Kami kurangi mulai hari ini (Selasa 17/3/2020) jadi satu kegiatan (donor darah) saja. Soalnya warga banyak yang takut tertular virus corona, padahal donor darah tidak ada pengaruhnya dengan itu. Sampai saat ini belum terbukti apakah donor darah bisa menyebabkan terinfeksi virus corona, bahkan penularan melalui darah juga belum terbukti,” tegasnya.
Guna mengantisipasi kemungkinan terburuk tersebut, Aprillijanto mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Malang. Dimana, dalam usulannya pihaknya meminta kepada pemerintah agar membuat kebijakan untuk mewajibkan ASN mendonorkan darahnya.
”Kalau kita hitung ASN kita ada sekitar 12 ribuan, kalau satu orang donor setahun 2 kali saja sudah 24 ribu kantong. Kalau langkah ini bisa maksimal, dari ASN saja kebutuhan pasokan darah selama 1 tahun sudah terpenuhi,” tutup Aprillijanto.
