Pedangdut Inul Daratista
Pedangdut Inul Daratista

MALANGTIMES - SURABAYATIMES - Artis dan penyanyi dangdut, Inul Daratista sempat kesulitan mendapatkan anak. Dia sempat menunggu selama 15 tahun lamanya. Beruntung dia kemudian mencoba metode bayi tabung.

Namun, dia tak sekali saja mencoba itu. Sebelumnya, Inul sempat mencoba program bayi tabung di luar negeri, yakni Singapura tapi gagal.

Dan dia tak menyerah. Hingga akhirnya mencoba kembali di RSIA Ferina Kota Surabaya. Bersama sang suami, Adam Suseno, Inul Dartista berusaha keras untuk mendapatkan momongan ini.

Mencoba program bayi tabung dalam negeri ini Inul malah sukses. Dia kemudian hamil dan melahirkan anak bernama Yusuf Ivander Damares.

Minggu (8/3) Inul hadir di Surabaya dalam seminar dan bedah buku 'Mimpi yang Sempurna'. Saat itu dia berbagi tips agar sukses program bayi tabung. 


“Pada kesempatan kali ini, saya akui program bayi tabung yang saya lakukan sangat mudah dan tidak melalui proses rumit yang ditangani langsung oleh Dr. Aucky Hinting dan Dr. Hendro Pramono,” ujarnya di ruangan hotel, Grand Dafam.



“Ini merupakan program bayi tabung kedua saya yang dinyatakan berhasil. Sebelumnya saya pernah melakukan program ini di Singapura,” lanjut penyanyi bernama asli Ainul Rohma ini.

Keputusan untuk melakukan program bayi tabung ini menurut dia tidaklah mudah.

Inul Daratista mengaku, sempat berseteru dengan sang suami, Adam Suseno.  “Kala itu musim Pilkada, dengan jadwal saya yang sangat padat harus kampanye selama satu bulan full. Suami memutuskan untuk mempertimbangkan lagi melakukan program bayi tabung, tapi karena saya masih kuat dan siap akhirnya memutuskan niat untuk melakukan proses itu,” jelasnya. 

Dirinya berpesan, niat dan ikhtiar yang kuat didukung dengan tenaga medis yang ahli tidak akan tercipta keraguan untuk melakukan program bayi tabung. 


Sementara itu Dokter Spesialis Andrologi RSIA Ferina Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd (K) menambahkan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama menjadi penyebab infertilitas atau pasangan tak punya anak. 

“Sebetulnya nggak juga. Separuh perempuan, separuh laki-laki. Pemeriksaannya itu, perempuan itu datang, selama cadangan telurnya ada, masih bisa. Kemudian diperiksa virus, dan sebagainya. Kalau laki ada (diperiksa) sperma dan sebagainya. (Penyebabnya) bisa dari sperma dan sel telurnya,” ujarnya.

Dalam pemeriksaan kasus susah punya anak pun, pasangan tersebut harus datang berdua. Sebab, mereka menolak memeriksa hanya dari satu sisi saja.

“Sehingga harus berdua. Agar tahu masalahnya. Selama ini, kadang biasanya perempuan datang sendiri. Gak boleh, harus datang dengan suaminya. Karena kalau nggak bagus suaminya, mesti kita obati juga agar spermanya bagus. Karena kehamilan tergantung sperma dan sel telur,” pungkasnya.