MALANGTIMES - Film Mekah I'm Coming yang akan tayang di bioskop Indonesia 5 Maret 2020 besok kemungkinan akan menjadi salah satu film komedi terbaik di tahun ini.
MalangTIMES berkesempatan menonton film tersebut pada pemutaran spesial di Malang belum lama ini. Pemutaran perdana film ini sukses membuat tawa penonton pecah.
Baca Juga : Duet Dian Sastro dan Yura Yunita Saat di Rumah Saja, Warganet: Awet Mudanya Gak Ada Akhlak
Film ini dibintangi oleh Rizky Nazar dan Michelle Judith dan diproduseri oleh Hanung Bramantyo ini merupakan film pertama Jeihan. Namun, sutradara sekaligus penulis naskah tersebut sukses menyajikan humor-humor segar dan sama sekali tidak kering.
Film ini mengangkat isu fenomena muslim Indonesia yang gagal haji karena tertipu oleh agen travel abal-abal.
Kendati isunya yang cukup berat, Jeihan menyajikan kemasan yang sangat menghibur. Ia menyampaikan, dirinya sengaja membuatnya menjadi komedi, bukan drama, lantaran tidak ingin membuka luka lama bagi orang-orang yang pernah mengalami.
"Takutnya kalau misalnya nanti dibikin drama semakin menjadi-jadi malahan, makanya kami bersepakat bahwa ini harus dibikin komedi yang benar-benar bikin orang ketawa," ucapnya kepada MalangTIMES.

"Kalau orang nggak ketawa maka tidak akan berhasil mereka melupakan masa lalu mereka. Dan cara terbaik melupakan masa lalu ya ketawain aja," sambungnya.
Kasus calon jemaah yang tertipu travel haji ini sering terjadi di Indonesia dan cukup sering didapati di berita-berita maupun di media sosial.
"Kayaknya setahun dua kali kita mengalami itu. Indonesia sudah bertahun-tahun Indonesia mengalami hal kayak gini, yang ditipu haji lah atau mau umrah ketundanya jadi lama. Persoalan ibadah itu sudah kayak bertahun-tahun," bebernya.
Baca Juga : Di Rumah Aja, Deretan Aktris Indonesia 'Halu' Pasang Foto Bareng Aktor Korea Hyun Bin
Maka dari itu, Jeihan merasa dirinya harus membuat film mengenai fenomena tersebut. Naskah dibuat Jeihan bulan September 2018. Produksi dilakukan selama 10 bulan sejak Desember 2018.
Jeihan menyatakan, setiap orang punya cara pandangnya masing-masing terkait film ini. Namun, salah satu tujuannya memang adalah menghibur penonton.
"Kalau film ini dianggap sebagai film yang menurutnya sangat menghibur, sangat bikin ketawa, dan lupa sama urusan yang pusing-pusing saya senang juga. Kalau film ini dibaca sebagai film yang memberikan inspirasi saya juga senang. Kalau kemudian film ini dibaca sebagai film yang cukup kritis, membicarakan masalah agama, masalah sosial, kemanusiaan, saya juga senang. Saya menghargai setiap penonton dalam membaca film ini," tandasnya.
