MALANGTIMES - Banyak sekali cafe-cafe yang berdiri di Kota Malang dengan kekhasan dan keunikannya masing-masing. Mulai desain modern hngga mengingatkan pengunjung pada tahun 1990. Suasana mengingat zaman 'cadul' itu terlihat di cafe Mesin Waktu.
Ketika masuk ke cafe itu, para pengunjung langsung dibuat teringat masa-masa 90-an. Ruangan cafe yang didominasi dengan desain interior berwarna cerah, membuat suasana masa kecil mulai terasa. Apalagi ketika sudah memesan menu yang disediakan.
Sembari menunggu hidangan yang dipesan, para pengunjung mulai disuguhkan makanan pembuka berupa jajanan anak-anak di tahun 90-an seperti mi lidi, coklat koin emas, coklat payung, permen susu. Hal itu bisa dinikmati secara gratis untuk pengunjung.
Tidak hanya itu saja, pengunjung juga seakan diajak untuk bermain permainan seperti ular tangga, Kipas Kertas, Kertas Lipat, Gangsing, Monopoly dan Game Portable kuno atau sering dikenal dengan Gimbot. Selain itu, seluruhnya bisa dimainkan di tempat itu, ada pula yang bisa dibawa pulang. "Itu bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Gratis," cetus salah satu sang pelayan.
Menurut Reynaldi Angga, pemilik cafe itu, ide dan konsep cafe itu datang dari rasa kerinduannya terhadap masa kecilnya dulu. "Sekarang kan kalau kita lihat anak-anak kecil saja mainnya udah Gadget, yang seumuran saya saja juga belum tentu inget permainannya dulu," kata pria yang juga masih menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya (UB) semester sembilan itu.
Reynaldi mengisahkan, bahwa belum adanya cafe dengan konsepnya sejenis dengan milikinya. "DI Kota Malang, belum ada konsep cafe seperti ini. Makanya, saya lahirkan di sini," akunya sembari memberi tahu jika cafe miliknya baru berdiri empat bulan. Cafe itu berlokasi di Jalan Mayjen Panjaitan Nomor 64 A. Cafe itu mulai buka pada pukul 12.00 WIB hingga 24.00 WIB.
Sementara itu, menurut pengakuan Ridwan Effendy (21), salah satu pengunjung yang datang ke cafe itu, dirinya datang bersama teman-temanya ke cafe itu, karena tertarik dengan konsepnya. "Konsepnya sangat lusu. Pengunjung bisa bernostalgia ke masa kecil dulu," kata mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang sudah semester tujuh itu. (*)
